Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 82. Gara-gara Kecoa


__ADS_3

Teman-teman bacanya jangan di scroll cepat, ya. Alon-alon saja. Terus kasih like dan komentar. Masih ada waktu buat yang mau ikutan giveaway buat 12 orang. 10 orang untuk poin tertinggi dan 2 orang untuk pemberi komentar terbaik/terlucu/tergemes sesuai isi cerita novel. Yuk, siapa tahu ada rezeki buat teman-teman.


***


BAB 82


     Saat Asiah dan Hana sampai pintu gerbang villa terlihat teman-temannya juga sedang bersiap-siap pergi. Mereka pun berteriak, "Itu Asiah dan Hana!"


      Teman-temannya langsung menghambur ke arah Asiah dan Hana. Lalu, menanyakan keadaan yang sudah menimpa kedua perempuan itu.


"Untunglah kalian berdua selamat dan tidak terluka," kata Sulaiman senang.


"Asiah tahu nggak kalau betapa marahnya Sulaiman saat tahu kamu tidak ada di villa. Lalu, mendengar ada kabar kalau kalian di ganggu oleh para berandalan itu," adu salah seorang temannya.


"Iya, Sulaiman mengerikan banget sampai memukul Riko karena dia bilang mungkin saja itu telepon iseng," kata teman yang lainnya lagi.


"Hei, aku tadi mencoba menenangkan situasi. Agar kalian jangan terlalu panik dan berbuat sesuatu yang bodoh," sanggah Riko yang merupakan sahabat Sulaiman.


"Sudahlah kalian semua jangan bertengkar. Toh Asiah dan Hana sudah kembali dengan selamat," ucap ILMA, teman wanita mereka dan di iyakan oleh yang lainnya.


"Sulaiman, aku akan pulang duluan," kata Asiah.


"Kok, sudah mau pulang. Kita baru beberapa jam di sini. Besok saja pulangnya bersama-sama," ujar Ilma dengan nada tidak suka. Dia masih ingin bersenang-senang di sana. Apalagi mereka belum ke tempat air terjun yang ada di dekat sana.


"Aku, ada urusan penting yang tidak bisa aku tunda," balas Asiah.


"Aku akan antar kamu pulang," pungkas Sulaiman.


"Hei, Sulaiman. Kamu kan yang punya acara, masa ikut pulang," bantah Ilma dengan suara yang agak tinggi.


"Aku akan balik lagi ke sini, nanti. Tenang saja. Aku hanya ingin memastikan Asiah pulang dengan selamat sampai ke rumahnya," tukas Sulaiman mencoba menenangkan teman-temannya yang masih ingin bersenang-senang di sana.


"Aku pulang sendiri saja, mau pesan taksi, bisa 'kan?" tanya Asiah.


"Tidak, aku sendiri yang akan antar kamu pulang," balas Sulaiman bersikukuh.


"Tapi …." kata-kata Asiah tertelan oleh suara teman-temannya.


"Aku tidak mau membuat Raya sampai marah. Bisa-bisa nanti aku kena amukannya," ucap Sulaiman sambil terkekeh.


"Baiklah kalau begitu," ucap Asiah luluh.

__ADS_1


***


     Rain dan yang lainnya pamit pulang kepada keluarga Kiai Samsul setelah berjamaah sholat Dzuhur. Rania sedang ngambek pada saudara-saudaranya karena mereka terus menggoda dengan sebutan pengantin bayi. Ini gara-gara Alin yang bilang kalau Rania sudah jadi calon pengantin sejak bayi.


"Nia," panggil Rain begitu ke luar dari rumah Kiai Samsul.


"Jangan panggil aku. Aku sedang marah sama kalian semua," ucap Rania sambil jalan menghentak-hentakan kakinya.


"Nia, itu—" tunjuk Chelsea.


"Diam! Aku nggak mau—" kata-kata Rania terhenti saat melihat ada pasukan musuh bebuyutannya di depan matanya.


"Kyaaaak!" Rania berteriak dan berbalik. Wajahnya mendadak pucat dan ketakutan. Lalu berlari dan melompat ke gendongan Rain.


     Rain dengan sigap menangkap tubuh istrinya. Kedua tangan Rania mengalung di leher dan kedua kakinya mengait di pinggangnya. Muka Rania pun bersembunyi di sela leher. Kedua tangan Rain menahan tubuh istrinya.


"Kan tadi aku mau bilang kalau di depan itu ada kecoa," ucap Chelsea.


"Kamu jahat! Kenapa nggak bilang dari awal," balas Rania yang masih dalam gendongan Rain.


     Raihan pun menendang ketiga kecoa ibu dan anak itu. Dia terlambat menyadari adanya makhluk yang dibenci oleh adik perempuannya itu.


