Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 62. Suka


__ADS_3

     Sudah satu minggu berlalu sejak kepulangan Rayyan dan Asiah ke rumah. Awalnya orang tua mereka cemas sudah terjadi sesuatu kepada mereka saat berbulan madu. Namun, saat Rayyan bilang semua baik-baik saja, mereka pun kembali tenang.


     Hanya saja Asiah sudah lima hari ini menjadi pendiam. Dia hanya bicara jika ada yang mengajaknya bicara dahulu. Bahkan dia pun sering terlihat melamun dan mengurung diri. Rayyan sibuk mengurus perusahan yang di serahkan padanya. Selain itu dia juga mulai mencari universitas yang bisa menerima dia dan Asiah. 


"Sayang, sedang apa?" tanya Rayyan yang baru sampai ke rumah. Di peluk dan diciumnya kening serta bibir Asiah.


"Sedang membaca novel," jawab Asiah dan menunjukan buku yang tadi dia pegang tanpa membacanya.


"Sudah mandi, belum?" tanya Rayyan yang masih memeluk tubuh istrinya.


"Belum," jawab Asiah singkat.


"Kita mandi bersama, yuk! Sebentar lagi akan Magrib," ajak Rayyan dan diangguki oleh Asiah.


      Rayyan tahu belakangan ini Asiah jadi pendiam dan dia sering melihat istrinya melamun. Namun, dia tidak tahu apa yang sudah membuatnya seperti itu. Sebab, setiap Asiah diajak bicara pasti akan bilang tidak ada apa-apa.


      Didudukannya Asiah di atas pangkuan Rayyan. Lalu dia pun mengeringkan rambut Asiah dan menyisirnya dengan pelan. 


      Asiah menikmati waktu saat berduaan dengan suaminya. Dia paling suka saat berada dalam pangkuan dan dekapan Rayyan. Dirinya merasa tenang dan nyaman. Namun, belakangan ini suaminya terlalu sibuk dengan perusahan Opa-nya. Sehingga waktu dengannya berkurang. 


"Sayang, sudah cantik. Tinggal pakai jilbab," kata Rayyan sambil memandang wajah Asiah.


"Terima kasih, A." Asiah memberikan kecupan pada Rayyan sebelum beranjak dari pangkuannya.


"Aku pergi dulu ke masjid, ya." Rayyan pun mengganti bajunya pakai baju koko.


"A, aku ingin kita makan malam di luar," ucap Asiah.


"Baiklah, kita berangkat setelah Isya," balas Rayyan.


***


     Pasangan yang sedang berbunga-bunga menikmati masa pengantin baru kini sedang terjadi pada pasangan Raihan dan Alin. Sehabis Magrib, keduanya makan bersama dan saling menyuapi. 


"Kakak, besok Minggu kita mau kencan ke mana?" tanya Alin begitu selesai makan.


"Kamu maunya ke mana?" balas Raihan bertanya.


"Aku ingin pergi ke taman bunga matahari yang sedang viral," kata Alin dengan senyum malu-malu.


"Bagaimana kalau kita berkencan ke taman bermain seperti Minggu kemarin?" Raihan kurang suka tempat itu karena terlalu banyak orang yang datang ke sana.

__ADS_1


      Alin menutup mukanya karena mengingat kembali kejadian di taman bermain waktu itu. Dia beberapa kali kepergok sama Rania dan Chelsea saat dia sedang berciuman.


     Raihan biasa saja saat saudaranya memergoki dia sedang mencium istrinya. Sebab, mereka tidak akan mempermasalahkan karena itu haknya. Justru Rania dan Chelsea senang menggoda Alin. Sampai istrinya itu malu setengah mati.


"Tapi, Kakak jangan main cium aku, ya! Nanti ada orang lain yang melihat," ujar Alin mengajukan syarat.


"Hmm … bagaimana, ya? Aku itu suka melakuakan itu," goda Raihan dengan lirikan mata dan membuat Alin tersipu malu, lalu menelungkupkan wajahnya di meja makan.


"Ih, gemesnya istri aku ini! Aku boleh cium, ya?" goda Raihan lagi.


"Nanti ada Bi Mar atau Mang Asep yang melihat," balas Alin dengan mengangkat sedikit wajahnya.


"Ya, sudah. Nggak jadi menciumnya," kata Raihan.


"Nanti saja saat di kamar," bisik Alin. Tanpa banyak bicara Raihan pun menggotong Alin dan pergi menuju kamarnya. Keduanya saling lempar senyum manis.


