Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 103. Asiah Hamil


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga kalian juga dimudahkan segala urusannya.


Bab 103


     Sesuai rencana semalam Rayyan dan Asiah mendatangi dokter kandungan. Mereka sangat antusias jika mengenai program kehamilan untuk anak pertama mereka. 


"Wah sepertinya kalian beneran akan jadi orang tua," ucap Dokter Saras sambil tersenyum.


"Maksud dokter?" tanya Rayyan dan Asiah bersamaan.


"Hasil testpack positif dan untuk lebih meyakinkan lagi kita lihat lewat USG," jawab Dokter Saras sambil tersenyum.


"Ya Allah, mudah-mudahan ini beneran!" seru keduanya senang.


     Asiah pun diperiksa dan masih tidak terlihat jelas hanya seperti titik saja. Bahkan Asiah masih belum percaya jika dia sudah hamil saat ini.


"Janin masih berupa gumpalan darah," jelas Dokter Saras


"Jadi, beneran istri saya hamil?" tanya Rayyan dengan senyum lebarnya.


"Insha Allah, Nona Asiah sedang hamil," jawab Dokter Saras sambil tersenyum geli karena melihat Rayyan menciumi wajah Asiah.


"Alhamdulillah, Sayang. Akhirnya kita akan menjadi orang tua," kata Rayyan sambil memeluk tubuh Asiah.


"Alhamdulillah, A. Tapi, tunggu dulu! Aku benarkan dulu bajunya, malu," ujar Asiah berusaha melepaskan pelukan suaminya. Rayyan yang membentulkan baju Asiah agar rapi kembali.


"Selamat, ya. Mudah-mudahan anak yang dikandung bisa kembar," ucap Dokter Saras lagi.


"Terima kasih, Dok," balas keduanya.


***


     Keluarga besar Hakim sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Asiah. Mereka pun memberitahu keluarga Green yang ada di Amerika dan Eropa. 


     Keluarga Asiah juga menyambut kehamilan itu dengan suka cita. Keluarga di kampung Yusuf bahkan hendak mengadakan syukuran akan anugrah yang sudah diberikan oleh Allah kepada Asiah. Apalagi Abah Taha, sampai ingin bertemu dengan Asiah secara langsung. Kondisi tubuhnya yang sudah sangat tua pun masih terlihat bugar.


"Abah, nanti Raya kirim orang untuk jemput ke sama. Sekalian ajak Kakek dan Nenek, Mang Sholeh, atau siapapun yang ingin ikut," kata Rayyan lewat video call.


"Abah, Asiah tunggu di rumah baru. Nanti Abah nginap yang lama, ya? Atau Abah tinggal saja bersama Asiah sekarang. Nanti biar bisa main bersama buyut," ucap Asiah riang.

__ADS_1


"Abah lebih suka tinggal di kampung," kata Abah Taha.


"Rumah Asiah juga adem. Banyak pohonnya, ada kolam ikannya juga, terus kebun juga. Nanti kita mancing bersama dan menanam singkong, ubi, atau apapun yang Abah suka," rayu Asiah dan Abah Taha pun tertawa. 


"Iya, Abah. Mau kan, jika nanti Abah tinggal bersama kami?" tanya Rayyan dengan penuh harap.


"Insha Allah. Abah tidak bisa janji. Karena Abah lebih kerasan tinggal di kampung," jawab Kakek tua yang selalu menyayangi Asiah.


     Alex pun langsung mengucapkan selamat kepada Rayyan dan akan mengirimkan hadiah untuk pasangan muda itu. Tentu saja, Rayyan dengan senang hati menantikannya. 


     Tidak beda jauh dengan Alex, William pun mengucapkan selamat. Betapa senangnya dia akan punya gelar baru lagi. Cucunya kini akan punya cucu. Terasa lucu baginya saat ini.


***


"Ayah, Raya sudah mau punya anak. Lalu aku kapan? Jika tidak di izinkan menyentuh Rania," rengek Raihan pada Abimanyu.


"Jangan buat hamil Alin. Kamu mau rusak anak aku!" Abimanyu memberi peringatan pada menantunya.


"Ya, setidaknya izinkan kita layaknya suami istri setelah Alin lulus sekolah," kata Raihan pantang menyerah. Pokoknya dia harus dapat izin.


"Tidak. Alin masih terlalu kecil saat itu," tolak Abimanyu dengan tegas.


"Ian, kamu sayang nggak sama Alin?" tanya Abimanyu.


