
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia selalu.
***
Bab 118
"Aa, perut aku mulas," kata Asiah sambil mengusap-usap perutnya.
"Apa sudah mau melahirkan?" tanya Rayyan. Dia pun duduk di samping istrinya, lalu mengusap perut istrinya.
"Masih lama, A. Ini usia kehamilan baru maju delapan bulan," jawab Asiah.
"Aku telepon dokter dulu," ucap Rayyan.
Semenjak Asiah hamil dia tidak mau jauh-jauh dari Rayyan. Kadang dia juga ikut ke kantor. Bahkan saat dia kuliah juga tiap 30 menit sekali harus menghubungi suaminya menanyakan sedang apa, meski jelas-jelas sudah tahu kalau suaminya itu sedang kerja atau mengajar.
"Tenang, ya, Sayang. Dokter akan datang ke sini," ucap Rayyan setelah kembali.
"A, kasus Nia sudah selesai, ya?" tanya Asiah.
"Ya, si Baim berani-beraninya melakukan hal itu pada adikku," geram Rayyan.
"Bukannya Baim pernah bilang sama kita, kalau dia begitu menyukai Nia dan meminta izin untuk meminangnya?" Asiah menyandarkan kepalanya pada dada bidang Rayyan.
"Kan sudah aku bilang juga kalau Nia itu sudah menjadi milik Rain," balas Rayyan.
"Tapi, Baim bilang kalau Nia itu tidak bahagia dan kadang menangis sambil memaki Rain. Kenapa Nia melakukan hal itu?" tanya Asiah.
"Nia itu dulu masih labil emosinya dan dia belum menyadari perasaannya. Bukannya belakangan ini mereka sering terlihat mesra," jawab Rayyan.
"Benar juga. Paling lucu adalah saat pesta pernikahan kita. Mereka langsung kabur setelah kepergok berciuman di kegelapan," kata Asiah sambil tertawa terkekeh.
"Itu gara-gara kerjaannya Ian dan Alin," balas Rayyan. Dia jadi ingat belum membalas kelakuan kembarannya itu.
"A, aku rasa Nia dan Rain itu sudah sangat jauh hubungan suami istrinya, beda sama Alin dan Ian," bisik Asiah.
"Hm, maksudnya?" tanya Rayyan.
"Aku tanpa sengaja melihat ada beberapa jejak cinta di dada atas dan leher Nia, saat dia melepas jilbabnya saat hendak wudhu, kayaknya dia lupa," jawab Asiah sambil menyeringai jahil.
"Ya, nggak apa-apa. Kamu juga suka meninggalkan banyak jejak pada tubuhku," balas Rayyan.
__ADS_1
"Bukannya mereka dilarang jangan lakukan hal itu sampai waktunya nanti saat mereka sudah benar-benar siap?" Asiah menatap Rayyan.
"Orang tua aku nggak melarang sebenarnya. Tanpa mereka suruh atau larang, jika hormon keluarga milik keluarga Green sudah muncul, ya kita bisa merasakannya sendiri," ucap Rayyan.
"Maksudnya?" tanya Asiah tidak mengerti.
"Contohnya aku dan Kak Bintang hormon itu sudah muncul saat kita masih kecil dan kita tanpa sadar akan melakukan hal itu pada pasangan atau belahan jiwa kita. Kak Bintang bilangnya cinta sama Kak Arya, tapi suka mencium Om Ghaza, saat dia masih kecil, ya itu karena memang dia jodohnya. Om Ghaza juga punya kekasih Amara, tetapi tidak punya hasrat padanya, malah inginnya mencium Kak Bintang. Sampai stress katanya tuh, Om Ghaza dulu. Aku juga begitu. Apa kamu ingat saat di Amerika dulu, kita berdua melihat orang yang sedang berciuman dan ingin mencobanya. Saat itu juga aku merasa aku juga ingin mencium dirimu dan hanya aku yang boleh melakukan hal itu," jelas Rayyan.
"Gara-gara ciuman itu, jadinya kita dipisahkan," ucap Asiah sambil tertawa.
"Iya, tapi dengan begitu, aku yakin kalau kamu adalah jodoh yang Allah takdirkan untuk aku," pungkas Rayyan.
"Apakah orang yang punya gen keluarga Green selalu seperti itu. Sadar atau tidak sadar, jika sudah menemukan belahan jiwanya dia pasti overprotektif, ingin memiliki, menjaga dan melindunginya?" tanya Asiah.
