
Jantung Bilqis masih berdetak secara bertalu-talu. Dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Melihat mata biru langit milik William, membuat dirinya terasa berada di dunia lain. Selain Yusuf, yang bisa membuat jantung Bilqis bertalu-talu adalah William.
"Kenapa aku jadi seperti ini?" tanya Bilqis pada dirinya sendiri.
"Ada apa?" tanya Asma ketika mendengar sahabat baiknya itu bergumam.
"Tidak. Aku hanya sedang bicara sendiri saja," jawab Bilqis.
"Oh. Aku kita kamu sedang membicarakan Bule ganteng tadi. Eh, siapa namanya? Willi … William," ucap Asma menggoda Bilqis.
"Kamu itu ada-ada saja!" Bilqis dengan cepat memalingkannya wajahnya. Dia yakin kalau Asma bisa melihat rona di pipinya ketik nama William disebut.
"Tapi, beneran loh. Kamu cocok dengannya. Dia itu ganteng, baik, perhatian, dan yang pasti kaya raya," kata Asma menggoda Bilqis.
"Aku tidak mau memikirkan laki-laki dahulu. Sekarang memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa punya uang dan tempat tinggal," balas gadis berjilbab itu.
"Kamu bisa dapatkan itu semua jika kamu menikah dengan laki-laki itu," jelas Asma sambil tersenyum menggoda di anak perawan yang pemalu itu.
"Kamu kok gitu? Nggak baik memanfaatkan orang lain hanya untuk ego kita. Bisa-bisa kita akan celaka nanti," ucap Bilqis dan Asma pun meminta maaf.
***
William mendatangi rumah Fatih. Dia ingin bertemu dengan si Kembar. Niatnya ingin menghibur Rayyan yang sedang sedih karena masih di hukum.
"Baby, di mana anak-anak?" tanya William begitu mereka bertemu.
"Raya di kamarnya sedang tidur. Kalau Ian sedang bermain ke rumah Asiah," jawab Mentari.
Maka, William pun masuk ke kamar si bungsu. Dia mendapati Raihan sedang asik bermain game.
"Ian? Oh … no! Kalian sudah membohongi Bunda," ucap William ketika mendapati si sulung yang ada di kamar.
"Stttt …! Daddy, diam!" Raihan meletakan jari telunjuknya di bibir.
"Raya ingin bertemu sekali dengan Asiah. Apalagi Asiah kini sudah pindah sekolahnya," ucap Raihan.
"Kalian ini, tidak baik membohongi orang tua. Jangan diulangi, apalagi jadi kebiasaan," pungkas William.
"Opa, apa Raya sudah bangun?" Terdengar suara Mentari saat membuka pintu kamar.
Raihan cepat-cepat menutup tubuhnya dengan selimut karena Bundanya bisa langsung tahu jika sudah dikelabui oleh mereka.
__ADS_1
"Sepertinya dia masih mengantuk. Biarkan saja dia tidur," balas William sambil mengajak Mentari keluar kamar.
***
Zulaikha kini ingin dekorasi pernikahannya mengusung konsep indoor bernuansa gold. Namun, Maharani menyuruhnya jangan gold lebih baik ke nuansa putih. Berbeda dengan sang mertua yang lebih suka banyak bunga warna-warni.
"Aku maunya emas semua. Nanti aku dan Ang Ucup seperti berada ditumpukkan emas harta Karun," ucap Zulaikha sambil tertawa.
Maharani mengerutkan keningnya. Dia tidak bisa membayangkan imajinasi putrinya. Justru kalau warna kuning emas itu terasa gelap kurang terang benderang.
"Lebih bagus nuansa putih. Terlihat suci dan bersih. Setuju nggak Bu Besan?" Maharani mencari dukungan pada Ibunya Yusuf.
"Iya. Ibu juga lebih suka nuansa putih dibandingkan dengan kuning," lanjut Hajar.
"Aku akan tanya sama suami aku nanti. Dia mau memilih kuning atau putih?" ujar Zulaikha.
***
Zulaikha merasa penasaran dengan kedua bocah yang sejak tadi asik bermain. Dilihatnya kedua bocah itu sedang main ular tangga. Suara Asiah yang teriak-teriak karena tidak mau kalah sama Rayyan.
"Tidak … tidak … tidak!" teriak Asiah.
