
Alin menatap Raihan dan tersenyum sinis lalu kembali melanjutkan tugasnya. Dia saat ini sedang tidak ingin beradu mulut dengan suaminya. Apalagi ada banyak teman-temannya di sana.
Saat Raihan hendak bicara, Akbar mengingatkan Alin untuk menyerahkan tugas kelompoknya kepada guru pembina. Hal ini tidak disia-siakan oleh Alin untuk kabur dari suaminya.
"Maaf ya, Kak. Aku mau menemui Pak Guru dulu," kata Alin sambil pergi menjauhi Raihan.
Raihan sangat kesal dengan kelakuan Alin dan itu membuat dirinya memilih pergi dari sana. Dia tidak mau membuat kekacauan dan merusak nama baiknya.
"Nia, kenapa?" tanya Raihan saat melihat Rain membawa barang milik Rania.
"Dia sakit. Aku minta izin pada gurunya untuk dibawa pulang. Aku akan membawanya ke dokter," jawab Rain.
Tiba-tiba muncul ide dalam kepala Raihan. Lalu dia mendatangi Chelsea dan Mega yang baru saja selesai membagikan makanan tadi.
***
"Alin! Alin!" teriak Chelsea sambil berlari.
"Ada apa, teriak-teriak?" tanya Alin yang baru saja kembali setelah menyerahkan tugasnya tadi.
"Kak Ian … sakit!" jawab Chelsea.
"Jangan bohong, kamu? Barusan dia baik-baik saja. Bahkan tebar pesona sama murid-murid perempuan," ujar Alin tidak percaya.
"Sana kamu lihat sendiri! Biar percaya," suruh Chelsea.
Meski ogah-ogahan Alin tetap berjalan ke arah mobil Van yang sedang terparkir. Alin mengerutkan kening saat melihat Rania sedang berada dalam dekapan suaminya.
"Nia!" Alin malah panik melihat wajah Rania yang sangat pucat.
"Kamu kenapa?" tanya Alin sambil menyentuh wajah Rania yang penuh keringat.
"Hei, kenapa kamu malah lebih mengkhawatirkan keadaan Nia dibandingkan dengan suami kamu?" Raihan menatap kesal pada Alin.
"Emang Kak Ian, sakit apa?" tanya Alin dengan menatap penuh selidik pada suaminya.
__ADS_1
Melihat reaksi Alin seperti itu malah membuat Raihan menjadi marah. Dia merasa kalau Alin tidak peduli padanya.
"Mega cepat jalankan mobilnya! Kita cari dokter atau rumah sakit," titah Raihan sambil membuang muka.
"Kak Mega, jangan mengebut, ya! Hati-hati di jalan. Nia semoga cepat sembuh. Kak Rain jagain Nia, ya!" ucap Alin.
Tanpa Raihan duga Alin duduk di sampingnya dan menyentuh kening dan leher. Lalu dia bertanya, "Kak Ian, sakit apa?"
Raihan dalam hatinya bersorak senang karena Alin memilih ikut pulang dengannya. Dia pun menyentuh kepala dan dadanya.
"Nanti sekalian periksa ke dokter. Apa ini gara-gara Kakak mandi malam tadi? Sudah aku bilang sangat dingin Kakak malah menyuruh aku mandi juga," kata Alin dengan jujur sampai-sampai Mega mengerem mendadak karena sangat terkejut mendengar perkataan Alin.
"Apa? Ian, beneran kamu tadi malam ke sini?" Mega menggelengkan kepalanya.
Raihan diam saja, dia tidak mau membicarakan hal ini. Dia lupa kalau Alin ini kadang berbuat diluar perkiraan dirinya.
"Iya, semalam Kak Ian datang ke sini. Dan Kak Ian juga memindahkan aku dari tenda ke dalam mobil," ucap Alin sambil matanya mengerling ke arah Raihan.
Mendengar ucapan Alin barusan, membuat Mega tertawa. Lalu berkata, "Jadi, ada udang dibalik batu, nih, ceritanya."
