Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Kisah Bilqis


__ADS_3

     Dini hari sebelum masuk Subuh, Bilqis terbangun karena sayup-sayup terdengar suara orang mengaji. Betapa terkejutnya dia saat mendapati dirinya berada di sebuah kamar asing. Dia mengedarkan pandangannya dan melihat ada seorang laki-laki sedang duduk di atas sajadah sedang mengaji dengan suaranya yang pelan tapi merdu.


    Bilqis yang merasa ketakutan, memeriksa bajunya dan betapa terkejutnya dia saat melihat bajunya berbeda dengan yang dia pakai kemarin. Dia pun bangun dan memeriksa semua anggota tubuhnya. Hanya ada selang infus yang menempel di punggung tangannya.


"Kau sudah bangun!" William telah mengakhiri membaca kitab suci Al Quran.


"Mi—Mis–ter?" Bilqis terkejut saat melihat laki-laki Bule itu.


"Sepertinya kemarin kamu pingsan sebelum waktu Isya. Jadi, masih ada waktu untuk mengerjakan shalat Isya," kata William sambil menunjuk jam di atas nakas.


"Astaghfirullahal'adzim. Jangankan Isya, Magrib saja belum. Kemarin aku dikejar-kejar sama anak buah Samiri saat adzan Magrib," ucap Bilqis sambil berusaha mencabut jarum infus. Namun, William menahannya. Laki-laki Bule itu mencabut jarum yang masuk ke dalam kulit secara perlahan agar darah tidak banyak keluar dan membersihkannya dengan tisu.


"Kamu, bisa menjamak shalat Magrib," kata William.


"I–Iya, Mister."

__ADS_1


     Bilqis ingin bertanya kenapa dia pakai baju orang lain? Namun, dia urungkan dulu pertanyaan itu. Sebab shalat lebih penting.


    Tidak lama setelah Bilqis menyelesaikan shalat jamak Magrib dan Isya. Suara kumandang adzan Subuh mulai sayup-sayup terdengar karena William membukakan balkon kamar. Selama Bilqis shalat, dia duduk di balkon sambil menghirup udara segar yang belum banyak terkontaminasi oleh polusi.


    Mereka pun shalat Subuh berjamaah. Tadinya Bilqis ragu-ragu. Namun, saat mendengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang keluar dari mulut William dibaca dengan tartil, maka dia pun yakin kalau Bule satu ini emang bisa mengaji. Bahkan suaranya sangat merdu.


     Hati Bilqis bergetar dan air matanya turun dengan deras, saat dia melangsungkan shalat subuh rakaat kedua. Saat William membaca surat Al-Insyirah.


"Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?, dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu, yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu. Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmu lah engkau berharap."


***


"Kenapa kamu menangis seperti itu?" tanya William.


"Aku malu ... sangat malu kepada Allah. Kemarin aku sempat menyalahkan takdir yang telah diberikan kepadaku. Aku sempat kecewa, kenapa Allah selalu memberikan cobaan kepadaku? Kenapa hanya takdir buruk saja yang selalu menghampiriku?" Bilqis bicara sambil menunduk.

__ADS_1


"Takdir buruk seperti apa saja yang sudah menimpa kamu?" tanya William penasaran.


