
Sabtu ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Alin. Seumur hidupnya baru kali ini dia akan melakukan yang namanya kencan. Dia meminta Raihan untuk pergi kencan, setelah salah seorang temannya tanya sering pergi kencan ke mana? Dia bingung dan tidak bisa jawab, untungnya ada Rania yang bilang kalau mereka sering menghabiskan waktu di rumah. Jadi, kencannya di rumah orang tua Rania.
Alin memakai setelan celana jeans dan tunik dengan jilbab pasmina yang berwana kombinasi biru dan pink. Tas kecil berwarna putih dan senada dengan sepatunya. Dia ingin menyesuaikan dengan setelan yang akan dipakai oleh Raihan. Suaminya dipaksa pakai baju dan topi pemberiannya, saat ulang tahun kemarin.
"Kakak, sudah belum?" tanya Alin sambil mengetuk pintu kamar Raihan. Tak lama pintu itu pun terbuka dan menampilkan sosok laki-laki tampan. Meski memakai baju warna pink, Raihan tetap terlihat keren.
"Sudah, ayo!" ajak Raihan sambil mengulurkan tangannya dan menggandeng Alin.
Diperlakukan dengan penuh perhatian oleh suaminya membuat jantung Alin berdebar kencang. Senyum malu-malu terukir saat berpas-pasan dengan Bi Mar di ruang depan.
"Den Ian sama Non Alin, mau ke mana? Kok, sudah ganteng dan cantik pagi-pagi begini," tanya sang asisten rumah tangga.
"Mau kencan, Bi Mar," jawab Alin dengan senyum manisnya.
"Oh, kencan. Ya sudah, hati-hati dan pulangnya jangan larut malam," kata Bi Mar sambil tersenyum menggoda.
"Kami pergi dulu ya, Bi," ucap Raihan.
"Assalamu'alaikum," kata Raihan dan Alin bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," balas Bi Mar.
***
Alin mengajak Raihan ke Aqurium sea world. Dia teringat cerita Tante Ishana kalau sedang datang ke kota, dia sering pergi kencan sambil melihat ikan dan berasa di dalam lautan. Makanya Alin juga ingin merasakan pergi berkencan di sana.
Begitu masuk ke dalam, Alin memandang takjub akan suasana di sana. Dia berasa sedang berada di dalam lautan. Ikan-ikan yang begitu sangat banyak dan berwarna-warni dengan berbagai bentuk dan ukuran, memanjakan matanya.
__ADS_1
"Wah, hebat banget! Ini sungguh sangat indah. Aku tidak menyangka akan bisa melihat hal yang seperti ini," ucap Alin sambil menempelkan kedua telapak tangan dan mukanya ke kaca aquarium.
"Kamu senang?" tanya Raihan sambil ikutan berdiri di samping Alin.
"Iya, senang sekali, Kak!" jawab Alin tanpa mengalihkan pandangannya dari ikan pari hantu yang berukuran sangat besar.
"Pastinya senanglah, 'kan ketemu sama saudara kamu?" Raihan menyeringai.
"Saudara aku?" Alin memasang wajah penuh tanya dan berkata, "Dhika?"
"Mana dia?" lanjutnya lagi.
Alin mengedarkan pandangannya mencari-cari sosok saudara laki-lakinya. Namun, tidak juga di temukan.
"Memangnya aku bilang adik kamu barusan?" Raihan menahan tawanya karena istrinya masih saja mencari sosok bocah laki-laki yang berumur 8 tahun.
Alin melihat ke arah yang ditunjuk oleh suaminya. Betapa dia kesal karena disamakan dengan ikan buntal.
"Maksud Kakak, aku mirip ikan buntal itu?" tanya Alin dengan nada tinggi dan memasang wajah garang.
"Itu ikan paling lucu, tahu nggak?" Raihan mencoba merayu Alin karena dia nggak menyangka kalau reaksinya akan seperti itu.
"Maksud Kak Ian, aku ini lucu. Begitu?" Kini suara Alin melembut sambil senyum malu-malu dan salah tingkah.
"He-eh," balas Raihan.
"A~h, Kak Ian. Bikin aku malu," ucap Alin sambil mendorong pelan lengan suaminya.
__ADS_1
"Yuk, kita lanjut lagi!" ajak Raihan dan menarik tangan Alin..
Saat keduanya masuk ke restoran di sana. Ada seorang wanita memanggil Raihan.
"Ian? Hei, Ian. Apa kabar?" tanya seorang wanita dewasa yang berparas cantik dan berpakaian berani, memperlihatkan dada atas dan paha mulusnya.
"Hai, Miranda. Alhamdulillah, kabar aku baik," balas Raihan.
"Rania, kok jadi pendek? Perasaan dulu dia itu tubuhnya tinggi," ujar wanita itu sambil menatap penuh selidik kepada Alin.
"Dia bukan Rania. Tetapi Alin, kekasihku," balas Raihan dan itu membuat perasaan Alin melambung tinggi.
"Ow, aku kira kamu tidak akan pacaran seperti prinsip Rain," kata Miranda sambil tertawa.
"Apa salahnya aku dan Kak Ian berpacaran toh kita sudah menikah," gerutu Alin pelan dan tidak begitu jelas.
"Apa kami boleh ikut gabung bersama kalian di meja ini?" tanya Miranda lagi dan kini di dukung oleh temannya.
"Maaf, aku hanya ingin berdua saja dengan kekasihku. Mohon pengertiannya," jawab Raihan dan Alin juga mengangguk.
"Oh, ayolah, Raihan. Lihat semua meja di sini sudah terisi! Hanya meja ini yang masih ada sisa dua kursi," kata Miranda lagi dengan wajah memelas.
Raihan pun mengedarkan pandangannya. Benar, semua meja di sana sudah penuh dan hanya di mejanya yang ada sisa kursi, sehingga Raihan tidak bisa menolaknya.
***
Bagaimana reaksi Alin ketika kencannya diganggu? Bagaimana kisah mereka selanjutnya. Tunggu bab berikutnya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote, juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗
__ADS_1