***


     Rania sedang membuatkan minuman herbal untuk Rain. Cuaca yang dingin dan Rain yang sering kelahan bekerja membuatnya harus pandai-pandai menjaga kesehatan. Untung istrinya pintar meracik minuman yang selalu bisa membuat tubuhnya selalu bugar.


"Kak, ini minum dulu!" titah Rania setelah masuk ke ruang kerja suaminya.


"Terima kasih," ucap Rain dan berdiri meninggalkan kursi kebesarannya.


"Nia, aku dapat undangan pesta dari rekan bisnis. Apa besok kamu punya waktu?" tanya Rain sambil menatap ke arah Rania yang sedang menyesap minumannya.


"Besok? Ya, sepertinya aku bisa," jawab Rania sambil melirik ke arah suaminya.


"Terima kasih," ucap Rain sambil tersenyum tampan pada Rania dan itu membuatnya senang.


"Kak, hari Minggu nanti kita jalan-jalan, yuk!" ajak Rania.


"Ke mana?" tanya Raihan.


"Ke taman cinta, aku penasaran dengan apa yang teman-teman bilang," kata Rania.


"Ya, boleh," ucap Rain dengan senyum tipisnya.


"Kak, tadi aku bertemu dengan Kak Amira dan Kak Aminah," kata Rania tiba-tiba.


"Oh, ya. Di mana?" tanya Rain sebenarnya dia kurang tertarik membahas hal seperti ini dengan Rania.

__ADS_1


"Di Masjid Jami, saat Nia, Alin dan Chelsea sholat Ashar di sana. Mereka tanya kabar Kakak. Katanya sudah lama mereka tidak mendengar kabar Kakak," balas Rania dengan menatap lekat pada suaminya.


"Ya, aku sudah lama juga tidak bertukar kabar dengan mereka," ujar Rain.


"Kenapa? Apa Kakak belum bilang sama mereka kalau kita sudah menikah?" tanya Rania dengan memicingkan matanya.


"Aku terlalu sibuk, Nia. Aku juga belum memberi tahu mereka karena itu butuh penjelasan langsung kepada mereka, tidak bisa lewat telepon. Dan aku belum punya waktu untuk berkunjung ke sana," jawab Rain.


"Oh, aku kira Kakak tidak mau kalau Kak Amira sampai bersedih karena Kakak sudah menikah dengan aku," ucap Rania dengan santai.


"Aku harap itu tidak akan terjadi," lirih Rain.


"Aku rasa Kak Amira akan bersedih karena laki-laki yang dicintainya sudah menikah dengan perempuan lain. Apalagi perempuan itu nantinya tidak mau berbagi suami. Alias tidak mau dipoligami," ujar Rania.


"Siapa juga yang mau poligami. Seumur hidup aku tidak pernah terpikirkan akan melakukan hal itu," balas Rain dan menarik tubuh Rania sehingga menempel padanya.


"Kenapa, kamu selalu menyinggung masalah poligami kepadaku?" tanya Rain dengan berbisik.


Rania begitu gugup saat kini berada dalam pelukan suaminya. Padahal ini bukan pertama kali mereka berpelukan atau dipeluk. Mereka sering melakuakan hal ini sejak dulu juga.


"Ya, mungkin hal itu terlintas dalam pikiran Kakak. Karena pada dasarnya orang itu ingin menikah dengan orang yang dicintainya. Kakak juga pastinya ingin menikah dengan Kak Amara karena dia adalah perempuan yang Kak Rain cintai," jawab Rania dengan pelan.


"Apa kamu tahu apa itu cinta?" tanya Rain lagi.


"Iya," jawab Rania.


"Apa itu?" Rain masih berbisik.


"Suka," jawab Rania dengan singkat.


"Lalu, Nia apa kamu suka pada aku?" tanya Rain dengan lembut.


Rania memang suka saat menghabiskan waktu bersama dengan Rain, tetapi dia merasa tidak cinta padanya. Mungkin belum cinta padanya karena dia merasa Rain bukan orang yang istimewa baginya.


"Kalau Kak Rain sendiri, suka nggak sama Nia?" Karena merasa terpojok, maka Rania malah balik bertanya.


***


Bagaimana acara makan malam Rayyan dan Asiah akan berlangsung? Jawaban apa yang akan diberikan oleh Rain pada Rania? Tunggu kelanjutannya ya 🥰🥰. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.


Sambil menunggu Rayyan dan Asiah up bab berikutnya. Yuk mampir ke karya teman aku. Pastinya cerita karya ini seru.

__ADS_1



__ADS_2