Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Masak Bersama


__ADS_3

     Setelah insiden tersandung karpet tadi. Baik Yusuf maupun Zulaikha menjadi malu-malu kucing. Kadang saling lirik, saling lempar senyum, dan curi-curi pandang. Yusuf kayak anak ABG yang baru merasakan cinta monyet. Padahal umur dia sudah 26 tahun, bukan anak remaja lagi.


     Bagaimana dengan Zulaikha? Dia merasa dunia ini terasa berwana indah dan banyak bunga serta kupu-kupu di sekitarnya. Melihat tangannya Yusuf saja, sudah membuatnya senang. Apalagi melihat wajah tampannya. Inginnya menatap terus tampang pujaan hatinya itu. Namun, ada satpam cilik yang ada di sana dan akan protes kalau dia dan Yusuf saling menatap.


"Ayah sama Mama Zulaikha, kenapa selalu saling menatap begitu?" tanya Asiah sambil melihat ke arah Yusuf dan Zulaikha bergantian.


"Hem ... siapa yang selalu. Kita hanya sesekali saja menatapnya," jawab Zulaikha sambil mencium pipi Asiah gemas.


     Yusuf malah salah tingkah dan memilih pergi ke dapur. Dia bersyukur kalau tadi Asiah masih tidur saat kejadian dia dan Zulaikha berciuman. Takutnya kayak dulu, putrinya itu sempat terbangun saat dia dan Zulaikha pertama kali berciuman.


     Waktu sudah memasuki waktu makan siang. Yusuf bingung antara masak sendiri atau memesan lewat food online. Dilihatnya masih banyak bahan makanan di kulkas. 


"Om, mau apa?" tanya Zulaikha saat melihat Yusuf membuka rak sayuran bagian bawah kulkas.


"Mau masak buat makan siang," jawab Yusuf sambil mendongakkan kepalanya ke atas, tanpa dia tahu kalau Zulaikha sedang membungkukkan badannya. 


     Wajah keduanya sangat dekat. Mata indah milik Zulaikha selalu menjerat Yusuf. Tubuh dia selalu kaku tak bergerak saat menatap matanya.


     Begitu juga dengan Zulaikha. Pancaran mata milik Yusuf yang berbinar seolah menghisap kesadaran dirinya. Tatapan teduh itu selalu membuat Zulaikha tidak berkutik. Keduanya saling mengagumi mata mereka satu sama lainnya.


"Ayah! Mama Zulaikha!" panggil Asiah dengan suaranya yang nyaring. Membuat kesadaran keduanya kembali.


"Ada apa, Sayang?" jawab Yusuf dan Zulaikha bersamaan dan membuatnya tertawa.


"Awas ...! Kalian jangan berciuman! Bukan mahram, haram!" Asiah bertolak pinggang di depan keduanya.

__ADS_1


Deg!


     Jantung Yusuf dan Zulaikha terasa loncat dari tempatnya. 'Apa Asiah tadi melihat lagi kita berciuman?' batin keduanya.


"Emang ... kita, ka–kapan berci–ciuman?" tanya Zulaikha gugup.


"Barusan. Ayah dan Mama Zulaikha sedang berciuman 'kan?" tanya Asiah menuduh.


"Tidak!" sanggah Yusuf dan Zulaikha bersamaan.


     Yusuf dan Zulaikha beradu pandang sesaat. Terlihat kelegaan di wajah mereka.


      Jadinya mereka bertiga masak bersama. Asiah ikut menyiangi sayuran dan Zulaikha mengiris bumbu dan memasak. Yusuf memberi arahan apa saja yang harus dilakukan oleh Zulaikha dan Asiah.


    Kebahagiaan terlihat di sana. Celoteh Asiah yang kadang ingin tahu ini itu. Zulaikha yang tidak bisa menakar garam dan gula sehingga sulit mendapatkan rasa yang pas.


     Yusuf mengacungkan jempolnya. Setelah lebih dari tiga kali menambah bumbu ini itu. Akhirnya masakan Zulaikha berhasil. Kali ini Yusuf yang menyuapi Zulaikha.


"Bagaimana? Enak?" Yusuf mengangkat satu alisnya dengan senyuman tampan yang membuat hati Zulaikha semakin meleleh.


"Enak, Om." Zulaikha merasa terharu karena dia bisa juga masak dengan rasa yang enak meski dibantu dan dibawah arahan sang pujaan hati.


"Asiah juga mau coba!" teriak gadis kecil itu mengganggu momen romantis antara Yusuf dan Zulaikha.


     Yusuf pun mengambil satu ujung sendok dan memberikannya kepada putrinya. "Bagaimana? Enakan rasanya?"

__ADS_1


"Iya. Enak!" Asiah mengacungkan dua jempolnya.


"Terima kasih, Sayang!" Zulaikha mencium pipi Asiah.


     Ketiganya makan siang bersama. Semua masakan hasil kerja sama itu habis tak bersisa. Setelah itu sholat Dhuhur berjamaah karena Yusuf belum bisa mengendarai motor. Jarak apartemen ke masjid lumayan agak jauh, harus menggunakan kendaraan.


***


     Sementara itu, di kampung halaman Yusuf. Ibu sama sanak keluarganya sedang berunding. Mereka tadi sangat terkejut mendengar informasi kalau Yusuf kecelakaan dan Asiah diculik.


"Tapi, Yusuf tidak apa-apa 'kan? Soalnya bagian kepala dan tangannya yang yang terluka parah," ucap Mang Sholeh.


"Iya. Asiah bilang kalau Ayahnya sudah sehat dan pulang ke rumah," jawab Ibunya Yusuf–Hajar.


"Jadi, siapa saja yang mau pergi ke kota untuk menjenguk Yusuf?" tanya Abah Taha–mertua Yusuf atau Bapaknya Aisha.


"Bi Hajar ikut saja ke kota sama Kang Sholeh. Biar Bapak diurus sama saya. Bapak setuju 'kan?" tanya istrinya Sholeh pada Ayahnya Yusuf, yang merupakan keponakannya sendiri.


"Baiklah jadi yang ikut aku, Bi Hajar sama Abah Taha," ucap Sholeh.


"Besok pagi-pagi sekali, kita berangkatnya agar siang sudah sampai di apartemen Yusuf," ujar Abah Taha.


     Kesepakatan pun sudah diambil. Mereka pergi ke kota tanpa sepengetahuan Yusuf.


***

__ADS_1


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.


__ADS_2