
Ruang rawat inap Yusuf kini ramai oleh celotehan Asiah. Anaknya itu banyak bertanya, kenapa Ayahnya tidak lihat kiri dan kanan saat menyebrang? Bagaimana rasanya saat kepalanya dijahit? Kenapa harus di infus? Kapan bisa pulang? Rentetan pertanyaan itu di jawab dengan sabar oleh Yusuf. Dia senang melihat putrinya yang masih riang dan banyak bertanya seperti biasanya. Kini putrinya itu tertidur di sampingnya karena kelelahan.
"Om, aku sudah bawakan baju ganti." Zulaikha menyerahkan tas jinjing yang berisi baju Yusuf yang dibawanya tadi dari apartemennya.
"Terima kasih. Maaf sudah merepotkan kamu," ucap Yusuf.
"Jangan sungkan begitu dong, Om! Aku 'kan sedang belajar menjadi istri idaman yang sholeha. Jadi, nanti sudah bisa mengurus suami," bisik Zulaikha diiringi senyum manisnya yang malu-malu.
Yusuf hanya terkekeh melihat kelakuan tetangganya itu. Saat Zulaikha masuk tadi, dia sempat terkejut karena si gadis nakalnya itu terlihat sangat cantik dan mempesona. Jarang-jarang anak perawan itu dandan dan berpenampilan anggun begini. Apalagi wajahnya berpoles make up dan terlihat lebih dewasa dari usianya.
Yusuf pun ingin mandi sekalian ganti baju. Untungnya Zulaikha membawa semua perlengkapan mandinya.
"Om, mau dibantu sama aku, mandinya?" tanya Zulaikha polos karena sebelah tangannya dibalut.
Yusuf malah menyentil kening Zulaikha. Wajahnya memerah karena malu.
'Ini anak apa nggak punya rasa malu sama sekal' gerutu Yusuf, tetapi merasa gemas akan tingkah Zulaikha.
"Apa kamu tidak malu? Melihat tubuh telanjang laki-laki dewasa!" gusar Yusuf.
"Eh, emang apa bedanya dengan melihat tubuh telanjang sendiri. Aku rasa semua tubuh itu sama nggak ada bedanya," tukas Zulaikha tanpa beban.
Yusuf terasa ditinggang sama batu besar, mendengar ucapan Zulaikha.
"Apa kamu sering melihat tubuh laki-laki dewasa?" tanya Yusuf penasaran.
"Sering! Bahkan hampir tiap hari—" ucapan Zulaikha terpotong.
__ADS_1
"Apa?" teriak Yusuf saking terkejutnya, wajahnya sampai pucat.
"Iya, Om. Tuh di poster-poster atau iklan-iklan yang menampilkan tubuh para lelaki dewasa," balas Zulaikha.
"Emang poster dan iklan apaan yang menampilkan tubuh laki-laki?" tanya Yusuf.
"Ada iklan susu agar perutnya kotak-kotak. Ada iklan pakaian dalam, ada poster iklan liburan di pantai. Apa lagi, ya?" Zulaikha berpikir karena agak lupa sebagiannya lagi.
Yusuf entah harus beraksi seperti apa sekarang. Saat dia mendengar jawaban Zulaikha.
"Sudahlah, Om bisa mandi sendiri!" Yusuf pergi ke kamar mandi.
***
Setelah mandi Yusuf mencoba bubur yang dibuatkan oleh Zulaikha. Dia menghargai jerih payah si nona muda yang dengan bangga bilang membuat bubur dengan rasa cinta.
"Bubur enak nggak, Om?" tanya Zulaikha ketika menyuapi Yusuf. Dia tadi bersiap kukuh mau menyuapi karena tangan kanan Yusuf terluka dan masih sakit saat digerakan.
Zulaikha pun memakannya. Memang terasa sangat asin sekali. "Asin"
"Benarkan? Nanti kamu kalau buat kurangi takaran garamnya," lanjut Yusuf.
"Sebagai gantinya, nanti aku kasih yang manis," balas Zulaikha sambil menyuapi kembali bubur asin itu ke mulut Yusuf. Mau nggak mau si duda menelannya.
Walau rasa buburnya sangat asin, tetapi Yusuf menghabiskan semuanya. Entah karena sangat lapar atau karena menghargai usaha Zulaikha.
"Lalu, yang manisnya mana?" tanya Yusuf karena lidahnya terasa kebas.
__ADS_1
"Ini!" Zulaikha memonyongkan bibirnya hendak mencium Yusuf. Namun, dengan cepat dia memalingkan dan menjauhkan kepalanya.
"Zulaikha! Kamu apa-apaan! Ingat kita bukan mahram!" geram Yusuf.
"Katanya ingin yang manis. Aku 'kan nggak bawa gula," lirih Zulaikha.
"Ah, sudahlah. Sana kamu pulang! Bukanya besok masih sekolah," perintah Yusuf.
"Nggak mau! Aku mau menginap di sini bersama dengan, Om!" tolaknya.
Sifat keras kepala Zulaikha nggak akan bisa Yusuf kalahkan. Jika, dia sudah bilang begitu, nggak akan mudah untuk merubahnya.
***
Zulaikha pun tidur di sofa. Saat ada perawat yang melakukan pengecekan. Yusuf minta satu lagi selimut untuk Zulaikha. Dia merasa kasihan saat melihat gadis itu tidur meringkuk.
Yusuf menyelimuti tubuh si gadis nakal itu dengan agak kesusahan. Sebelah tangan memakai alat penyanggah dan sebelahnya lagi di pasang selang infus.
Wajah Zulaikha ketika tidur sangat menggemaskan bagi Yusuf. Ingin rasanya dia membelai muka yang terlihat tenang itu. Namun, dengan cepat dia menegakan tubuhnya dan kembali ke bankarnya tidur bersama Asiah.
***
Yunus dengan setia menunggu tak jauh dari ruangan Yusuf. Bukan hal yang aneh dalam pekerjaannya dia harus stand by selama 24 jam non stop. Sambil menunggu kebosanannya dia berselancar di dunia maya atau main game.
Sampai tengah malam ada gerak gerik mencurigakan yang berkeliaran di depan ruang rawat inap, di mana Yusuf berada. Yunus pun mendekati orang itu.
__ADS_1
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.