"Sewaktu aku masih kecil, Mama meninggal. Bahkan aku tidak bisa mengingat kenangan aku dengan beliau. Bapak memutuskan menikah lagi karena kasihan sama aku yang masih butuh kasih sayang seorang ibu. Namun, kakek dan nenekku selalu memantau keadaan aku yang di bawah asuhan ibu tiri. Aku merasa hanya Kakek dan Nenek yang benar-benar tulus menyayangi aku. Lagi-lagi mereka meninggalkan aku. Terjadi kekacauan keuangan di keluarga Bapak, sehingga rumah dijual dan kami pindah ke rumah Kakek. Sejak kecil sampai kuliah, aku mengandalkan uang beasiswa prestasi untuk biaya pendidikan aku. Lagi-lagi keuangan keluarga Bapak kacau. Kalau dulu ulah istrinya, kali ini ulah anak tirinya. Semua harta kekayaan Kakek yang dulu dihibahkan atas nama aku, semua di jual oleh Ibu dan Kakak tiri atas persetujuan dari Bapak. Dan yang tertinggal hanya rumah saja. Kemarin gara-gara Kakak tiri pinjam uang sama Samiri, semua uang tabungan aku habis bahkan aku pinjam uang kantor untuk melunasi utangnya. Baru juga selesai negosiasi masalah utang. Bapak harus di operasi dan itu dibayar oleh Samiri. Aku sangat terkejut saat ibu memaksa Bapak untuk menyetujui pinangan dari Bos Karet itu. Sehingga Bapak pun terpaksa menyetujuinya karena uang operasi mau minta diganti jika aku menolaknya. Aku pun marah kepada mereka semua. Bapak pun meminta maaf kepadaku. Namun, aku malah bilang sama Bapak untuk bunuh saja aku sekalian. Kepalang tanggung hidup Aku terus menderita. Saat itu aku gelap mata dan bilang, 'Ya Allah jika Engkau berikan Samiri sebagai jodoh aku, maka aku senang jika Engkau cabut nyawa ini!' aku sungguh lemah iman saat itu. Sampai hari kemarin. Bapak yang kambuh penyakitnya setelah kejadian itu pun kembali masuk rumah sakit. Nyawa kini tidak tertolong. Lagi-lagi aku kehilangan keluargaku. Tanpa sepengetahuan aku Ibu menjual rumah satu-satunya harta yang aku miliki. Dia memaksa aku agar menikah secepatnya dengan Samiri dan tinggal bersamanya. Mereka menjemput paksa aku dan menyekap aku di rumahnya. Saat sore hari aku melarikan diri dengan bantuan salah seorang pembantu di rumah itu. Namun, lagi-lagi ketahuan sampai Anda menolong saya," jelas Bilqis menceritakan kisah hidupnya.


"Hm, kamu punya Ibu yang kejam, ya?" William merasa simpatik.


"Di bilang kejam ... nggak juga. Tidak di bilang kejam dia tega melakukan itu padaku. Mungkin baginya aku ini ladang uang. Karena sekarang aku nggak punya apa-apa, maka dia membuang aku. Ibu tirinya tidak pernah memukul atau melakukan kekerasan lainnya. Dia hanya suka memaksakan kehendaknya kepadaku. Jika aku membantah ke inginan dia, hanya ucapan sindiran yang diberikan padaku. Sampai aku merasa muak. Selama ini aku ingin tinggal di pesantren tetapi Ibu tiri melarang. Aku baru tahu alasannya kemarin kenapa dia selalu membujuk Bapak agar tidak membiarkan aku masuk pesantren. Dia takut aku diajak nikah oleh santri atau ustadz di tempat aku mondok nanti. Karena Ibu ingin aku menikah dengan laki-laki kaya raya yang akan memberikan mahar yang banyak. Itulah kenapa Ibu menyetujui Samiri sebagai calon suami aku, dibandingkan dengan Yusuf laki-laki sederhana yang aku sukai." Bilqis bercerita sambil menghapus air matanya.


"Sekarang kamu tinggal di mana?" tanya William.


"Aku tidak punya tempat tinggal," jawab Bilqis dengan suara pelan.


***


😭😭😭Miris juga hidup Bilqis. Kira-kira apa yang akan terjadi pada dia selanjutnya? Neng Zul masih senang kayaknya habis malam pertama. Dia nggak muncul. Atau lagi kelelahan. Nanti siang saja dia beraksi kembali. Jangan lupa untuk kasih dukungan buat aku Bunga, Kopi, dan Vote. Juga jangan lupa Like sama Komentar. Biar aku semakin semangat ngetiknya 😍😍😍.

__ADS_1


__ADS_2