
Rayyan sedang duduk sambil memantau keadaan Asiah. Dia sudah menyuruh dua orang dari tim keamanan keluarganya untuk membuntuti Asiah dan menjaganya. Dia sendiri tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini.
"Tuan Raya, apa sekarang kita langsung bertindak?" tanya salah satu pasukan itu.
"Tidak. Jangan dulu. Biarkan dia melawan semampunya, kalau para berandalan itu sudah melewati batas, baru kalian bertindak," jawab Rayyan.
Sebenarnya melihat istrinya dalam kesulitan membuat hati dan pikiran Rayyan tidak menentu. Namun, dia juga ingin memberikan pelajaran kepada Asiah, kalau perbuatanya itu tidak bisa dibenarkan. Pergi diam-diam tanpa pamit. Terlebih hanya untuk bersenang-senang bersama teman-temannya.
"Setidaknya kejadian ini bisa memberikan efek jera pada Asiah," gumam Rayyan yang melihat Asiah sedang mencoba melawan para berandalan itu.
"Aku ingin lihat seberapa beraninya dirimu menghadapi ini," kata Rayyan bermonolog.
Dilayar laptop terlihat kalau Asiah dan Hana sudah terkepung oleh para laki-laki yang berpenampilan seperti preman itu. Asiah dan Hana terlihat ketakutan dan terdesak.
"Tuan Raya, apa sekarang kita mulai bergerak?" tanya pasukan yang sedang mengintai itu.
"Tunggu, jangan dulu. Biarkan Asiah tahu rasa bagaimana dia mengalami kesulitan. Apa teman-teman yang dia banggakan dan dia sukai itu akan menolongnya?" balas Rayyan.
"Ya, kita juga sudah menghubungi villa tempat mereka berada sekarang. Kita sudah memberi tahu kalau teman mereka sedang di ganggu oleh preman," ucap salah seorang pasukan lainnya.
"Bagus. Aku ingin lihat juga, apa mereka akan cepat datang atau tidak," ujar Rayyan dengan sinis.
"Jika, mereka datang terlambat, bagaimana?" tanya seorang pasukan itu lagi.
"Kalian bergerak saja jika kehormatan Asiah dan Hana sudah terancam," titah Rayyan.
"Baik, Tuan Raya akan kami laksanakan!" ujar kedua orang pasukan keamanan itu.
***
"Tolong! Tolong!" teriak Hana dan Asiah sambil berlari.
"Kita berpencar!" kata Hana.
"Jangan, bahaya!" tolak Asiah sambil menarik tangan temanya itu.
__ADS_1
Para berandalan itu pun mengejar Asiah dan Hana. Mereka tadi sempat terkecoh oleh Asiah yang melakukan perlawanan.
Kecepatan dan kekuatan lari para berandalan itu, bisa menyusul kedua gadis itu. Hana dan Asiah bisa mereka tangkap dengan mudah kali ini. Asiah juga tidak bisa melawan karena tiga laki-laki itu memegangnya dengan sangat kuat kedua tangan dan lehernya.
"Lepaskan!" teriak Asiah dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri.
'Aa, kamu di mana? Kenapa tidak datang untuk menolong aku?' Asiah berkata dalam hatinya.
Dia sadar betapa dirinya ini lemah dan tidak bisa apa-apa tanpa adanya Rayyan di sisinya. Selama ini dia selalu aman dan hidup nyaman karena ada orang-orang yang menyayanginya selalu menjaga dirinya. Namun, kali ini dia pergi diam-diam dan tentu orang-orang yang menyayanngi dan mencintainya tidak tahu keberadaannya saat ini.
'Asiah, kamu baru sadar kalau hanya keluarga dan suamimu lah yang selalu menjaga dirimu agar terhindar dari hal-hal yang berbahaya?' Ada bisikan lain dalam otak Asiah.
'Pikirkan lagi, saat kamu berada di luar negari tanpa adanya keluarga, tetapi tetap aman. Itu karena Raya selalu memantau dirimu dan selalu mengirimkan seseorang untuk menjaga kamu!' suara itu semakin keras dalam pendengarannya.
'Kamu lupa akan janji kamu di depan pusara bunda. Saat kamu berjanji akan menjadi istri yang setia dan penurut yang akan memberikan kebahagiaan untuk pasangan kamu. Ingat janji itu!' Asiah merasa kilasan balik bayangan saat dia dan Raya dulu pernah bertemu sebelum dikirim ke London.
