Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 77. Pergi


__ADS_3

     Keadaan emosi Rayyan saat ini sedang kacau. Pagi tadi ketika dia pulang dari olahraga pagi mengelilingi komplek, dia tidak menemukan Asiah di kamarnya. Awalnya dia mengira istrinya itu sedang berada di dapur. Namun, saat semua sarapan Asiah tidak ada di sana. Dia pun mencari tahu keberadaan istrinya, tetapi si seluruh area rumah tidak bisa ditemukan. Maka dia pun mengecek lewat GPS yang tertanam di cincin pernikahannya. Betapa terkejutnya dia saat melihat titik keberadaan Asiah sudah berada di luar kota.


     Hal ini dia beritahukan kepada kedua mertuanya. Betapa Rayyan sakit hati, akan keputusan yang Asiah ambil itu. Dia pun marah dan tidak mau peduli dengan permintaan Zulaikha untuk menyusul Asiah ke villa. 


     Rayyan menenangkan dirinya dengan mengurung diri di apartemen miliknya. Saat ini dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Dia dalam mood buruk dan pastinya ingin meluapkan amarahnya itu. Handphone miliknya dinonaktifkan agar tidak ada seorang pun yang mengganggu dirinya.


***


     Tidak beda jauh dengan perasaan sepupunya, Rain pun dalam mood jelek. Sejak kemarin dia rasanya uring-uringan terus. Foto Rania dan Ibrahim yang dikirimkan oleh Mega membuat dia kesal. Ditambah sikap Rania yang cuek dan masa bodo dengan aksi uring-uringan dia, menambah jelek moodnya.


     Rain yang rencananya hari ini mau pergi ke rumah Kiai Samsul, menjadi malas dan hendak mengurungkan niatnya. Dia ingin mengurung diri bersama Rania di apartemennya.


       Suara nyanyian Rania yang merdu dia nikmati seorang diri. Istrinya itu sibuk memasak dan meracik minuman untuk sarapan mereka.


"Nia," panggil Rain dengan suaranya yang lembut.


"Iya, Kak. Ada apa?" tanya Rania tanpa melihat ke arah Rain karena dia sedang menuangkan jus jambu ke dalam gelas.


"Hari ini jangan kemana-mana, ya? Kita di apartemen saja," kata Rain masih memperhatikan istrinya.


"Bukannya nanti jam delapan kita akan pergi ke rumah Kak Amira," balas Rania mengalihkan pandangannya kepada Rain.


"Benar juga. Tapi aku tidak ingin pergi ke mana pun hari ini," ucap Rain.


"Jika Kak Rain sedang tidak ingin keluar rumah, lebih baik jangan jadi ke rumah Kak Amira. Nanti malah ada apa-apa lagi," ujar Rania sambil memasukkan sayur bayam pada mangkuk sayur dan menghidangkannya di atas meja makan.


"Kalau begitu aku mau kamu terus menemani aku," kata Rain dengan malu-malu.


"Kalau nggak jadi pergi ke rumah Kak Amira, aku mau pergi ke rumah Mommy Bintang. Sudah lama aku tidak main ke mansion Hakim," pungkas gadis berjilbab warna moca.


     Kalau Rain ikut ke mansion Hakim, pastinya dia akan diomeli oleh Kakak perempuannya itu. Terakhir kemarin bertemu juga dia kena omel karena belum memberi keputusan kepada Amira.


     Niatnya Rain mau mendatangi rumah guru ngajinya itu hari ini. Namun, mood dia sedang buruk saat ini. Padahal setelah sibuk dengan pekerjaannya, baru sekarang dia punya waktu luang.

__ADS_1


"Ayo, kita sarapan!" ajak Rania dengan senyum lebarnya.


     Rain pun berjalan ke meja makan. Dia memperhatikan Rania saat gadis itu melayani dirinya. Meski masih muda, Rania tahu tugas menjadi seorang istri.


"Kita jadi pergi ke rumah Kiai Samsul hari ini. Aku harap nanti di sana bisa berjalan dengan baik," ucap Rain.


"Terserah Kakak saja. Aku hanya ikutan," balas Rania.


      Aparteman Rain kedatangan tamu, yaitu pasangan Raihan dan Alin, serta Mega dan Chelsea. Mereka akan ikut mengunjungi kediaman Kiai Samsul sekalian mengunjungi rumah Abah Ahmad dan Ummi Mirna. Rencana awal mau mengunjungi Kakek dan Neneknya Asiah tidak jadi karena pasangan itu tidak ikut.


