Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
# Bilqis Dalam Keadaan Kritis


__ADS_3

          William melihat putra dan putrinya yang kini masih tertidur. Senyum dan tangis kebahagiaan tercipta saat melihat buah hatinya. Dia tidak menyangka kalau akan memiliki anak kembali. Disentuhnya wajah mungil itu dengan ujung jari telunjuknya. Kulit halus anaknya dapat dia rasakan. 


"Sayang, jadilah anak-anak yang sholeh dan sholehah. Saling menyayangi satu sama lain. Jadilah orang yang bisa memberikan manfaat bagi kebaikan orang lain. Berbakti kepada Mommy …." William malah menangis tergugu, tidak bisa menyelesaikan nasihat untuk anak-anaknya.


"Oppa, kamu harus kuat. Demi anak-anak kalian. Aku yakin itu juga yang diinginkan oleh Bilqis," ucap Mentari yang menepuk pundaknya.


"Aku yakin, kalau Kakek Willi bisa menjadi Daddy yang hebat buat Xavier dan Quinza. Buat mereka bangga dengan punya Daddy sepertimu," lanjut Fatih.


         Sudah 3 hari Bilqis melahirkan dan selama itu juga dia berbaring koma. William jiwanya kembali terguncang saat dokter menyatakan kalau kondisi Bilqis memburuk. Selama 24 jam kondisi istrinya terus di pantau oleh dokter-dokter hebat yang ada di sana. Bahkan Ghazali juga sengaja datang ke Kanada dan ikut memantau keadaan Bilqis.


           Bukan hanya William saja yang bersedih, saudara-saudara yang lainnya pun ikut merasakan kesedihan itu. Mentari dan Cantika bergantian mengurus si Kembar. 


"Apa sudah takdir aku untuk selalu ditinggalkan oleh orang-orang yang aku cintai?" gumam William.

__ADS_1


"Kenapa Oppa punya pikiran seperti itu?" tanya Mentari tidak suka. Keduanya pun saling bertatapan.


"Wanita yang aku cintai setulus hatiku. Wanita yang merupakan cinta pertamaku. Wanita yang memberikan cinta dan luka dalam hidupku. Wanita yang sudah membuatku gila." Tangan William terulur menyentuh wajah Mentari, tetapi dengan cepat di tepis oleh mantan istrinya itu.


"Bukan aku yang meninggalkan kamu. Tapi, kamu-lah yang sudah membuang aku, mengusir aku! Memisahkan aku dengan putraku." Mentari mulai tersulut emosinya kembali.


          Fatih langsung memeluk tubuh Mentari dan menenangkannya. "Tenanglah, Sayang!"


"Ya, kamu benar Baby. Semua itu salah aku. Karena aku ini bodoh. Begitu juga saat ini. Dokter bilang kalau Bunny hamil akan beresiko. Tetapi, aku berikan izin dia untuk hamil. Karena rasa cintaku padanya, aku selalu mengabulkan apapun keinginannya. Kenapa aku tidak mengikuti jejak suami kamu yang dulu melarang Zahra untuk punya anak. Agar istriku hidup lebih lama. Kenapa aku tidak mengikuti jejak Fatih yang menyembunyikan kekurangan yang ada pada pasangan kita. Seandainya saja aku tidak mengikuti keinginan dia untuk punya anak maka dia tidak akan seperti ini," racau William.


"Mas!" 


           Mentari dengan cepat menahan tangan Fatih agar tidak memukuli William lagi. Alex pun menarik tubuh Fatih yang menindih William dan menahannya saat Fatih hendak melakukan serangannya lagi.

__ADS_1


"Iya, kamu benar Kakek Willi. Kamu adalah laki-laki bodoh. Aku menyembunyikan kekurangan Zahra karena aku tidak mau melihat istri yang kusayangi terluka. Aku ingin dia tetap menjadi istriku yang sempurna. Saat dia harus kehilangan rahimnya, aku juga sama sedih dan terluka, hanya saja aku harus kuat demi wanitaku … istriku! Aku harus berjuang meyakinkan dia yang jatuh tepuruk, agar bisa bangkit dan semangat kembali hidupnya dengan cinta aku. Setia mendampingi dirinya disaat menjalani pengobatannya. Tapi, apa yang kamu lakukan? Kamu tahu resiko yang akan terjadi pada Bilqis. Setelah pengorbanan dia ini, kamu malah tepuruk! Kenapa kamu tidak menghargai pengorbanan Bilqis yang sudah memberikan keturunan untuk keluarga Green? Bukannya kamu sekarang itu harus menjadi lebih kuat demi kedua anak itu. Peninggalan Bilqis untukmu." Fatih marah meluapkan emosinya.


          William nanti harus berterima kasih kepada Mentari dan Alex yang sudah menahan tubuh Fatih agar tidak menghajarnya seperti dulu. Alex menahan kedua tangan Fatih ke belakang tubuhnya. Sementara itu, Mentari memeluk tubuh suaminya dari depan.


"Kamu benar Fatih. Terima kasih sudah menyadarkan aku kembali. Lagi-lagi kamu menghajar aku dengan seluruh kekuatan kamu. Karena kebodohan aku." William tersenyum sambil berdiri.


"Karena aku tidak mau kamu melakukan hal yang sama seperti dulu lagi, Kek," ucap Fatih lirih.


"Kalian berdua ini bikin para wanita ketakutan. Aku sarankan besok-besok kalau mau berkelahi pilih-pilih tempat," ucap Alex yang kini memeluk tubuh istrinya yang gemetaran.


"Sayang, maafkan aku!" Fatih memeluk erat tubuh Mentari dan sesekali menciumi pucuk kepalanya.


"Kalian sebaiknya pergi dari hadapanku! Bemesraan di depan aku, tidak punya perasaan sama sekali," gerutu William dan pergi ke ruang ICU untuk menemui istrinya yang berbaring di atas brankar dengan beberapa peralatan yang menempel pada tubuhnya.

__ADS_1


***


Aku ngetik sambil terkantuk-kantuk. Kalau ada typo atau kalimat aneh, abaikan saja 😁😁. Bagaimana keadaan Bilqis kedepannya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote 😍😍. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.


__ADS_2