
Warga yang tinggal di daerah hutan jati dikejutkan dengan suara tembakan. Begitu terdengar kembali suara tembakan mereka keluar rumah dan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Mereka pun berkumpul di rumah Kepala Desa. Lalu berduyun-duyun menuju lokasi diperkirakan bunyi letusan pistol tadi.
Betapa terkejutnya mereka saat melihat ada mobil bergoyang di tepi jalan. Mereka pun menyerbu dan mengepung mobil itu. Dilihatnya ada dua orang laki-laki dan perempuan yang berada di dalam mobil.
"Hei, apa yang sedang kalian berdua lakukan di dalam!" Salah seorang warga memukul kap mobil Rain.
"Turun, kalian!" seru warga yang lainnya sambil memukul-mukul mobil Rain.
Rania dan Rain sangat terkejut dengan kedatangan orang-orang itu. Mau tidak mau mereka akhirnya turun dari mobil.
"Apa yang kalian sedang melakukan apa di dalam tadi?" tanya laki-laki paruh baya yang rambutnya mulai beruban.
"Tadi ada serangga masuk ke dalam mobil. Adik saya takut akan binatang itu. Dan kebetulan serangga masuk ke dalam baju," jawab Rain berusaha setenang mungkin.
"Alah, pasti bohong!" bentak orang yang memukul kap mobil tadi dan di ikuti oleh warga lainnya.
"Mana bukti kalian kakak beradik?" ucap salah seorang warga lainnya.
__ADS_1
"Sini lihat KTP kalian!" pinta laki-laki paruh baya yang merupakan Kepala Desa di sana.
Rania memegang tangan Rain. Dia ketakutan saat melihat laki-laki di sana menatap dengan penuh selidik padanya.
"Adik saya masih sekolah. Dia belum punya KTP," ucap Rain dan tangannya balik menggeram tangan Rania. Dia mencoba menguatkan Rania agar jangan takut.
"Bohong! Mana mungkin perempuan ini masih sekolah," sanggah warga yang menatap Rania dengan intens.
"Dia bawa kartu OSIS miliknya. Anda bisa melihatnya," balas Rain.
"Kalau begitu perlihatkan kartu identitas milik kalian mau apapun itu!" titah Kepala Desa.
Kepala Desa dan warga melihat kartu OSIS dan KTP milik Rania dan Rain. Alamat rumah mereka berbeda dan ini memicu kemarahan warga karena merasa dibohongi. Meski Rain sudah menjelaskannya beberapa kali.
"Kalian telah berbuat zina di desa kami. Kalian harus mempertanggungjawabkan perbuatan ini dengan menikah sekarang juga. Kami tidak mau terjadi petaka di sini, gara-gara perbuatan kalian berdua."
"Apa?" Rain dan Rania sangat terkejut mendengar perintah para warga desa pada mereka.
__ADS_1
"Mau tidak mau kalian harus menikah malam ini juga. Atau nyawa kalian sebagai gantinya. Kami tidak mau nyawa para penduduk desa terancam gara-gara kalian. Penduduk luar desa sudah mengancam nyawa kita semua."
"Kak, bagaimana ini?" tanya Rania dengan menahan isak tangisnya. Air matanya sudah meluncur dari tadi.
"Tenanglah," bisik Rain. Lalu dia pun menatap wajah warga satu persatu.
"Bukannya menikah itu harus ada wali. Sementara Rania, walinya tidak ada di sini. Orang tuanya tinggal di Jakarta, akan butuh waktu lama untuk mereka sampai ke sini," ucap Rain.
"Tidak masalah meski harus menunggu mereka," balas Kepala Desa.
"Baiklah, izinkan kami menghubungi keluarga kami," ujar Rain.
Rania menghubungi kedua orang tuanya dan Rain menghubungi Bintang dan Ghazali. Secara singkat mereka menceritakan kejadian yang menimpanya saat ini.
"Kak, masa aku kayak Alin. Menikah karena terpaksa, apa ini karma dari Alin yang menikah dadakan dan terpaksa, padahal dia tidak melakukan apapun," seloroh Rania.
"Dalam Islam tidak ada hukum karma. Ini sudah menjadi takdir kita," ujar Rain dengan suara pelan dan memberikan sentuhan lembut pada tangan Rania.
__ADS_1
***
Bagaimana reaksi keluarga mereka? Akankah berjalan lancar pernikahan dadakan Rain dan Rania? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.