
Malam ini seperti malam kemarin, Zulaikha dan Yusuf masih menikmati malam-malam yang indah. Mengarungi surga dunia dengan mengalunkan melodi syahdu yang membangkitkan gairah cinta mereka. Berapa lama mereka melakukannya? Jangan tanya author-nya saja tidak tahu karena sibuk ngetik.
"Sudah ya, Sayang. Cepat tidur agar besok tidak bangun kesiangan. Asiah sudah minta kita cepat kembali padanya," kata Yusuf dan bangun hendak melaksanakan mandi besar.
"Iya. Aku juga sudah capek. Gendong!" pinta Zulaikha sambil mengulurkan tangannya.
Mereka pun mandi di malam hari. Yusuf juga yang mengeringkan rambut istrinya. Sementara Zulaikha duduk di pangkuan suaminya. Yusuf juga yang membereskan tempat tidur.
"Ayo, cepat tidur!" Yusuf pun menarik Zulaikha dalam dekapannya.
"A~ng. Kapan kita honeymoon?" tanya Zulaikha.
"Sepertinya kita harus menunda acara itu, Sayang. Aku baru masuk kerja di tempat baru. Kamu juga belum menerima kelulusan dari sekolah. Sebaiknya kita pikirkan hal ini, nanti saja saat kita sudah benar-benar punya waktu untuk honeymoon. Apa kamu mau kita baru satu hari, sudah diminta pulang oleh Asiah?" Yusuf membelai-belai rambut yang wangi dengan sampho itu.
"Iya juga, ya! Aku hanya ingin banyak menghabiskan waktu bersama dengan suamiku ini, tanpa ada gangguan dari pihak manapun," kata Zulaikha sambil mengusap rahang suaminya.
"Jadi, acara honeymoon kita tangguhkan dulu," ujar Yusuf.
"Baiklah. Sebagai gantinya aku ingin makan malam romantis hanya berdua saja," balas Zulaikha sambil menatap pada Yusuf.
"Iya," kata Yusuf sambil memencet hidung mancung milik Zulaikha.
***
Setelah melaksanakan shalat Subuh dan mengaji sebentar. Bilqis pun mulai membersihkan apartemen itu. Biasanya akan ada seorang cleaning servis yang membersihkan apartemen ini seminggu sekali.
Meski apartemen ini terbilang luas tapi Bilqis bisa dengan cepat membersihkannya. Apalagi ada smart vacum cleaner yang membantu Bilqis. Hampir 2 jam Bilqis membereskan, mengepel, dan mengelap semua barang dan pajangan yang ada di sana.
Setelah itu dia sarapan karena lapar, dan tentu saja dengan menu mie instan. Dia sudah memperhitungkan pengeluaran untuk dua Minggu ke depan. Dia juga membutuhkan smartphone. Pastinya gaji bulan ini akan dia belikan barang itu. Meski beli yang harganya dibawah 2 juta. Baginya bisa untuk menelepon dan mengirim pesan.
Saat hendak berangkat kerja, pintu apartemen itu terbuka. Betapa terkejutnya Bilqis saat melihat William membawa banyak barang belanjaan.
"Assalamu'alaikum," salam William.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam," balas Bilqis.
"Maaf, aku kira kamu sudah berangkat. Aku malah main langsung masuk begitu saja, tanpa membunyikan bel terlebih dahulu." William meletakan semua barang belanjaan di atas meja makan.
"Tidak apa-apa, Mister. Anda bebas mau masuk ke sini kapan saja. Apartemen ini juga kan milik Anda," kata Bilqis masih menundukan kepala.
"Aku kepikiran sama kamu. Apa kamu punya uang? Lalu, kamu makan apa? Semalam aku baru sadar kalau tidak punya nomor ponsel kamu," ucap William.
Jantung Bilqis bergetar, muncul rasa haru karena ada orang lain yang peduli padanya. Dia tidak menyangka ada orang yang sudah menolongnya berkali-kali seperti ini.
"Terima kasih, Mister. Aku minta maaf karena selalu merepotkan Anda," ujar Bilqis dengan menahan tangisnya.
"Tidak apa-apa, aku melakukan ini semua karena kita diperintahkan untuk menolong sesama manusia. Apalagi, dengan menolong orang yang sedang kesusahan," balas William.
