
Pagi hari Zulaikha sudah siap untuk pulang ke apartemennya. Asiah juga ikut pulang dengannya meski tadi sempat merengek tidak mau sekolah. Namun, setelah di bujuk dia luluh juga.
"Ayah, nanti aku ke sini lagi, ya!" Asiah memeluk dan mencium pipi Yusuf.
"Iya, Sayang. Kamu makan di kantin sekolah saja, ya."
"Iya." Asiah pun mengangguk. Yusuf mencium kening dan pipi gembul putrinya.
"Om, aku juga mau!" kata Zulaikha sambil tersenyum menggoda.
"Iya. Hati-hati saat berangkat sekolahnya. Makan saja makanan di kantin sekolah, tapi jangan yang aneh-aneh," balas Yusuf.
"Bukan mau berangkat ke sekolah, maksud aku. Tapi, aku juga mau 'itu', masa Om, nggak ngerti?" gerutu Zulaikha dengan memasang wajah cemberut.
"Bukan mahram!" Yusuf mengerti maksud Zulaikha. Gadis nakal itu malah menyeringai kikuk.
***
Yunus pun membawa kedua gadis itu pulang dulu ke apartemen. Saat dalam perjalanan pulang, terlihat ada sebuah motor yang mengikuti mereka semenjak keluar dari area rumah sakit.
"Eh, kenapa kita jalan memutar?" tanya Zulaikha saat menyadari jalan yang dilaluinya lain dari biasanya.
"Ada yang mengikuti," ucap Yunus pelan.
Zulaikha sangat terkejut, wajahnya pun menegang. Dia melihat ke arah belakang ada sebuah motor yang mengikuti mereka. Pengendaranya memakai jaket kulit hitam dan helm full face.
"Apa benar dia mengikuti kita?" tanya Zulaikha dengan suara yang sangat pelan.
"Kita coba masuk ke wilayah area perbukitan mansion keluarga Hakim. Kalau motor itu masih mengikuti, berarti di membuntuti kita."
Mansion milik keluarga Hakim berada dia kawasan perbukitan dan semua rumah di sana dihuni oleh keluarga yang bekerja di keamanan keluarga Hakim. Termasuk tempat tinggal Yunus bersama orang tuanya.
"Mama Zulaikha, kita mau ke mana?" tanya Asiah sambil melihat ke arah luar jendela mobil.
"Ke rumah Om Yunus, dulu," jawab Zulaikha.
Setelah hampir 30 menit mobil memasuki area perbukitan. Di sana ada gerbang tinggi dan besar. Tidak sembarang orang bisa masuk ke sana. Diperlukan tanda identitas diri dan sidik jari untuk bisa masuk ke sana. Ternyata benar, motor itu terus mengikuti mobil mereka dan tertahan di depan gerbang karena tidak bisa masuk. Saat diminta untuk membuka helm dan tanda identitas diri. Orang itu langsung tancap gas, kabur.
"Kita sarapan dulu di rumah aku!" ajak Yunus.
__ADS_1
Rumah asri dua tingkat dengan model bangunan joglo era 2000-an. Terpampang di depan mata mereka.
"Ayo, turun!"
Zulaikha dan Asiah pun turun. Mereka masuk ke dalam pekarangan rumah itu.
"Assalammualaikum. Ayah ..., Ibu!" panggil Yunus.
"Wa'alaikumsalam. Loh, Yunus kok pulang ke rumah! Bagaimana dengan Nona Zulaikha? Apa dia—" Seorang wanita paruh baya berhijab terdiam ketika melihat ada Zulaikha dan Asiah.
"Kita sarapan dan mandi di sini ya, Bu." Yunus mencium tangan Ibunya.
"Assalammualaikum, Nenek." Asiah mencium tangan Ibunya Yunus dengan takzim. Begitu juga dengan Zulaikha.
"Ternyata lebih cantik aslinya dari pada di foto. Bisa dijadikan calon mantu ini," gurau Ibunya Yunus. Zulaikha malah tersenyum malu.
"Dia sudah punya cem-ceman, Bu." Yunus kemudian berlalu.
"Yunus itu tidak punya pacar ya, Bu?" tanya Zulaikha bergurau sekaligus penasaran.
