Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 73. Guru Baru Mengincar Rania


__ADS_3

     Rania diantarkan oleh Rain ke sekolah seperti biasa. Mereka sudah dalam mood baik lagi. Rania juga sudah ceria dan banyak bicara lagi kepada Rain. 


"Nanti pulang aku jemput," kata Rain.


"Tidak perlu, Kak. Sopir dari rumah Bunda yang akan menjemput kami pakai mobil yang isinya muat banyak orang," kata Rania sambil membuka sabuk pengaman.


"Memangnya akan ada berapa orang yang ikut ke rumah Bunda?" tanya Rain sambil menerima uluran tangan istrinya.


"Delapan orang. Empat murid laki-laki dan empat murid perempuan termasuk aku," jawab Rania lalu mencium tangan Rain.


"Apa? Ada murid laki-laki! Kok, bisa?" Rain terkejut dan tidak melepaskan tangan Rania sehingga gadis itu tertahan.


"Aku baru tahu tadi pagi kalau kita mau kerja kelompok satu tim," jawab Rania.


"Jangan bilang kalau Charles dan Barkah juga ikut tim kamu!" kata Rain ngedumel.


"Kok, Kak Rain tahu sih, kalau mereka itu satu tim dengan aku," balas Rania.


"Jadi, beneran kedua orang itu akan ikut kerja kelompok di rumah Bunda?" tanya Rain tidak percaya.


"Ya, iyalah! Namanya juga satu tim pastinya akan ikut, dong," jawab Rania dengan memutar bola matanya.


"Jangan sampai murid laki-laki itu ikut menginap di rumah Bunda. Kalau sampai itu terjadi, maka aku akan ikut tidur di kamar kamu," ujar Rain dengan tatapan mata dengan sungguh-sungguh.


"Aku mau tidur ikut sama Ayah dan Bunda. Kak Rain mau ikutan juga? Kayaknya bakal seru kalau kita tidur bersama," kata Rania sambil tersenyum geli. Sementara itu, Rain diam bisu tidak tahu harus membalas apa.


"Nia mau sekolah dulu. Assalamu'alaikum, Kak Rain." Rania pun keluar dari mobil milik suaminya dengan senyum lebar. Dia merasa puas sudah menjahili suaminya. Semalam dia sempat curhat kepada Chelsea dan merencanakan hal seperti barusan.


     Rain sangat kesal. Dia ingin marah tapi tidak bisa. Ingin berteriak takut disangka yang tidak-tidak oleh orang lain.


     Rain tidak melajukan mobilnya. Malah terus memperhatikan Rania yang berjalan kepada Chelsea. Dia yakin kalau keduanya kini sedang menunggu Alin yang sering datang paling belakangan.


     Sebuah mobil sport berhenti di dekat Rania. Terlihat kalau gadis itu bicara dengan orang yang ada di dalam mobil itu. Rain tidak melepaskan pandangannya dari istrinya.


"Siapa orang yang berada di dalam sana?" gumam Rain lalu dia mengetik nomor plat mobil itu dan meminta seseorang untuk melacak kepemilikan kendaraan itu.


     Mobil milik Raihan sudah datang dan tidak lama kemudian Alin keluar dari dalam mobil sport warna merah. Terlihat gadis itu menarik napasnya lalu berlari ke arah Rania dan Chelsea.


     Rain pun memberi kode kepada Raihan. Keduanya melajukan mobil masing-masing ke arah kantor milik Rain yang tidak terlalu jauh dari sana.


***


      Asiah hari ini sedang dalam mood baik. Senyumnya terus terukir bahkan sebelum turun dari mobil Rayyan dia meminta ciuman manis pada suaminya. 


"Ayo, Asiah! Kamu cari teman yang baik yang tidak membuat kamu jadi istri durhaka," kata Asiah pada dirinya sendiri.

__ADS_1


      Langkah Asiah terlihat ringan dan dia pun sesekali tersenyum pada orang yang berpapasan dengannya. Atau dia juga menyapa orang-orang yang ditemuinya.


      Saat masuk ke kelas pun dia masih tebar senyum dan sapa pada teman-temannya. Sulaiman merasa aneh karena Asiah jadi terlihat sangat ramah kepada semua orang.


"Assalamu'alaikum, Sulaiman," sapa Asiah.


"Wa'alaikumsalam, Asiah. Tumben terlihat cerah hari ini, pasti ada cerita yang aku lewatkan?" Sulaiman sangat penasaran apa yang sudah membuat sahabatnya itu menjadi seperti ini.


"Hm, aku sudah putuskan akan mencari teman sebanyak mungkin, tetapi tidak akan ikutan kalau mereka melakukan sesuatu yang tidak baik," kata Asiah dengan senyum manisnya dan hal itu membuat Sulaiman terpesona.


"Aku setuju dengan apa yang kamu lakukan sekarang. Carilah teman sebanyak mungkin, dan jangan cari musuh meski cuma satu orang," ucap Sulaiman.


"Iya. Aku ingin buktikan kepada Raya, kalau aku bisa berteman dengan siapa saja tanpa terbawa pengaruh buruk mereka," pungkas Asiah.


"Aku juga akan mengingatkan dirimu, jika kamu berteman dengan orang yang tidak benar atau sudah melewati batas," ujar Sulaiman lagi.


"Terima kasih, Sulaiman. Aku juga akan lebih hati-hati dalam mencari teman," kata Asiah.