"Tapi, apa yang sudah Mister lakukan untuk saya, sudah sangat banyak. Rasanya jadi malu dan tidak enak karena terlalu sering merepotkan," pungkas Bilqis.
"Aku merasa tidak direpotkan," ujar William.
"Aku tidak tahu harus bagaimana mengucapakan rasa terima kasih kepada Anda yang sudah sangat terlalu baik kepada saya," kata Bilqis dengan suara yang mulai bergetar.
"Iya. Dulu saya mengajar di Yayasan Al-Huda. Guru yang mendampingi si Kembar, Rayyan dan Raihan," jawab Bilqis.
"Ya Allah. Pantas saja aku merasa tidak asing saat melihat kamu. Aku juga ragu mau menanyakan hal itu. Aku melihat kamu di sekolah si Kembar atau di kantor perusahaan," kata William.
Akhirnya Bilqis pun membereskan belanjaan yang dibawa oleh William barusan dan dibantu oleh si Bule. Bilqis memperkirakan kalau belanjaan itu lebih untuk satu bulan ke depan.
Saat Bilqis hendak membereskan tepung, gula pasir untuk di simpan di kabinet atas dapur. Ada kecoa yang keluar dari sana.
"Aaaahk!" teriak Bilqis dan langsung melompat ke atas William.
"Ada apa?" tanya William yang sangat terkejut karena tiba-tiba saja seorang gadis melompat kearahnya.
"Ada kecoa! Aku–" Bilqis jatuh tidak sadarkan diri, untungnya William dengan sigap menahan tubuh si gadis pemalu itu.
__ADS_1
"Hei, Bilqis. Sadarlah!" William menepuk-nepuk pipi yang tirus itu.
William pun membaringkan di atas sofa. Lalu mencari minyak angin di kamarnya. Untungnya masih ada di sana. Entah sudah kedaluarsa atau belum, yang penting itu minyak angin bisa buat orang cepat sadar.
Dioleskan minyak angin itu hidung Bilqis. Dia ragu untuk mengoles di dada dan tengkuknya. Maka, dia membiarkan saja.
Lebih dari satu jam Bilqis tidak sadarkan diri. Sampai-sampai William akan menghubungi dokter.
"Ng~" Bilqis pun mengerejap-ngerjapkan matanya.
"Kamu sudah sadar," kata William.
"Eh, Mister. Ada apa ...." Bilqis pun bangun dan duduk sambil menggosok-gosok lengannya.
"Kamu takut kecoa?" tanya William dengan nada tak percaya.
"Aku fobia kalau lihat kecoa banyak. Kalau satu meski takut tidak sampai pingsan. Kecuali kalau kecoanya banyak seperti tadi. Aku benar-benar sangat takut. Seolah tubuh aku dikerubungi oleh makhluk itu," jawab Bilqis.
"Sejak kapan kamu takut sama kecoa?" tanya William.
"Eh, se–jak ...." Bilqis mendadak sakit kepalanya. Dia tidak ingat sejak kapan dia takut melihat kecoa yang banyak.
"Sudah. Kamu tidak perlu mengingat-ingat sesuatu yang tidak kamu sukai," balas si Duda.
"Astaghfirullahal'adzim. Aku sudah terlambat masuk ke kantor," ucap Bilqis saat melihat jam di dinding menunjukkan jam 9 pagi.
"Kalau kamu di pecat. Masuk saja ke perusahaan aku. Nanti aku carikan tempat yang cocok yang sesuai dengan bidang keahlian yang kamu miliki, kata William.
Bilqis kini mengangkat wajahnya. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi pada bule tampan ini meski usianya sudah matang.
"Ya, mungkin saja seperti Yusuf yang di pecat dari perusahaan itu. Lalu masuk ke perusahaan aku," lanjut William.
"A—Apa? Pak Yusuf sudah di pecat oleh perusahaan. Kapan?" tanya Bilqis sangat terkejut dan tidak percaya.
__ADS_1
***
Apa Bilqis juga akan mengikuti jejak Yusuf untuk pindah ke perusahaan milik William? Bagaimana dengan Rayyan? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa kasih semangat buat aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk menambah penyemangat 🤗🤗🤗. Terima kasih 😘😘😘.