Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 134. Mulas


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan bahagia selalu.


***


BAB 134


     Rania merasakan perutnya mulas, tetapi tidak lagi. Kadang datang mulas itu tidak teratur waktunya. Dia pun melihat jam untuk memastikan berapa menit sekali rasa mulas itu datang.


"Kenapa, Sayang?" tanya Cantika yang melihat Rania meringis.


"Mulas, Ma," jawab Rania.


"Apa kita ke rumah sakit sekarang?" tanya Rain yang ikut-ikutan menjadi cemas dan merasa mulas melihat istrinya jalan mondar-mandir di ruang keluarga.


"Malah terasa panik, jika terlalu lama tinggal di rumah sakit. Bila rasa mulas terasa sering baru kita ke rumah sakit," ucap Mentari.


"Aduh, Sayang. Aku, kok, jadi ikutan mulas!" ucap Fatih sambil mengusap perutnya.


"Benar. Aku juga ikutan mulas, Honey." Alex mengusap perutnya juga.


    Cantika dan Mentari memperhatikan suami mereka. Merasa aneh dengan kelakuan mereka.


"Tadi sudah makan apa?" tanya Cantika merasa curiga.


"Tidak makan yang aneh-aneh," jawab Alex sambil mengusap keringatnya.


"Tidak makan yang pedas?" tanya Cantika.


"Tidak, Honey," jawab Alex.


"Asam?" Cantika menginterogasi suaminya.


"Tidak, Honey. Sudah lama aku tidak makan atau minum yang asam-asam ataupun yang pedas," bantah Alex.


     Mentari juga menginterogasi Fatih dan jawaban yang diberikan juga sama. Dia tadi makan yang disuguhkan oleh istrinya.


"Aduh, perut aku mulas begini!" Rain jalan-jalan sambil mengusap perutnya yang merasa sakit.


"Ya Habibi, kamu tadi tidak makan yang aneh-aneh, 'kan?" tanya Rania malah cemas melihat peluh yang membasahi kening suaminya.


"Tidak, Ya Humaira. Aku hanya makan nasi goreng seafood yang dibuatkan oleh Bunda," jawab Rain.


"Ayah juga, cuma makan nasi goreng," kata  Fatih.


"Aku juga sama," tambah Alex.


"Apa gara-gara nasi goreng?" Mentari kini wajah yang menjadi pucat.

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan nasi gorengnya?" tanya Cantika.


"Tidak tahu. Aku juga makan, tetapi baik-baik saja," jawab Mentari.


"Aku juga makan nasi goreng buatan Bunda tadi," lanjut Rania.


"Kenapa hanya laki-laki saja yang sakit perut sedangkan yang perempuan tidak sakit perut?" Cantika merasa heran.


     Cantika tidak ikut sarapan nasi goreng tadi karena dia sedang berpuasa. Dia curiga ada sesuatu yang lain dan hal itu yang membuat sakit perut ketiga orang itu.


***


     Chelsea yang sedang asik bermanja-manja pada Bintang sambil tiduran di paha sang ibu asuhnya itu, tiba-tiba merasakan mulas di perutnya. Dia tidak langsung bilang karena takut kontraksi palsu. Seperti Rania kemarin lusa, mulas dan semua orang panik karena Rania sedang ada di acara pesta orang lain. Keluarganya langsung membawa ke rumah sakit dan ternyata bayi-bayi itu belum mau keluar. Dokter bilang itu kontraksi palsu.


"Kenapa, Sayang?" tanya Bintang.


"Agak mulas perutnya, Mom," jawab Chelsea.


"Apa sudah mau melahirkan?" Angkasa dan Paris ikut bergabung bersama Bintang dan Chelsea.


     Angkasa dan Paris sengaja datang ke Indonesia saat Chelsea mendekati waktu lahiran. Mereka ingin mendampingi anak angkatnya itu saat momen bersejarah dalam hidupnya. 


"Belum, tapi barusan terasa mulas, Pa," ucap Chelsea.


"Rania juga sudah merasa mulas, tapi masih belum dibawa ke rumah sakit. Takut kontraksi palsu lagi katanya," ujar Angkasa sambil tersenyum geli mengingat kejadian tempo hari. Baru saja menginjak bandara, dia sudah dikasih kabar adik iparnya mau melahirkan. Otomatis dia dan istrinya langsung pergi ke rumah sakit.


"Di sana ada mama dan papa?" tanya Bintang.


"Ade bayi jadi anak yang Sholeh, ya! Saat lahir nanti semoga lancar, sehat tidak ada kekurangan apapun, dan putri papa juga mudah-mudahan sehat dan selamat saat lahiran nanti," kata Angkasa sambil mengusap perut Chelsea.


