Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 33. Rencana Pernikahan Rayyan dan Asiah


__ADS_3

   Rania pun sudah membereskan barang-barang yang akan dibawanya ke apartemen Rian, tempat tinggalnya sekarang. Sejak pagi sampai siang tadi dia dan Rain sudah mendapat wejangan dari ayah dan bundanya. Apa itu tugas seorang istri. Kewajiban dan hak seorang istri dan suami. Dia juga diminta untuk menurut sama Rain karena sekarang sudah menjadi suaminya.


"Nia, apa sudah selesai?" tanya Rain saat masuk ke kamar yang bernuansa biru itu.


"Sudah. Kak apa aku boleh bawa Moli?" Rania bertanya balik pada suaminya untuk membawa kucing peliharaannya.


"Kita tidak boleh memiliki hewan peliharaan di sana. Kita bisa menjenguk Moli seminggu sekali saat hari libur," balas Rain dan terlihat jelas sarat kesedihan dari netra Rania.


"Kamu bisa membawanya jika kita sudah pindah ke rumah nanti," lanjut Rain. Maksudnya rumah tinggal keluarga Rain.


"Beneran, Kak?" Senyum lebar milik gadis blasteran itu tercipta dari wajahnya yang cantik.


"Iya," jawab Rain dengan senyum tipisnya.


"Terima kasih, Kak!" Rania langsung memeluk tubuh Rain dan keduanya jatuh di atas kasur. Keduanya saling menatap, lalu Rain mendorong Rania dan dia pun dengan cepat berdiri.


"Ayo, kita segera pulang! Aku punya pekerjaan yang belum sempat aku selesaikan," kata Rain sambil membawa 2 buah koper milik Rania. Gadis itu pun mengekorinya di belakang.


***


"Nia!" teriak Alin begitu melihat adik iparnya keluar dari lift.


"Alin!" Rania pun langsung menghambur memeluknya.

__ADS_1


"Akhirnya aku punya teman," ucap Alin dan membuat yang lainnya terperangah mendengar ucapan istrinya Raihan.


"Teman? Siapa?" tanya Rania dan Raihan bersamaan.


"Teman yang menikah dini. Karena suatu keadaan yang terpaksa membuat kita harus menikah," jawab Alin dengan santainya.


"Ah, iya. Aku juga menikah dengan Kak Rain kemarin itu diluar rencana hidupku. Aku juga tidak menyangka akan menikah di waktu yang masih muda seperti ini," ujar Rania.


"Sudahlah. Kamu tidak perlu sedih. Ternyata menikah itu menyenangkan, loh!" seru Alin dan lagi-lagi membuat ketiga orang itu bertanya-tanya dalam hati mereka apa yang membuatnya menyenangkan itu.


"Benarkah? Apa sih, yang bisa membuat senang dalam pernikahan kamu?" tanya Rania. Rain pun melirik ke arah Raihan dan saudaranya itu malah mengangkat bahunya.


"Kalau ada PR ada yang bantuin. Kalau lagi malas makan ada yang menyuapi. Bisa main game bareng, Kak Ian itu jago main game, loh! Ada yang mengantar ke sekolah, tanpa takut kesiangan. Lalu ada yang bantu aku mencari si Meong, kalau ia kabur," jelas Alin. Definisi bahagia menurut Alin dan membuat Raihan menepuk jidatnya.


"Menurut kamu, Mega mau nggak menikahi Chelsea?" tanya Raihan pada Rain.


***


    Meski sudah 2 hari berlalu Asiah belum juga sadar. Zulaikha merawatnya dengan telaten. Dia yang membersihkan badan dan mengganti baju Asiah. Rayyan juga hanya pergi meninggalkan dirinya saat pergi ke kampus karena harus mengajar.


     Fatih dan Mentari pun mengusulkan untuk menikahkan Asiah dengan Rayyan, sesuai keinginan gadis itu. Mereka berharap jika keinginannya dipenuhi, maka Asiah bisa sadar kembali.


"Aku rasa Asiah belum bisa menjadi seorang isteri yang bisa mengurus rumah tangganya. Dia masih butuh bimbingan dan belajar agar bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Aku takut kalau nanti mereka malah sering bertengkar karena emosi masih labil," ucap Yusuf dan di angguki oleh Zulaikha.

__ADS_1


"Iya, Tante. Zul juga belum bisa mendidik Asiah agar bisa lebih dewasa lagi dalam bersikap. Kadang Asiah itu tidak mau mengalah sama adiknya juga. Sifat manja dan kekanak-kanakan masih sering mendominasi dirinya," ucap Zulaikha


"Bagaimana jika setelah mereka menikah, tinggalnya harus sama kita dahulu sambil mendidiknya. Jangan biarkan mereka tinggal terpisah," ujar Mentari.


     Yusuf dan Zulaikha pun saling memandang. Mereka bicara lewat tatapan matanya.


"Aku ingin mereka tinggal di sini. Aku yang akan mendidik langsung Asiah agar bisa menjadi seorang istri yang baik," ucap Yusuf.


"Bagaimana, Raya? Apa kamu setuju?" tanya Fatih dan semua orang melihat ke arah Pemuda yang duduk di sisi ranjang sambil menggenggam tangan Asiah.


"Raya setuju, Yah. Raya juga akan ikut mendidik Asiah agar bisa menjadi seorang istri yang sholeha seperti keinginan Bunda Aisha," jawab Rayyan.


"Baiklah. Kalian bisa menikah secara agama dan negara karena usia sudah mencukupi. Untuk resepsi pernikahan hanya untuk kalangan keluarga saja karena Rayyan terikat kontrak dengan kampus. Setelah ajaran baru sebaiknya kalian pindah kampus," kata Fatih.


"Baik, Ayah. Raya akan ikuti saran itu," balas Rayyan.


"Biar Ayah yang urus segala dokumen pernikahan kalian," lanjut Fatih dan di angguki oleh Yusuf.


"Semoga dengan begini Asiah bisa sadar kembali," kata Mentari penuh harap.


"Ya, aku juga begitu. Dan Asiah bisa kembali menjadi Asiah yang seperti dulu lagi," ucap Zulaikha dengan tatapan sendu.


***

__ADS_1


Kira-kira Asiah sadar sebelum menikah atau setelah menikah? Akankah pernikahan Alina akan terus terasa menyenangkan? Tunggu kelanjutannya ya! Seharusnya aku ngetik kemarin karena ada kabar duka dari sahabat aku, yang sesama penulis. Aku nggak bisa berpikir. Otak aku terasa blank. Maaf ya teman-teman, baru bisa up.


__ADS_2