"Mungkin itu ke gen keluarga Andersson, kalau Green biasanya ke hasrat mereka," bisik Rayyan.
"Maksudnya?" tanya Asiah dan Rayyan pun membisikan sesuatu yang membuat muka Asiah merona merah.
"Jadi, kalau tidak sama belahan jiwanya …." Asiah menatap suaminya.
"Nggak akan bereaksi, tidur terus. Meski wanita itu menggoda tanpa baju di depannya," balas Rayyan sambil menyeringai.
"Yakinlah pasangan Rain dan Nia, nggak akan jauh seperti Om Ghaza dan Kak Bintang. Pasangan hot level tinggi. Apalagi ini Rain pemilik gen keluarga Andersson dan keluarga Green," ucap Rayyan.
"Nggak kebayang, deh," balas Asiah sambil berdiri karena dokter yang ditunggu-tunggu sudah datang.
"Kenapa kita malah membicarakan Nia dan Rain?" Rayyan mengikuti Asiah.
***
Sementara itu, kedua orang yang sedang dibicarakan oleh Rayyan dan Asiah, baru selesai memadu kasih. Rain mencium kening istrinya.
"Kak Rain, kenapa belakangan ini aku selalu ingin disentuh, ya? Aku seperti wanita murahan yang haus belaian suami," ucap Rania.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kita kan suami istri? Jadi, mau setiap hari atau setiap waktu, kita boleh melakukannya," balas Rain.
"Bagaimana kalau aku hamil?" Rania menatap wajah suaminya.
"Ya tidak apa-apa, aku kan suami kamu," balas Rain sambil merapikan anak rambut di wajah Rania.
"Aku ingin punya bayi. Kayaknya sudah nggak sabar," ucap Rania dengan senyum malu-malu.
__ADS_1
"Aamiin. Semoga Allah segera menghadirkan buah cinta kita di sini," kata Rain sambil mengelus perut rata milik Rania.
***
Sementara itu, pasangan Raihan dan Alin sedang makan malam berdua. Meski hubungan mereka sudah banyak kemajuan. Raihan dan Alin belum sampai melakukan hal yang seperti Rania dan Rain lakukan.
"Kak Ian, kita tidur di hotel, yuk!" ajak Alin.
"Tidak mau, takut khilaf nanti," ucap Raihan.
"Tidak apa-apa kok, mau khilaf juga. Alin sudah siap," balas Alin.
Mendengar kata-kata Alin membuat Raihan menatapnya tak percaya. Kemarin-kemarin mereka sempat beberapa kali mencoba hal itu, tetapi selalu gagal karena Alin sudah menyerah duluan.
"Aku tidak akan berharap lebih, pasti ujungnya nggak jadi," lirih Raihan.
"Beneran, ini beneran! Aku tidak akan mundur lagi," sanggah Alin.
Pembicaraan tentang pelakor yang semakin merajalela, membuat Alin takut kehilangan Raihan. Apalagi suaminya tampan, cerdas, dan kaya. Pastinya akan banyak wanita yang mengincar untuk di jadikan kekasihnya.
"Sudahlah aku akan sabar sampai menunggu kamu lulus kuliah," ucap Raihan setelah menelan makanannya.
"Kakak nggak suka sama tubuh aku, ya? Aku kan pendek, dada aku juga nggak sebesar milik Nia, kayaknya. Pasti … laki-laki 'kan sukanya sama yang montok-montok," tuduh Alin dengan muka sendu.
"Hei, siapa bilang begitu? Kamu jangan suka membandingkan dirimu dengan orang lain. Syukuri apa yang ada pada dirimu," bantah Raihan.
Alin makan dengan diam. Dia menyadari kesalahan dirinya. Dulu saat mereka mau mencobanya, dia malah kabur duluan karena takut. Sekarang setelah dia yang mengajak duluan, suaminya seakan tidak mau.
"Alin," panggil Raihan.
"Hn," balas Alin meniru Raihan ketika sedang tidak mood bicara.
"Kamu marah?" tanya Raihan.
"Tidak," jawab Alin.
"Aku mau kenalkan kamu pada seseorang," kata Raihan dan Alin langsung melirik ke arah suaminya.
***
Kira-kira siapa yang akan dikenalkan oleh Raihan pada Alin? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1