"Aamiin," balas Chelsea


     Chelsea merasa hidupnya sangat beruntung. Punya dua pasang orang tua angkat yang menyayangi dirinya. Begitu juga dengan keluarga besarnya semua menyayangi dirinya tanpa membeda-bedakan dengan yang lainnya. Apalagi sekarang semakin diperkuat dengan menikahi Mega. Dia berasa bukan orang lain bagi keluarga besarnya. 


"Mega, kemana?" tanya Paris karena belum melihat sang menantu sejak tadi.


"Kak Mega, barusan ke mall dulu. Ada rapat mendadak," jawab Chelsea.


***


     Asiah pergi ke rumah orang tuanya karena anak kembarnya tidak mau pulang karena ingin ikut pergi bulan madu kakek-neneknya. Bahkan sudah tiga hari ini kedua anak itu menginap terus di rumah keluarga Basir.


"Fira, Sayang. Pulang, yuk!" ajak Asiah merayu putrinya yang bersikukuh tidak mau pulang.


"Tidak mau! Fira mau ikut Nenek sama Kakek pergi bulan madu," bantah Zafirah sambil memegang erat tangan Yusuf.


"Kalau Fira tidak mau ikut, Arfa juga mau ikut pergi ke bulan madu!" ujar Zarfran yang melepaskan genggaman tangannya di tangan Asiah.

__ADS_1


"Aduh, kenapa Arfa juga ikutan-ikutan lagi!" Asiah menghela napasnya.


"Panggil Raya!" titah Zulaikha tanpa suara.


"Mama akan panggil papa, loh! Kalau kalian tidak mau menurut sama mama," ucap Asiah menyerah.


"Fira mau pergi ke bulan ikut Nenek dan Kakek, pokoknya!" pekik Fira.


"Pergi ke bulan?" Ketiga orang dewasa itu mengulang kata Zafirah.


"Iya, Fira juga mau mencoba pergi ke bulan. Apalagi ini bulan madu. Pastinya di sana banyak Winnie the Pooh, ya?" tanya Zafirah dengan riang.


"Arfa juga mau naik roket ke bulan!" lanjut Zarfran tidak mau kalah dengan kembarannya.


"Astaghfirullahal'adzim," kata ketiga orang di sana sambil menggelengkan kepala.


"Sayang bukan ke bulan yang ada di langit itu," kata Asiah sambil tersenyum tipis.


"Kata Nenek mau pergi ke bulan madu," ujar Zafirah bersikukuh.


"Anak siapa sih, mereka ini?" Zulaikha sering pusing dan selalu kalah telak oleh cucu-cucunya.


"Anaknya papa Raya dan Mama Asiah!" kata Zarfran dan Zafirah kompak.


"Iya. Cucunya nenek Zulaikha dan Kakek Yusuf. Juga cucunya oma Mentari dan opa Fatih. Punya adik bernama Zahra. Buyutnya Eyang Khalid dan Abah Ja'far," ujar Zulaikha merasa gemas.


"Nenek Zulaikha, pintar!" Zarfran dan Zafirah mengacungkan kedua jempol mereka pada Zulaikha.


"Kok, aku berasa menghadapi Raya saat kecil, ya," gumam Zulaikha sambil memijat kepalanya.


"Sabar, Sayang," ucap Yusuf sambil tersenyum geli.


"Asiah, panggil saja Raya ke sini. Ini anak dia, kelakuannya juga tidak beda jauh darinya. Pasti dia bisa mengatasi anak-anaknya," lirih Zulaikha.


    Sebenernya, mereka bukan hanya mau bulan madu. Namun, ada pekerjaan Yusuf lainnya di luar negeri, jadi sekalian saja mereka akan berbulan madu, jika semua urusannya sudah selesai.


"Aku dengar dulu Raya juga sering ikut kedua orang tuanya saat pergi berbulan madu," bisik Asiah.


"Hah!" pekik Zulaikha.


"Pantas saja anak-anaknya juga ingin ikut orang pergi berbulan madu," gumam Zulaikha sambil manggut-manggut.


'Bener deh, ini anaknya si Raya. Nggak ada yang dibuang sifat nyebelinnya juga,' batin Zulaikha.


'Padahal Asiah saat kecil, dia itu anak yang menggemaskan dan penurut,' lanjut Zulaikha masih dalam hatinya.


***

__ADS_1


Akankah Zulaikha dan Yusuf pergi berbulan madu? Apa Rania kali ini mulasnya mau melahirkan? Tunggu kelanjutannya, ya!


     


__ADS_2