
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga urusan teman-teman juga dimudahkan.
***
Bab 112
Rain dan Rania menjalani kehidupan rumah tangganya dengan lebih bahagia. Bahkan tanpa diketahui oleh orang-orang, mereka juga sudah pergi berbulan madu. Liburan Rania diisi dengan berbulan madu keliling Indonesia bagian Timur, Bali, Nusa Tenggara, Papua, dan Sulawesi. Mereka menikmati waktu dua minggu itu layaknya pengantin baru pada umumnya.
Rain dan Rania menjalani KB kalender. Mereka menjalani itu sudah empat bulan ini. Rania berkeinginan saat kuliah nanti lepas program KB ini. Mau hamil atau tidak, dia sudah siap.
Baik Rain maupun Rania tidak pernah memberi tahu sejauh mana hubungan mereka kepada siapa pun. Itu karena Rania merasa malu, jika diketahui oleh lain sudah tidak perawan. Padahal dia masih duduk di kelas Xll SMA. Meski dia melakukan itu dengan suaminya, laki-laki yang berhak atas dirinya.
"Humairaku cantik sekali hari ini," puji Rain saat melihat Rania memoles sedikit wajahnya dengan make up tipis.
"Bukannya seorang istri harus berpenampilan menarik dan cantik saat berada didekat suaminya," kata Rania sambil berjalan ke arah Rain lalu memeluk dan mencium pipinya.
"Jangan menggoda aku, Sayang. Malam ini aku harus lembur," kata Rain sambil membalas pelukan istrinya dan mencium kening Rania cukup lama.
"Lembur … lembur, jam sembilan tahu-tahu sudah ngajak ibadah bersama lagi seperti malam-malam sebelumnya," balas Rania dengan tatapan mata yang menggoda Rain.
"Itu karena kamu yang selalu menggoda aku duluan," ucap Rain dengan kedua tangannya menangkup wajah Rania di kedua sisi.
"Nia nggak menggoda, hanya memberikan air minum untuk suaminya yang sedang bekerja. Namun, ujung-ujungnya Kakak mengajak mengarungi nikmatnya surga dunia," bantah Rania dengan bibir sedikit manyun.
"Kalau mengantarkan minuman pakai lingerie, apa itu bukan namanya menggoda?" Rain meletakan kedua tangannya di belakang tubuh istrinya.
"I-tu … 'kan, Kakak sendiri yang menyediakan pakaian seperti itu," gerutu Rania.
Padahal dulu dia sempat menolak baju-baju seperti itu. Namun, suaminya bilang suka saat melihat Rania memakai baju dinas malam, jadi dia pakai tiap malam. Akibatnya, Rain rajin ngajak beribadah malam. Hanya saat subur dan Rania sedang datang bulan saja mereka tidak melakukan hubungan badan.
"Itu karena kamu selalu terlihat sangat menggoda di mataku, Ya Humaira. Aku jadinya suka lupa diri," bisik Rain.
"Kak, aku boleh nggak kuliah di luar negeri?" tanya Rania.
__ADS_1
"Dimana?" tanya Rain.
"Amerika. Alin bilang dia akan kuliah di sana. Apalagi Kak Ian akan mengawasi perusahan ayah yang berada di benua Amerika. Chelsea juga akan kuliah di sana. Dia akan tinggal dengan Kak Angkasa selama kuliah di sana," jelas Rania.
"Lalu, kamu mau tinggal bersama siapa?" tanya Rain.
"Aku bisa tinggal di mana saja," jawab Rania dengan senyum manisnya.
"Tidak akan aku izinkan," ucap Rain dan membuat wajah Rania mendadak sendu, kesal, dan ngambek. Lalu, dia menjauhkan diri dari suaminya.
"Nia mau tidur di kamar sebelah. Awas jangan ikutan!" ancam Rania berkata dengan pelan.
Rain hanya tersenyum geli karena istrinya itu masih kadang ke kanak-kanak. Dia mana mungkin membiarkan Rania jauh darinya. Lagian, Rania sekarang sering mengalami kesulitan tidur, jika tidak memeluk dirinya. Begitu sebaliknya dengan dirinya juga, tidak bisa tidur dengan nyenyak jika tidak memeluk dan mengirup wangi tubuh istrinya.