Saat itu mereka bertemu secara diam-diam saat Asiah pulang kampung mau pamitan kepada Kakek, Nenek, dan Abah-nya. Hal yang mengejutkan baginya adalah kedatangan Rayyan ke sana. Dia juga mengunjungi makan Bunda-nya. Di sana Rayyan memperkenalkan diri sebagai calon menantu atau calon suami Asiah. Rayyan berjanji akan menjadikan Asiah seorang istri yang seperti Bunda Aisha. Istrinya yang hebat dan dibanggakan oleh suaminya. Asiah pun berjanji akan menjadi istri yang sholeha, cerdas, setia, dan penurut. Sosok Bunda-nya lah yang menjadi panutan dia.
"Aa, maafkan aku yang sudah jadi istri durhaka," gumam Asiah sambil menangis.
Saat salah seorang dari berandalan itu hendak mencium Asiah. Orang suruhan Rayyan mulai bergerak atas perintahnya.
Asiah dan Hana menghindar dari pergelumulan para laki-laki yang sedang berkelahi adu jotos itu. Asiah tidak tahu kalau kedua orang itu adalah kiriman dari suaminya. Dia menyangka kalau keduanya adalah penduduk di sekitar perkebunan atau villa.
Kesepuluh berandalan itu pun terkapar di jalanan dan tidak bisa bergerak lagi. Asiah dan Hana pun merasa tenang saat melihat itu.
"Terima kasih, Kang. Sudah menolong kami," kata Asiah dan Hana.
"Kalian berdua mau ke mana?" tanya salah seorang pria yang memakai kacamata. Kacamata itu ada alat rekaman yang terhubung ke laptop milik Rayyan dan pusat keamanan keluarga Hakim.
"Kita mau kembali ke villa," jawab Hana.
"Kalau begitu kalian harus berhati-hati, jangan sampai hal ini terjadi lagi," ucap laki-laki itu lagi.
"Iya, Kang. Terima kasih atas pertolongan yang," ucap Asiah.
__ADS_1
"Ayo, Hana! Kita harus cepat-cepat ke pulang," ajak Asiah.
Asiah dan Hana berjalan cepat untuk kembali ke villa, tanpa mereka ketahui kalau laki-laki tadi masih diam-diam mengikuti mereka dari kejauhan. Sementara itu, yang seorang lagi mengurus para berandalan itu. Dia menghubungi tim keamanan Hakim terdekat untuk memberikan pelajaran kepada orang-orang yang sudah membuat Tuan Muda mereka marah.
***
Alin tersenyum kaku saat menyadari dirinya sudah membuat Raihan melotot, yang artinya marah. Dia pun mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf "V".
"Vis, jangan marah," gumam Alin.
Bocah bau kencur kesayangan Raihan itu pun bergeser ke arah Rania. Dia minta perlindungan dari iparnya itu.
"Kenapa?" bisik Rania.
"Kakak kamu, melotot. Berarti dia sedang marah sama aku," balas Alin dengan berbisik.
"Ya, rayu lah, agar dia tidak marah," ucap Rania.
"Benar apa yang dikatakan oleh Alin barusan. Kalau Rain itu laki-laki yang menyebalkan," ucap Raihan.
"Apa maksud kamu Ian?" tanya Rain tidak mengerti.
"Mungin Kiai Samsul, Ummu Habibah, dan Kak Amira tidak tahu. Kalau Rain itu sudah melamar Rania saat masih bayi. Rain sendiri berkata dengan lantang kalau Rania adalah calon istrinya yang saat sudah besar nanti akan dinikahinya. Dia tidak memberi tahu hal ini kepada kalian, berarti Rain itu sangat menyebalkan, bukan?" ujar Raihan.
"Apa?" Ketiga orang itu terkejut.
"Iya, Rain sudah melamar Rania saat dia masih bayi merah. Banyak saksinya saat itu. Kedua orang tuanya juga tahu," lanjut Raihan.
"Kak Ian, itu beneran? Bukan karangan Kakak, 'kan?" tanya Alin penasaran dan kini mendekati suaminya.
"Beneran, untuk apa aku berbohong. Dosa tahu," ucap Raihan sambil mencubit pipi Alin saking gemasnya.
'Akhirbya bisa juga aku cubit nih anak,' batin Raihan.
"Ah~ Kak Rain so sweet, banget!" kata Alin dengan senyum manis di wajahnya. Sementara itu, Raihan membelalakkan matanya.
__ADS_1
***
Apa Asiah akan pulang dan mencari Rayyan? Apa yang akan terjadi di perkumpulan yang ada di rumah Kiai Samsul? Tunggu kelanjutannya ya!