Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Tidak Akan Menyerah


__ADS_3

     Zulaikha pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Yunus hanya menatapnya dan merasa bersalah karena sudah membentak dan memarahinya. Itu dia lakukan juga sebagai bagian dari tugasnya untuk melindungi nyawa nona majikannya. 


     Setelah Yunus selesai bersiap untuk berangkat sekolah. Dia buat sarapan terlebih dahulu untuk mereka.


"Sarapan di sini saja. Aku sudah buatkan untuk kamu. Mulai hari ini aku yang akan memasak. Baik itu untuk sarapan, bekal ke sekolah atau makan malam. Jadi, tidak ada alasan kamu makan di tempat orang lain. Ini demi kebaikan kamu. Bagaimanapun, aku tidak boleh jauh dari kamu atau sebaliknya kamu tidak boleh jauh dariku," jelas Yunus, bicara dengan lembut kali ini.


"Iya, terserah kamu saja. Hanya saja untuk hari ini biarkan saya sarapan di tempat Om. Besok aku akan makan masakan kamu. Tapi, jika rasanya tidak enak ... aku nggak mau memakannya!" balas Zulaikha.


     Yunus menarik tangan Zulaikha, dan memasukan satu sendok nasi goreng buatannya pada mulut sang nona majikan. Lalu bertanya, "Bagaimana rasanya?"


     Zulaikha mengunyah nasi goreng itu dan rasanya cocok di lidahnya. Dia pun menganggukkan kepala dan mengacungi jempol.


     Terlihat wajah Yunus yang tadinya harap-harap cemas, langsung berubah sumringah. Dia tersenyum senang.


"Jadi, masakan aku enak?" Yunus merasa terselip rasa bangga dalam dirinya.


"Tidak. Hanya saja masih bisa di terima oleh lidah aku," jawab Zulaikha.


"Ish, kenapa nggak langsung mengaku saja kalau masakan aku ini enak," kata Yunus sambil bersungut.


***


     Zulaikha sarapan bersama dengan Yusuf dan Asiah. Seperti biasa dia dan Asiah lah yang membuat suasana ramai di pagi hari.

__ADS_1


"Mama Zulaikha, tahu nggak? Kalau nanti Ibu Bilqis mau jadi Bunda baru buat Asiah."


     Kata-kata Asiah barusan bagaikan petir di siang bolong bagi Zulaikha. Dia pun melihat ke arah Yusuf. Namun, laki-laki itu diam dalam makannya. Sepertinya makanan itu lebih menarik baginya dari pada pembicaraan kedua orang di dekatnya.


"Benarkah itu, Om?" tanya Zulaikha, tapi Yunus masih melanjutkan makannya.


"Iya, nanti kita akan tinggal bersama. Bu Bilqis juga akan menginap di sini. Nanti Mama Zulaikha juga ikut tinggal di sini, bersama kita." Asiah masih berceloteh.


"Kayaknya seru juga kalau aku juga ikut tinggal bersama kalian. Kita nanti bertiga akan tidur bersama," ucap Zulaikha dengan mata masih melihat ke arah Yusuf.


***


"Kenapa Om tidak menjawab pertanyaan aku tadi?" tanya Zulaikha tiba-tiba ketika Asiah turun untuk membawa tasnya di kamar.


"Ya, seperti yang kamu dengar dari Asiah. Aku berencana mencari sosok pengganti Bundanya Asiah. Dan semua kriteria calon ibu yang dibutuhkan untuk membesarkan Asiah nanti, dan semua hal itu ada pada diri Bilqis," jawab Yusuf.


"Lalu ..., aku bagaimana? Aku nggak akan menyerah untuk mendapatkan cintamu, Om." Zulaikha memegang tangan Yusuf yang berada di dekatnya. Namun, Yusuf menarik tangannya.


"Zulaikha, kamu itu sudah aku anggap sebagai seorang adik perempuan. Aku tidak akan memberikan cinta kepada kamu lebih dari itu. Maaf," kata Yusuf.


     Mata Zulaikha mulai mengembun. Dia tidak menyangka kalau cinta pertamanya akan kandas ketika baru saja setengah mekar.


"Aku nggak mau menjadi adik Om! Aku maunya menjadi wanita yang selalu berada di sisimu, Om. Menjadi pendamping Om sampai maut memisahkan," balas Zulaikha sambil menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Tidak bisa lebih dari ini Zulaikha," kukuh Yusuf.


"Apa Om, sangat menyukainya? Cinta padanya? Sudah berapa lama Om mengenalnya?" Rentetan pertanyaan Zulaikha untuk Yusuf dengan suaranya naik turun.


"Ya," jawab Yusuf.


     Zulaikha pun langsung berdiri dengan tiba-tiba karena sedang kesal. Sampai-sampai kursi itu bergeser ke belakang  dan membunyikan suara yang cukup keras.


"Selama janur kuning belum melengkung, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan cintamu, Om!" Zulaikha bicara dengan tegas.


Yusuf hanya menarik napasnya. Dia melihat gadis yang berdiri di dekatnya itu langsung pergi begitu saja. Kemudian berbalik lagi dan kembali.


"Om, akan aku buat cinta itu untuk aku! Dan Om tidak bisa akan bisa jauh-jauh dari aku! Eh, salah. Intinya akan aku buat Om jatuh cinta sama aku dan tidak bisa berpaling pada yang lainnya." Zulaikha berkata dengan sungguh-sungguh, tetapi itu malah terlihat seperti anak yang sedang merajuk di mata Yunus karena takut kehilangan perhatiannya.


"Aku akan melamar Bilqis," kata Yusuf tiba-tiba.


"Aku doa kan semoga nggak berhasil lamarannya!" Zulaikha langsung pergi dan Asiah melihat wajah Zulaikha yang tidak pernah dilihat olehnya.


"Apa Ayah berbuat nakal? Sampai Mama Zulaikha marah seperti itu," tanya Asiah pada Ayahnya.


Yusuf merasa tidak senang saat mendengar kata-kata Zulaikha yang terakhir. Dia berpikir apa salah dirinya jika memilih Bilqis sebagai Ibu sambung untuk putrinya. Itu adalah keinginan mendiang istrinya agar secepatnya mencari pengganti dirinya yang akan mendidik dan membesarkan Asiah.


"Kenapa kamu marah seperti itu, hati aku merasa tidak senang?" gumam Yusuf bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus ya. Terima kasih.


__ADS_2