"Kita berangkat dengan satu mobil atau tiga mobil?" tanya Rain.


"Satu mobil saja. Toh tempat tujuannya sama," jawab Raihan yang sudah membawa mobil berukuran agak besar biar muat banyak orang.


"Asik! Aku bisa duduk bersama kalian," kata Rania sambil memeluk Chelsea dan Alin.


     Rain dan Raihan langsung terbelalak matanya karena sudah bisa dipastikan mereka akan duduk di kursi yang sama dibelakang. Keduanya pun saling melirik dan mengangguk.


"Mega, kamu yang menyetir!" titah Raihan sambil memberikan kunci mobil pada sepupunya itu.


"Ayo, Alin Sayang, kita duduk di kursi paling belakang," ajak Raihan sambil menggandeng tangan istrinya.


"Tapi, aku ingin—" Alin tidak menyelesaikan ucapannya karena Raihan sudah menatapnya tajam sehingga dia menurut apa kata suaminya.


"Kak Ian, aku mau duduk bersama Alin," ucap Rania dengan sedikit merengek.


"Tidak Nia, jangan ganggu Kakak dengan Alin, ya. Sana kamu duduk bersama suami kamu saja!" titah Raihan.


    Rania pun mau tidak mau jadi duduk berdampingan di kursi bagian tengah bersama suaminya. Padahal dia sedang kesal sama Rain dan ingin menjauhinya.


***


     Saat dalam perjalanan Chelsea dan Mega asik berbicara di depan berdua. Jangan tanya pasangan Alin dan Raihan, keduanya sedang bermesraan di bangku kursi paling belakang. Sementara itu, Rain selalu berusaha memejamkan matanya sambil bersandar pada tubuh Rania. 

__ADS_1


     Rania pun diam-diam menikmati saat Rain tidur bersandar pada pundaknya. Walau dia sudah tahu akan perasaan Rain untuk dirinya tidak lebih hanya sekedar adik baginya. 


     Beberapa hari yang lalu saat dia sedang belajar tiba-tiba handphone miliknya berbunyi saat dia menempelkan headset di telinganya terdengar pembicaraan antar Rain dan Mega yang membahas masalah perasaan mereka. Ada rasa kecewa pada Rania saat mengetahui kalau suaminya itu melihat dirinya masih seorang anak kecil. Suaminya juga masih menaruh hati pada gadis lain.


"Nia," panggil Rain.


"Hm," balas Rania.


"Sedang apa?" tanya Rain.


"Sedang membalas pesan," jawab Rania.


     Rain langsung menegakkan tubuhnya dan merebut handphone milik Rania. Dia baca isi chat itu. Betapa malunya dia saat tahu kalau istrinyanya itu sedang chat-an bersama Bunda-nya.


"Kenapa?" tanya Rania.


"Tidak," jawab Rain dan menyerahkan handphone itu pada Rania dengan rasa malu.


      Rania pun mencoba menghubungi Rayyan karena dia agak mencemaskan keadaan Kakaknya itu. Dia sempat saling mengirim pesan tadi pagi. Namun, kini nomor Kakaknya itu tidak aktif.


***


    Asiah sedang bersenang-senang bersama teman-temannya. Tadi selepas subuh dia pergi diam-diam dari rumah dengan naik ojek online. Bahkan dia tidak pamitan pada siapa pun karena takut tidak diizinkan oleh mereka. Dia mendatangi rumah Hana dan dari sana mereka berkumpul dan menaiki mobil salah seorang temannya.


"Asiah, kamu akhirnya mendapat izin dari Rayyan," kata Sulaiman sambil berbisik.


"Aku pergi diam-diam tadi. Pastinya dia tidak akan mengizinkan aku pergi. Kemarin saja kita bertengkar," balas Asiah.


"Tapi kamu tinggalkan catatan untuknya 'kan, kalau jadi ikut pergi ke vila?" tanya Sulaiman.


"Tidak, aku lupa. Tadi terburu-buru soalnya. Sekarang aku akan kirim pesan pada Raya dulu," ucap Asiah.


"Kamu itu seharusnya ajak saja dia sekalian, biar tidak jadi masalah kedepannya. Kalau begini 'kan kesannya kamu jadi istri yang durhaka," gumam Sulaiman.

__ADS_1


***


Bagaimana dengan Rayyan? Akankah dia menyusul Aisah atau malah mendiamkannya? Apa yang akan terjadi saat Rain jujur dengan pernikahannya kepada keluarga Amara? Tunggu kelanjutannya ya!


__ADS_2