***
Rain pulang kerja dengan lesu. Dia merasa sangat lemas hari ini. Rania lagi datang bulan jadi sensitif. Salah ucap sedikit saja dia langsung mendiamkan dirinya.
Saat pulang ke rumah terlihat Rania sedang belajar karena sebentar lagi akan ujian akhir semester. Meski sedang ngambek atau marah dia tidak lupa untuk menyambut kepulangannya. Mencium tangan dan membuatkan air minum untuknya.
Melihat suaminya lemas dan lesu seperti itu, membuat Rania iba. Lalu, dia pun memegang kening, leher, dan tengkuknya.
"Kak Rain, sudah makan … belum?" tanya Rania.
Rain menggelengkan kepala. Napas makannya hilang karena terlalu memikirkan Rania yang masih gambek padanya.
"Ish, kenapa Kakak belum makan?" tanya Rania dengan kesal.
"Tidak napsu makan. Apapun makanan yang masuk ke dalam mulut terasa pahit," jawab Rain.
"Ya Allah, Kak Rain sedang sakit? Yuk, kita ke dokter!" ajak Rania. Tangan kiri merangkul leher dan tangan kanan mengusap kepala Rain.
"Sakit aku ini, dokter tidak akan bisa mengobatinya," ucap Rain.
__ADS_1
"Ini penyakit apa? Bukannya setiap penyakit pasti ada obatnya," ujar Rania masih memeluk kepala Rain.
"Iya, dan obatnya adalah kamu," balas Rain.
"Kok, aku obatnya?" tanya Rania tidak mengerti.
"Kamu sudah mendiamkan selama tiga hari ini," jawab Rain.
"Astaghfirullahal'adzim, Kak Rain. Aku tidak mendiamkan Kakak. Aku … aku juga sedang menahan rasa sakit di perutku. Jadi, aku tidak ada gairah untuk berbicara. Ditambah banyak tugas di sekolah," bantah Rania.
"Nggak, kamu selalu mendiamkan aku. Aku tanya, jawabnya hanya 'Hn' atau 'ya' saja. Paling panjang 'tidak tahu'." Rain menatap Rania dengan tatapan nanar.
"Beneran Kak, aku tidak ada niatan mengabaikan Kakak. Tunggu, aku buatkan dulu makanan," kata Rania.
Rania pun membuat lontong isi sayuran dan daging. Kalau nasi takutnya malah membuat lambung Rain lebih sakit. Dia juga membuat pepes tahu. Untungnya tadi dia mendapatkan daun pisang di kebun belakang yang diambilkan oleh Bi Nur.
Selama Rania memasak, Rain membersihkan diri. Lalu, duduk manis sambil memerhatikan istrinya memasak. Padahal, di meja makan sudah ada nasi, sayur lodeh, asin, sambal, dan tempe goreng. Makanan kesukaan Rain. Lidahnya dia itu citarasa Nusantara. Sejak kecil dia lebih menyukai masakan Indonesia. Rata-rata masakan Indonesia semua keluarganya itu suka.
Rania mengambil kipas kecil dan membuka bungkus daun pisang itu agar cepat dingin. Setelah itu dia menyuapi suaminya. Mungkin saking laparnya Rain sampai habis 3 lontong yang berukuran besar dan 3 bungkus pepes tahu.
"Masih mau nambah lagi?" tanya Rania dan Rain menggeleng.
"Ya sudah. Sebentar lagi juga maghrib," lanjut Rania sambil membereskan semua sampah daun pisang bekas makan.
Rania tanpa sengaja menyenggol tangan Rain dan handphone milik suaminya itu sampai jatuh ke lantai. Betapa terkejut dan paniknya kedua orang itu.
"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja," kata Rania sambil mengambil handphone milik Rain.
"Apa ini?" Tangan Rania tidak sengaja menyentuh bagian galeri foto di handphone itu.
"I-tu, aku bisa jelaskan," balas Rain.
***
__ADS_1
Ada apa di dalam galeri foto handphone milik Rain? Tunggu kelanjutannya, ya!