Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 21. Datang ke Kampung Amira


__ADS_3

     Rain dan Rania sudah sampai di sebuah bangunan yang bertuliskan nama "Rumah Tahfiz Nurul Iman" yang berukuran sedang untuk sebuah madrasah. Bangunan itu terdiri dari 4 ruangan, 2 ruangan untuk putra dan 2 ruangan lainnya untuk putri. Suara riuh anak-anak yang sedang mengaji terdengar di sana. 


      Ada seorang wanita bercadar datang menyambut kedatangan mereka. Diikuti oleh seorang gadis remaja dibelakang yang tadi berlari-lari mengejarnya.


"Assalamu'alaikum," salam Rain dan Rania begitu berhadapan dengan kedua perempuan itu.


"Wa'alaikumsalam," balas keduanya dengan ramah.


"Rain ke sini dengan siapa?" tanya perempuan bercadar itu.


"Kenalkan dia Rania, sepupu aku. Adiknya Raihan dan Rayyan.


"Oh, adiknya si Kembar! Apa mereka juga ikut ke sini?" tanya wanita itu lagi.


"Tidak Ummu, mereka sudah punya agenda terlebih dahulu sebelum saya mengajak," jawab Rain kepada istrinya kiai Samsul.


"Tidak apa-apa. Lain kali ajak mereka, ummu sudah rindu sama mereka. Terakhir kali melihat mereka saat Reuni Akbar, itu juga cuma sekilas. Ayo, masuk dulu. Amira sudah menunggu kamu dari tadi. Dia kayaknya sudah nggak sabar ingin bertemu dengan kamu," ucap wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Teh Amira dari kemarin terus menunggu Kak Rain. Apalagi kemarin nggak jadi, Teteh kecewa banget kayaknya," lanjut si gadis remaja itu.


"Hus, Aminah kamu jangan bicara seperti itu," ujar ummi sambil melihat ke arahnya.


"Ummu, nggak percaya sama Aminah? Kemarin Teh Amira bilangan kalau imam masa depannya mau datang," balas gadis bernama Aminah.


    Wajah Rain berubah agak merona karena dia merasa malu mendengar ucapan Aminah. Sebenarnya, dia juga ingin bertemu dengan Amira. Mereka hanya komunikasi lewat chat grup, bukan chat pribadi. Meski chat grup itu isinya hanya 7 orang. Rain, Amira, Kiai Samsul, Ummu, Alex, Cantika, dan Bintang. Ini untuk menghindari fitnah dan juga kedua orang tua mereka tahu apa yang mereka berdua bicarakan. Sementara itu, Bintang bertindak sebagai wali Rain karena dia itu satu-satunya Kakak kandung yang tinggal di Indonesia.


     Begitu masuk ke rumah Kiai Samsul yang ada di samping bangunan tadi. Rain dan Rania duduk di ruang tamu. Tidak lama kemudian, datang Kiai Samsul bersama Amira. 


     Kantor Kecamatan ternyata sudah di penuhi oleh warga yang mengantri untuk pembagian sembako dan uang sekedarnya. Kiai Samsul bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membantu Rain dalam menyalurkan sedekahnya. Ada 3000 paket sembako dan amplop berisi uang 100.000 yang akan dibagikan kepada warga. 


"Warga sudah antri dari pagi meski tahu jadwal pembagian dimulai jam sepuluh. Mereka sangat senang dan antusias. Terima kasih Nak Rain," kata Pak Camat saat mereka akan memulai pembagian sembako.


      Pembagian sembako di bagi 3 sesi waktu. Sesi ke-1 sebelum dhuhur, sesi ke-2 setelah dhuhur, dan sesi ke-3 setelah ashar. Mereka melakukan itu per desa untuk menghindari warga yang terlalu banyak dan berdesak-desakkan.


     Pak Camat membuka acara itu dengan pidato singkat, kemudian dilanjutkan oleh Kiai Samsul untuk memimpin doa, dan terakhir Kepala desa dibantu oleh stafnya membagikan paket sembako dan amplop berisi uang. Semua yang datang membawa kupon untuk menghindari kecurangan. Kasihan jika ada yang datang dan tidak kebagian karena ada yang dapat double.

__ADS_1


     Rania sering sekali melihat kalau Amira suka curi-curi pandang kepada Rain. Dia menduga kalau Amira itu punya rasa suka kepada sepupunya itu. Terlihat jelas dari pancaran matanya saat melihat ke arah Rain. Apalagi saat Rain mengajaknya bicara.


"Mereka berdua serasi," gumam Rania.


"Neng geulis, hatur nuhun. Mudah-mudahan sing kagentosan deui langkung-langkung seuer. Dibabarikeun rizki na sareng dipaparkan jodo anu sholeh ( Nona cantik, terima kasih. Mudah-mudahan cepat tergantikan kembali dengan yang lebih banyak lagi. Dimudahkan rizkinya dan mendapatkan jodoh yang Sholeh)," kata seorang nenek kepada Rania saat dia memberikan amplop tambahan untuk orang-orang yang sudah jompo.


"Aamiin. Hatur nuhun, Nin, doa na. Mudah-mudahan ieu bantosan sing manfaat. Nini oge sing di paparinan kasehatan sareng di babarikeun rizki na (Aamiin. Terima kasih, Nek atas doanya. Mudah-mudahan bantuan ini bermanfaat. Nenek juga diberikan kesehatan dan dimudahkan rezekinya)," balas Rania dengan senyum menawannya.


"Duh, meni geulis kieu! Kersa teu jadi mantu ibu (Duh, cantik sekali! Mau nggak jadi menantu ibu)?" tanya salah seorang wanita yang berparas cantik.


     Rania terkejut mendapati pertanyaan seperti ini. Dia melirik ke arah Rain dan berharap sepupunya itu membantunya.


***


Apa yang akan dilakukan Rania? Akankah dia bisa menghadapi lamaran dadakan itu? Tunggu kisahnya di bab berikutnya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.


    

__ADS_1


__ADS_2