"Sudah nggak ada kecoa-nya," kata Rain.


"Sudahlah, Rain. Gendong Rania sampai mobil," ucap Mega sambil berjalan duluan.


     Kiai Samsul, Ummu Habibah, dan Amira terdiam saat melihat kejadian itu. Mereka tidak tahu kalau Rania takut dengan kecoa. 


     Saat di dalam mobil pun, Rania masih berada dalam pangkuan Rain. Baik Rania maupun Rain tidak ada yang berniat untuk melepaskan pelukannya itu.


"Kak Ian, kayaknya seru kalau aku juga duduk seperti Nia. Aku duduk dipangkuan Kakak, ya?" Alin menatap iri kepada sepasang suami istri yang duduk di kursi tengah.


"Rain … Nia, sampai kapan kalian mau seperti itu?" tanya Raihan dengan nada suara yang dingin dan kesal.


"Eh." Kedua orang itu baru sadar kalau mereka dalam posisi yang bikin iri Raihan.


"Apaan sih, Kak Ian. Ganggu saja. Kalau mau, pangku saja Alin," gerutu Rania saat mengangkat wajahnya dan melihat ke arah kursi belakang.


"Bahaya tahu," desis Raihan.


"Bahaya?" Alin dan Rania mengulang.

__ADS_1


"Sudah bocah kecil bau kencur mana mungkin tahu dan mengerti," kata Ian sambil mencubit pipi Alin dan Rania bersamaan dan keduanya mengaduh.


"Nia turun, lagian kecoanya juga sudah tidak ada," ucap Ian lagi.


"Iya, Nia akan duduk di kursi sendiri," kata Rania sambil turun dari pangkuan suaminya.


     Padahal Rain tidak keberatan meski Rania terus duduk di atas pangkuannya. Dia menyukai saat memeluk dan dipeluk tadi. Meski dia harus kuat menahan debaran jantungnya yang kembali menggila. Apalagi jika Rania bicara di ceruk lehernya. Darah di dalam aliran tubuhnya terasa cepat. Bahkan dia juga merasakan adanya sengatan-sengatan listrik pada tubuhnya.


      Apa Rania menyukai saat berada dalam pangkuan Rain? Jelas dia menyukainya. Dia merasa aman dan nyaman. Wangi tubuh suaminya juga membuat dia ketagihan untuk menghirupnya. Pelukannya juga terasa hangat dan pas pada tubuhnya.


      Mega hanya tersenyum simpul melihat kelakuan keempat orang di belakangnya. Mereka itu sudah sah sebagai pasangan suami istri tetapi harus menahan diri. Raihan lah orang terlihat berusaha keras menahan dirinya. Makanya dia paling suka jahil pada orang lain untuk melampiaskan tekanan dalam dirinya.


"Kenapa?" tanya Chelsea pada Mega.


"Lucu melihat wajah frustrasi Ian dan Rain," bisik Mega.


"Mereka frustrasi karena apa?" tanya Chelsea lagi.


"Ya, mereka frustrasi karena tidak bisa menjamah istrinya sendiri," jawab Mega.


"Ayang, aku ingin kita menikah setelah aku cukup umur," kata Chelsea.


"Tentu saja, Beb. Biar kayak Raya, bisa langsung sayang-sayangan sama istri tercinta. Aku tidak mau tersiksa kayak mereka berdua," balas Mega sambil terkekeh.


"Benar juga. Bahkan sampai sekarang pun Nia belum pernah ciuman sama Kak Rain," bisik Chelsea.


"Apa?" Mega mengerem mendadak karena terkejut.


     Perbuatan Mega yang mengerem mendadak itu membuat tubuh orang-orang di belakangnya maju ke depan. Rain dengan sigap meletakan telapak tangannya menahan kening Rania agar tidak membentur sandaran kursi depan. Berbeda dengan Alin yang keningnya mencium sandaran kursi depan dengan keras sampai keningnya merah dan kesakitan.


"Mega!" Rain dan Raihan membentaknya.


"Kak Mega!" teriak Rania dan Alin dengan suara yang sangat nyaring dengan nada kesal.


"Ooops, maaf. Nggak sengaja habis aku baru saja dapat informasi penting," kata Mega sambil menyeringai ke arah saudara-saudaranya yang duduk di belakang.


"Informasi penting apaan?" tanya keempat orang itu penasaran dengan info yang membuat mereka nyaris terluka.


"Itu—" Mega menelan ludahnya.


***

__ADS_1


Apa Asiah akan pulang dan meminta maaf pada Rayyan? Keseruan apalagi yang akan terjadi di kubu Rain dan Raihan? Tunggu kelanjutannya ya!


__ADS_2