"Nggak. Anak itu masih kekeh bilang mau mencari gadis seperti Bintang. Dari kecil Yunus itu sudah suka sama Bintang. Padahal di komplek sini banyak gadis yang suka sama dia," jelas Ibunya.
'Lumayan punya satu rahasia Yunus. Kalau dia macam-macam maka akan aku sebar aib ini, juga! Eh, cinta bertepuk sebelah tangan itu termasuk aib juga bukan, ya? Ah, bodo amat! Yang penting aku punya informasi ini.' Zulaikha tersenyum jahat.
Mereka pun mandi dan sarapan bersama. Ternyata Ayahnya sedang pergi karena ada urusan di kantor. Semua orang yang bekerja pada keluarga Hakim tidak ada yang menjadi pengangguran. Mau itu bekerja di perusahaan, di perkebunan, atau tim keamanan. Pendidikan juga di jamin sampai tingkat sarjana. Biaya kesehatan gratis di Rumah Sakit Harapan milik keluarga Hakim, yang memiliki fasilitas kumplit dan canggih.
"Nak Asiah sudah sekolah?" tanya Ibunya Yunus.
"Iya, Nek. Di Yayasan Al-Huda," jawab Asiah.
"Berarti satu sekolah dengan Den Ian dan Den Raya?" tanyanya lagi. Asiah tidak paham panggilan Den yang berasal dari kata Raden.
"Iya, Bu. Mereka satu kelas dan berteman baik dengan si Kembar," balas Yunus.
Asiah baru mengerti. Lalu dia berkata, "Asiah berteman baik dengan Raya dan Ian, Nek."
"Oh, anak pintar." Ibunya Yunus mengusap lembut kepala Asiah.
"Sepertinya si Kembar menginap di mansion bersama Den Ghaza. Coba lihat! Mungkin saja belum berangkat ke sekolah," lanjut Ibunya Yunus.
__ADS_1
Ternyata benar si Kembar ada di mansion. Ghazali menyuruh Yunus untuk datang ke rumahnya. Tentu saja kedatangan Asiah membuat senang si Kembar.
"Asiah!"
"Raya!"
Rayyan memeluk tubuh Asiah, kemudian keduanya melompat-lompat senang sambil berpegangan tangan. Tawa keduanya terdengar.
"Kenapa kamu pagi-pagi ke sini?" tanya Raihan yang datang menyusul belakangan.
"Nggak tahu. Di bawa sama Om Yunus," jawab Asiah.
Yunus, Zulaikha, dan Ghazali membicarakan penguntitan tadi dan penyerangan semalam. Zulaikha sangat terkejut mendengar kalau semalam ada penyusup yang mau masuk ke dalam ruang rawat inap Yusuf.
"Sebaiknya perawatan Yusuf di pindahkan ke Rumah Sakit Harapan agar keamanan dia terjamin," ucap Ghazali.
"Aku rasa dia tidak akan mau karena besok juga sudah bisa pulang," sanggah Zulaikha.
"Apa kamu sudah minta tambahan orang untuk melakukan penjagaan?" tanya Ghazali pada Yunus.
"Sudah."
"Untuk gadis kecil itu juga," tunjuk Ghazali dengan bibirnya.
"Eh?"
"Para bocil itu merengek sama Papa untuk menempatkan orang agar menjaga Asiah. Calon cucu mantu keluarga Khalid, kayaknya." Ghazali tertawa terkekeh di ikuti oleh Yunus.
Apalagi ketika Asiah bercerita keadaan Ayahnya sampai menitikan air mata, Rayyan dengan sigap menghapusnya. Raihan mengusap-usap punggungnya dan menghibur dengan kata-kata banyolannya.
"Kayaknya Kak Mentari sewaktu hamil si Kembar nggak amit-amit sama Bintang. Kelakuan kedua anaknya nggak jauh beda dengan si Bintang. Masih mending juga mereka tidak main sosor bibir orang," ucap Ghazali sambil memperhatikan kedua keponakannya itu.
Yunus tersenyum geli mengingat dia juga menjdi salah satu korban Bintang. Meski yang dicium itu adalah pipinya. Beda dengan Ghazali yang dicium itu bibirnya. Sampai-sampai sering kena hajar Alex–Papanya Bintang.
Aku memasukan sedikit informasi tentang keluarga Hakim/keluarga si Kembar, ya. Karena keluarga ini akan ambil peran besar nantinya.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.
__ADS_1