"Sudah! Sudah! Kalian bisa diam nggak, sih! Kasihan Rania, dia butuh istirahat," serobot Raihan agar Mega tidak membalas pertanyaan dari Alin.
Rania sendiri sedang tidur dalam pelukan Rain. Gadis itu tidak merasa terganggu karena tidak mendengar perdebatan mereka.
"Nia sakit apa, Kak?" tanya Alin sambil menarik Raihan dalam dekapannya meniru Rain yang memeluk Rania.
Jantung Raihan bertalu-talu mendapatkan perlakuan seperti ini. Apalagi Alin menaruh kepala di dadanya. Merasakan empuknya aset sang istri membuat Raihan merasa sesak napas. Warna wajah pun berubah menjadi merah sampai ke leher dan telinganya.
"Dia sedang datang bulan dan kebanyakan makan pedas," jawab Rain.
"Biasanya Nia datang bulan selalu bersamaan waktunya dengan aku. Kok bulan ini berbeda, ya. Aku sudah selesai dari Minggu lalu, ini Nia baru mulai datang bulan," ujar Alin.
Mendengar ucapan istrinya barusan, Raihan langsung bangun dan menegakkan duduknya. Lalu dia memalingkan wajahnya ke arah Rain dan berkata, "Apa kamu dan Rania sudah tidur bersama?"
"Apa Rania hamil?" teriak Alin dan lagi-lagi membuat Mega mengerem mobilnya sehingga berhenti mendadak.
__ADS_1
"Rania hamil?" Mega membeo sambil membalikan badannya mengarah pada sepupunya.
"Siapa yang hamil? Rania saat ini sedang datang bulan," bantah Rain dengan tegas dan keras. Hal ini membuat Rania terjaga.
"Tapi kamu belum pernah menidurinya 'kan?" tanya Raihan dengan menatap tajam pada adik iparnya itu.
"Tidak pernah terlintas dalam pikiran aku untuk tidur dengan Rania," ucap Rain dan perkataan ini didengar oleh Rania.
"Baguslah kamu jangan berbuat macam-macam dulu. Nia masih kecil," balas Raihan.
"Hn, aku tahu." Rain melonggarkan pelukan pada istrinya.
"Kak Ian, sini aku peluk lagi! Biar cepat sembuh," kata Alin dan tentunya di sambut dengan suka hati oleh Raihan.
***
Apa ada yang masih ingat pertengkaran antara Rayyan dan Raihan saat masih kecil dulu? 😁😁. Kalau lupa baca ulang. Nih, doa Rayyan kayaknya dikabulkan. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.
Sambil menunggu Raihan dan Alin up bab berikutnya. Baca juga karya teman aku, pastinya cerita nggak kalah seru. yuk baca!
MENIKAHI PERAWAN TUA
(Dtyas)
Spin Off Menikahi Pamanmu. Kisah cinta karena perjodohan antara Reka (adik dari Kayla) dengan Nara seorang wanita berprofesi sebagai dosen pada kampus Reka. Keduanya tidak menyetujui perjodohan tersebut, mengingat Reka dan Nara sempat berseteru bahkan Reka menyebut Nara Perawan Tua.
Namun, kembalinya mantan kekasih Nara membuat wanita ini meminta Reka mempercepat pernikahan mereka. “Please, jangan batalkan perjodohan ini. Aku minta sama kamu untuk bantu bicara dengan keluarga agar pernikahan kita dipercepat,” ungkap Nara.
Reka menatap sinis pada Nara. “Jangan bilang kalau kamu hamil dan aku ketiban sial harus bertanggung jawab.” Nara menggelengkan kepalanya. “Aku tidak hamil. Reka, tolong aku. Setelah kita menikah aku akan biarkan kamu tetap berhubungan dengan kekasih kamu. Sampai situasi aman kamu boleh ceraikan aku. Please, bantu aku,” pinta Nara.
__ADS_1