"Maaf Asiah, pion kami mati lagi," ucap Rayyan tersenyum jahil.
"Kamu curang karena dadu kamu yang keluar nilai enam terus," pekik Asiah.
Melihat Asiah dan Raihan (Rayyan) membuat Zulaikha juga ingin ikut bergabung. Dia jadi teringat akan masa kecilnya yang singkat namun berharga. Masa-masa yang menyenangkan bersama di Trio Kancil dulu.
"Mama Zulaikha boleh ikutan nggak?" kata Zulaikha dengan wajah memelas supaya diizinkan ikutan.
"Asiah, kita akhiri permainannya. Sebentar lagi Ashar, aku harus pulang," kata Rayyan.
"Besok ke sini lagi, ya?" Asiah menatap penuh harap.
"Aku tidak tahu. Apa bisa bermain bersama lagi atau tidak. Tapi semoga saja masih bisa," balas Rayyan.
Asiah mulai terisak dia belum menemukan teman di sekolah barunya. Kalau dulu saat Asiah pindah, dia langsung punya banyak teman. Namun, di sekolahan sekarang dia tidak bisa langsung menemukannya.
Padahal Zulaikha memasukan ke sekolah bertaraf internasional. Kalau dulu berbasis Islam.
"Kok, sudah-an mainnya? Apa karena aku juga mau ikutan?" tanya Zulaikha.
__ADS_1
"Tidak Kal Zulaikha. Ini sudah sore dan aku sudah harus pulang. Bunda bisa marah," jawab Rayyan.
Rayyan pun pamit hendak pulang. Meski Asiah beberapa kali sempat menahannya agar jangan dulu pulang.
***
Rayyan buru-buru masuk kamar sebelum ketahuan sama yang lain. Ternyata ada Raihan dan William sedang asik main PS.
"Daddy sejak kapan datang?" tanya Rayyan sambil mencium tangan William dengan takzim.
"Tadi setelah kamu pergi. Nakal ya kalian berdua! Sudah membohongi Bunda," ujar William.
"Itu … karena kita tidak bisa bermain bersama Asiah," balas Rayyan.
"Bagaimana kabar Asiah?" tanya Raihan.
"Kasihan. Dia tidak bisa langsung punya teman. Katanya murid-murid di sana juga melihatnya aneh karena berjilbab," jawab Rayyan.
"Emangnya di sama tidak ada sekolah baru itu tidak ada murid yang muslim?" tanya William.
"Banyak. Hanya saja mereka tidak pakai jilbab. Katanya masih anak-anak jadi tidak perlu pakai jilbab," jawab Rayyan.
"Oh. Daddy juga dulu cuma sendiri yang berambut kuning. Kalau mata biru, Uncle Alex juga biru. Kalau bertampang Bule, Ayah kalian juga wajahnya bule. Karena kita di sekolah umum sejak TK, jadi nggak merasa sakit hati saat di tatap aneh. Apalagi mereka bilang 'bule' atau 'bule gila!' itu bukan karena mereka benci pada kita. Kita juga berteman dan bermain bersama di sekolah. Mereka hanya mengejek atau bercanda saja. Mungkin Asiah juga sama, dia belum menemukan teman yang cocok dengannya," ujar William.
"Tadi kamu dan Asiah bermain apa saja?" tanya Raihan.
Rayyan pun menceritakan semua yang sudah terjadi selama di rumah Zulaikha tadi. Rayyan bercerita sambil mengganti baju dan tatanan rambut seperti semula.
"Ian … Raya!" Di waktu yang bersamaan Mentari masuk ke kamar si Kembar.
Kedua anak itu mendadak mematung. Mereka takut ketahuan kalau sudah berganti peran.
"Ada apa Baby," ucap William.
"Aku merasa tadi lihat Raya di depan rumah," ujar Menteri.
"Kamu kelelahan, Baby. Sebaiknya kamu beristirahat saja, ingat kamu sedang hamil," ucap William.
'Puih! Hampir saja ketahuan,' ucap Rayyan dan Raihan bersama dalam hati.
***
__ADS_1
Hampir saja ketahuan 😁😁😁. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya? Jangan lupa untuk selalu kasih dukungan untuk aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Kasih semangat dengan Like dan Komentar 🤗🤗🤗🤗