***


      Kedatangan Rayyan pun disambut dengan senyuman pada dosen wanita, terutama Angela. Wanita itu terlihat jelas kalau dia menaruh hati pada pemuda tampan itu.


"Pagi Pak Rayyan, bagaimana kabar Anda?" tanya Angela diiringi senyum cantiknya.


"Pagi. Alhamdulillah, baik," jawab Rayyan.


"Pak Rayyan membawa bekal?" tanya Angela.


"Iya, istriku yang menyiapkannya karena hari ini jadwal aku sampai waktu jam makan siang di kampus ini," jawab Rayyan dengan jujur.


"Pak Rayyan sudah sudah menikah?" tanya Angela dengan nada terkejut dan sorot mata tidak percaya.


"Ya, sudah hampir satu tahun," balas Rayyan mungkin lebih tepatnya mau sembilan bulan.


"Bukannya usia Anda baru dua puluh tahun," ucap Angela lagi.


"Mau dua satu, Bu Angela," ujar Rayyan.


"Anda sudah menyia-nyiakan masa muda ini. Padahal di usia Anda saat ini adalah waktunya menikmati masa-masa indah," pungkas Angela.


"Maaf, Bu Angela. Aku sangat menikmati masa muda aku ini dengan bahagia bersama pasangan halal aku. Dan aku juga merasa tidak menyia-nyiakan waktu yang aku punya. Permisi, ya. Aku mau masuk ruangan," ujar Rayyan lalu masuk ke ruangannya dan menutup pintu itu.


     Angela langsung merasa patah hati. Laki-laki incarannya sudah punya pasangan. Dia tidak percaya kalau Rayyan yang menjadi idola baru di kampusnya sudah punya seorang istri.


"Kalau kekasih masih bisa aku tikung. Ini istri, bisa-bisa aku jadi pelakor," gumam Angela masih berdiri di depan pintu ruangan Rayyan.

__ADS_1


***


"Selamat pagi, semuanya! Kenalkan ini guru baru yang akan mengajar pelajaran ekonomi. Kenalkan namanya Pak Ibrahim atau kalian boleh panggil Pak Baim," kata Wakil Kepala sekolah yang berdiri di depan ruang belajar kelas Rania.


     Rania, Alin, dan Chelsea sangat terkejut melihat laki-laki yang menyapanya dari mobil tadi pagi itu kini berdiri dan memperkenalkan dirinya sebagai guru pengganti karena guru ekonomi sebelumnya sedang sakit dan akan menjalani operasi, setelah itu butuh masa pemulihan kesehatannya.


"Nia, dia itu laki-laki yang tadi sok kenal sama kamu, 'kan?" bisik Alin di kursi belakang.


"Sttt, diam. Nanti kita dimarahi kalau bicara," bisik Chelsea.


     Sementara itu, Rania sendiri sedang nggak mood diajak bicara. Dia hanya menatap malas guru barunya yang sejak tadi sering melihat ke arahnya.


"Nia, Pak Baim sepertinya melihat ke arah sini," bisik Alma yang duduk semeja dengan Rania.


"Biarkan saja, dia kan punya mata, jadi bebas mau melihat ke arah manapun," balas Rania.


"Kalian berempat! Apa yang sedang kalian bicarakan sambil bisik-bisik?" tanya Baim sambil menatap ke arah bangku Rania dan Alin yang ada di barisan paling kanan dekat jendela kaca.


"Sedang membicarakan Bapak," jawab Alin dengan jujur tanpa merasa takut atau bersalah.


     Mendengar ucapan Alin barusan membuat Ibrahim merasa gugup. Dia ingin tahu apa yang sudah mereka bicarakan tentang dirinya.


"Apa yang sudah kalian bicarakan tentang aku?" tanya Ibrahim sambil berjalan ke arah meja Rania.


"Mereka bilang kalau Bapak Baim tampan," celetuk murid yang duduk di meja samping Rania dan membuat Ibrahim tersipu malu.


Rania, Alin, Chelsea, dan Alma saling melirik. Mereka merasa tidak pernah mengatakan kalau guru barunya itu tampan.


"Lain kali kalau mau bicara yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran, kalian bicarakan saat istirahat atau jam pulang sekolah. Aku tampan juga masih muda, baru berusia dua puluh satu tahun," kata Ibrahim sambil menatap Rania.


'Guru ini suka sama Rania!' semua murid bicara dalam hati mereka saat melihat hal itu.


"Lebih tua-an Bapak ternyata," kata Rania sambil tersenyum kaku. Maksudnya dibandingkan suaminya.


"Tentu saja aku lebih tua dari kamu, Nia," bisik Ibrahim sambil membungkukkan tubuhnya dan bicara dekat telinga Rania. Lalu melanjutkan lagi ucapannya, "Sayang."


Rania membelalakkan matanya dan balik menatap guru barunya itu. Dia harap tidak ada teman-temannya yang mendengarkan kata terakhir untuknya. Terutama terdengar oleh Alin dan Chelsea.


'Ini guru, apa sudah gila?' batin Rania berteriak.


***


Saingan Rain sudah muncul, apa Baim akan menyerah atau merebut Rania secara paksa? Apakah Asiah bisa memiliki teman baik yang tidak memberi pengaruh buruk? Tunggu kelanjutannya ya!


Sambil menunggu Rain dan Rania up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru loh. Cus kepoin karyanya.

__ADS_1



__ADS_2