"Tentu saja sayang, Ayah. Kenapa malah meragukan perasaan aku?" balas Raihan.


"Nah, jika kamu sayang pada Alin, maka harus mengerti keadaannya. Bagaimana jika dia hamil? Terlalu berbahaya kehamilan buat perempuan yang masih muda. Bisa-bisa beresiko kematian," ujar Abimanyu.


     Seketika tubuh Raihan membeku. Dia tidak mau hal itu terjadi pada Alin. Dia tidak mau kehilangan istri yang dicintai olehnya. 


"Baiklah, kalau begitu. Ian akan bersabar lagi. Ian tidak mau kehilangan Alin," tukas Raihan dengan mimik sendu. Sungguh dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Hanya harus punya kuat kesabaran dan banyak-banyak beristighfar, jika sudah dekat dengan Alin.


     Abimanyu tersenyum dalam hati saat melihat wajah menantunya yang terlihat merana. Sebenarnya dia tidak tega, tetapi ini demi kebaikan Alin juga.


'Hebat juga menantuku. Kuat tidak menyentuh Alin, padahal mereka sudah menikah satu tahun lebih. Kalau aku, saat malam pertama pasti langsung,' batin Abimanyu.


***


      Beda lagi dengan Rain, dia sedang memikirkan bagaimana caranya agar Rania benar-benar cinta mati padanya. Sehingga, dia tidak mau berjauhan dengannya. Apalagi, istrinya itu kadang cuek. Bahkan biasa saja saat melihat dirinya, jika sedang bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Ahk! Aku harus bagaimana? Nia, kamu sudah membuat aku pusing!" Rain mengacak rambutnya sendiri karena gemas dengan istrinya yang tidak peka.


"Bos, ini—" Adnan berhenti bicara saat melihat penampilan atasannya saat ini.


    Rain mengalihkan perhatiannya kepada orang yang membukakan pintu dan saat ini sedang berdiri di depannya. Wajah sang asisten terlihat aneh. Seperti sedang melihat sesuatu yang tidak biasanya.


"Ada apa?" tanya Rain kemudian duduk lagi di kursinya.


"Justru itu yang mau aku tanyakan. Ada apa, Bos? Kok kacau begini penampilannya. Kayak kena angin beliung," balas Adnan sambil sedikit tertawa.


"Aku kenapa?" tanya Rain tidak sadar dengan penampilannya saat ini.


"Lihat saja sendiri, tuh banyak kaca dan ada cermin juga kan di toilet," jawab Adnan diikuti kekehan tawanya.


     Rasa penasaran membuat Rain melihat ke arah dinding cermin. Terpantul keadaannya saat ini. Sungguh kacau penampilannya. Dasi yang terpasang longgar, rambut yang acak-acakan, lengan kemeja yang dilipat sampai bawah siku. Seperti bukan dirinya yang selalu rapi dan bersih di setiap penampilannya. Bangun tidur saja tidak kacau seperti ini.


"Ya~, kamu benar. Aku kacau sekali," lirih Rain dan kembali duduk di kursi kebesarannya.


"Kenapa? Ada masalah dengan si Tuan Putri," tanya Adnan penasaran.


"Sepertinya kamu tahu banyak soal aku, ya?" sindir Rain karena asistennya seolah tahu tentang keadaan dirinya.


"Ckk, apalagi yang bisa membuat kamu pusing, jika bukan Tuan Putri kesayangan kamu, itu," balas Adnan yang sebagai temannya saat ini.


"Ternyata hanya dia yang bisa membuat aku jadi kacau seperti ini," gerutu Rain.


"Ya, tidak apa-apa juga. Itu tandanya kamu sangat mempedulikannya, memikirkannya, dan mencintainya," ujar Adnan.


"Tapi, kayaknya Nia nggak begitu sama aku!" sesal Rain sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.


"Yakin, kalau si Tuan Putri tidak peduli, memikirkan, dan cinta sama kamu?" kata Adnan memancing emosi Rain.


"Dia itu terlihat cuek sama aku. Apalagi kalau sedang sama teman-temannya. Aku sepertinya tidak berarti," lirih Rain.


"Bagaimana kalau kita tes dan buktikan dia itu peduli atau enggak sama kamu?" tantang Adnan.


"Caranya?" tanya Rain.


***

__ADS_1


Rencana apa nih yang akan dibuat oleh Rain dan Adnan? Apakah Ian akan memilih bersabar ditengah godaan Alin yang polos, sehingga sering membuat dirinya tergoda. Bagaimana kisah mereka selanjutnya?


__ADS_2