
"Raya?" Fatih terkejut melihat putra bungsunya di sana.
"Ayah! Ada bom waktu di sana!" tunjuk Rayyan ke dalam kolong.
"Apa?" Keempat orang dewasa dan beberapa orang di sana terkejut mendengar ucapan Rayyan.
Orang-orang langsung panik mendengar ada bom di ruangan ballroom. Namun, Fatih mencoba menenangkan mereka.
"Raya, jaga Bunda!" titah Fatih pada putranya.
"Ada apa lagi?" Yusuf datang tergopoh-gopoh mendekati mereka.
Fatih masuk ke dalam kolong meja dan terlihat kotak bom yang waktunya tinggal 30 detik lagi. Dengan cekatan dia memotong kabel yang terpasang pada bom waktu itu menggunakan pisau buah yang kebetulan ada di dekat dia tadi untuk memotong stok buah jika kekurangan untuk di sajikan pada tamu.
"Ya Allah, lindungilah kami, selamatkan lah kami semua," kata Fatih berdoa sambil memotong kabel yang terasa liat dan sulit dipotong. Ada 4 buah kabel di sana dengan warna yang berbeda. Harus benar memotongnya sesuai urutan jika salah dalam memotong kabelnya. Bisa-bisa bom meledak saat itu juga.
Untuk menghilangkan kegugupan dan menenangkan hatinya. Fatih memotong kabel-kabel itu sambil bersholawat.
Mentari yang ketakutan menangis dan ingin menghentikan aksi gila suaminya. Namun, William menahannya agar Mentari tidak mengganggu konsentrasi Fatih dalam menjinakkan bom.
"Mas!" panggil Mentari.
"Baby, tenang! Dia akan baik-baik saja," ucap William sambil memeluk tubuh ibu hamil itu.
"Oppa, aku takut terjadi sesuatu pada Mas Fatih," bentak Mentari sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan mantan suaminya itu.
Melihat wanita yang selalu bisa bersikap tenang kini menjadi garang, membuat William tersadar akan kenangannya dulu. Wanita ini akan gila jika ditinggalkan lagi oleh orang yang dicintai olehnya.
"Mentari! Tenang. Dia akan baik-baik saja, jika tidak terganggu dengan suara tangismu. Apa kamu mau mengorbankan dia dan kita semua!" lirih William dengan tatapan terluka sekaligus memohon.
Bilqis melihat dengan kepala matanya sendiri kalau duda bule ini masih sangat mencintai mantan istrinya. Melihat kenyataan ini, dada dia terasa sakit dan napasnya sesak.
'Pantas saja kamu tidak bisa melupakan mantan istrimu. Karena cinta kamu begitu besar dan masih untuk dia. Sehingga sekuat apapun para wanita diluar sana tidak akan bisa masuk ke dalam hatimu.' Bilqis menatap William yang masih memeluk tubuh Mentari.
'Ya Allah, ini kabel kenapa sulit sekali terpotong. Masih ada dua lagi,' kata Fatih dalam hati sedangkan mulutnya masih melantunkan sholawat. Waktu tinggal 13 detik lagi.
Zulaikha memeluk tubuh Yusuf. Dia benar-benar takut. Kalau benar itu adalah sebuah bom yang akan meledak sebentar lagi.
__ADS_1
"Aang, jika kita mati sekarang. Aku mau minta maaf belum bisa menjadi istri yang baik. Maafkan segala kesalahan aku, ya? Semoga kita berjodoh lagi di surga nanti. Aku mencintaimu, suamiku!" Kata Zulaikha sambil menahan tangisnya.
Pengantin wanita ini merasa kebahagian baru saja dia rasakan dalam hidupnya. Namun, sekarang harus berhadapan dengan maut lagi.
"Sayang, kamu bicara apa? Kita semua akan selamat. Jangan putus asa begitu." Yusuf pun memeluk tubuh Zulaikha.
Sementara itu, Fatih sedang bergerak cepat berpacu dengan waktu yang tinggal 7 detik lagi.
7 detik
'Ya Allah, permudahkan lah!'
6 detik
'Tenang Fatih.'
5 detik
'Zahra? Kenapa? Apa kamu mau menjemputmu?'
Fatih merasa ada Zahra di depan matanya sedang tersenyum padanya.
'Mentari … Raya. Setidaknya aku ingin orang-orang yang aku cintai dan sayangi bisa selamat.'
3 detik
'Ya Allah aku pasrah akan takdir yang Engkau berikan padaku.'
2 detik
'Ampuni semua dosa-dosaku, Ya Allah.'
1 detik
"Aku masih ingin hidup.'
SRET!
__ADS_1
0 detik
Fatih menahan napasnya. Kemudian dia terduduk lemas. Keringat bercucuran. Air matanya mengalir. Dia merasa senang karena berhasil meski nyaris saja.
"Mas Fatih!" teriak Mentari.
Zulaikha memeluk erat tubuh suaminya. Dia pasrah saja jika ini adalah hari terakhirnya.
"Ayah …." Rayyan memanggil Ayahnya.
Semua orang sudah pasrah. Ketegangan menyelimuti ballroom tempat pesta berlangsung.
Setelah merasa tenang. Fatih pun keluar dari kolong meja itu.
"Mas!" Mentari berlari ke pelukan suaminya. Fatih pun menyambut pelukan istrinya. Adegan selanjutnya adalah sebuah ciuman manis mereka lakukan di hadapan orang banyak.
"Aiiiish, jangan salahkan anaknya mencium anak gadis orang. Kalau kalian juga melakukan hal itu di depan umum begini," gerutu William.
"So sweet banget mereka! Aang aku juga mau kayak mereka," kata Zulaikha.
"Aku tidak masalah. Tapi kamu akan malu ng—" perkataan Yusuf terpotong oleh ciuman Zulaikha. Para tamu undangan pun bersorak, menyoraki mereka yang sedang berciuman.
Bilqis mukanya kini merah padam karena ada dua pasangan di depan mata sedang berciuman mesra. Kemudian dia tidak bisa melihat karena ada seseorang menutup matanya.
"Jangan lihat!" bisik William yang berdiri di belakangnya.
Jantung Bilqis bertalu-talu saat ini. Tangan hangat William yang satu menutup matanya sedangkan yang satunya melilit perutnya. Dia ingin protes dan marah. Namun, mulutnya malah terasa kelu.
"Ada apa ini?" tanya Alex yang baru saja datang bersama Cantika setelah mandi dan ganti baju di kamar hotel miliknya.
"Ada bom di bawah meja, Uncle," jawab Rayyan.
"Raya!" Asiah berlari kemudian memeluk tubuh Rayyan.
Anak laki-laki itu membelalakkan matanya. Dia sangat terkejut karena tiba-tiba saja Asiah memeluk tubuhnya.
'Gawat! Ayah pasti marah lagi!' Rayyan berteriak dalam hatinya.
__ADS_1
***
😁😁 Nah Rayya kamu terciduk lagi. Apakah akan di tambah hukumannya 😏? Apakah pesta masih akan berlanjut atau bubar 🤔? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote juga. Tidak lupa transfer energi kalian dengan Like dan Komentar 🤗🤗.