
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
BAB 107
"Kamu nangis? Apa karena aku bilang mau bekerja di luar negeri?" tanya Raihan.
"Kakak suka jika berjauhan dengan aku?" Alin bukannya menjawab malah balik bertanya.
"Mana mungkin aku suka berjauhan dengan kamu. Tapi, aku tidak bisa memaksa kamu untuk ikut dengan aku. Jika, tinggal di luar negeri itu memberatkan dirimu dan kamu merasa tidak kerasan di sana. Justru aku berharap kita selalu bersama terus. Kamu kuliah dan aku bekerja," balas Raihan tangan besarnya mengusap pipi Alin yang basah.
"Bahasa Inggris aku tidak sehebat Rania dan Chelsea," ucap Alin jujur.
"Itu bisa belajar, Sayang," balas Raihan sambil mengusap kepala gadis mungil itu.
"Kak Ian maunya tinggal di mana?" tanya Alin.
"Aku di mana pun tidak masalah asalkan kamu merasa nyaman saat kita tinggal nanti. Sekarang pikirkan kira-kira di negara mana kamu ingin tinggal dan kuliah," jawab Raihan.
"Jadi, Kakak beneran akan tinggal di luar negeri?" tanya Alin.
"Iya. Aku berharap bisa dengan kamu juga, Sayang. Aku harus cari uang untuk keluarga kita," balas Raihan.
"Hmm, kalau begitu Alin juga akan ikut dengan Kakak. Tapi, belum ada gambaran mau kuliah di mana," kata Alin.
"Itu bisa kita pikirkan bersama. Aku akan ikut ke negara yang ingin kamu tuju dari dua benua itu," ucap Raihan. Alin pun mengangguk dan tersenyum kembali.
'Yes! Ayah mertua maaf, aku akan bawa Alin pergi. Biar tidak ada yang mengganggu,' batin Raihan senang.
'Pulang ke Indonesia sudah punya anak. Kayaknya seru nggak akan ada yang berani protes,' batin Raihan berkata curang.
***
Sebuah pesan masuk ke handphone milik Rain dan Rania melihat itu. Dia pun diam saja, ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Rain. Namun, suaminya malah asik makan dan menyuapi dirinya.
"Kak," panggil Rania begitu selesai mengerjakan tugas untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Ya, ada apa Nia, Sayang." Rain mengelap sudut bibir istrinya.
"Ada pesan masuk, tuh!" ucap Rania dengan bibir monyong ke arah benda pipih yang terletakkan di atas meja.
Rain pun membuka pesan itu. Ternyata itu adalah pesan dari Aminah yang memotret Amira yang terbaring dengan wajah yang pucat.
^^^Kak Amira tadi menanyakan dirimu.^^^
Itu tulisan di foto yang pertama. Sementara itu, di foto kedua terlihat Ummu Habibah sedang mengusap kepala Amira. Pesan yang diketik di sana bertuliskan.
^^^Sekarang kamu sudah tidak peduli lagi sama Kak Amira. Apa istri kamu melarang untuk datang menjenguk?^^^
Foto yang ketiga terlihat kalau Ummu Habibah menangisi Amira, anak semata wayangnya. Tulisan pesan di foto ketiga menohok hati Rain.
^^^Gara-gara kamu, keluarga kami jadi menderita seperti ini! ^^^
Rain tahu kalau Aminah saat ini sangat marah padanya. Gadis yang biasanya baik, ceria, dan ramah itu sangat kecewa kepada dirinya yang menyebabkan kakak sepupunya sakit parah.
"Siapa, Kak?" tanya Rania penasaran.
"Aminah, dia memberitahu kondisi Kak Amira yang belum sembuh juga," jawab Rain.
"Sebaiknya kita pulang dahulu," balas Rain.
"Kalau pulang dulu, nanti keburu kesorean kalau menjenguk. Malah mengganggu istirahat pasien," ucap Rania dan akhirnya disetujui oleh Rain.
Ibrahim melihat ada sesuatu yang aneh pada Rania. Dia penasaran dengan yang tadi mereka bicarakan.
***
Tangan kanan Rain menjinjing keranjang buah-buahan dan tangan kirinya menggenggam tangan Rania. Sementara itu, sebelah tangan Rania lainnya, menjinjing dua kotak bolu di kantong kresek.
Pasangan muda itu berjalan sambil berbincang-bincang dan tersenyum sesekali. Hal ini terlihat oleh Aminah dari kejauhan yang kebetulan berjalan berlawanan arah. Dia sangat kesal sekali melihat dua orang yang sedang berbahagia di atas penderitaan saudaranya.
"Semoga kalian cepat sadar kalau sudah mendzolimi orang lain. Tidak sepantasnya kalian hidup bahagia setelah membuat keluarga aku menderita," gumam Aminah dengan sorot mata yang sedang marah.
"Aminah. Siapa yang sedang jaga di kamar Kak Amira?" tanya Rain saat mereka berdiri berhadap-hadapan.
__ADS_1
"Ada Kiai Samsul dan Umma," jawab Aminah. Lalu, dia pun pamit mau menebus resep obat dari dokter.
Saat Rain dan Rania masuk ke dalam ruang rawat inap. Terlihat kalau Amira sedang dipapah jalan oleh Kiai Samsul untuk pergi ke toilet dan Ummu Habibah memegangi tongkat infus.
Melihat itu Rania pun mengambil alih Amira. Tubuh Rania lebih tinggi darinya dan kekuatannya pun lebih besar, sehingga tidak mengalami kesulitan.
"Biar Nia saja yang bantu Kak Amira, Pak Kiai. Nia orangnya kuat!" ucap Rain sambil meletakan keranjang buah dan kresek dus bolu.
Amira rupanya mau buang air kecil dan berwudhu. Dia hendak melaksanakan sholat Ashar.
"Kak Amira semoga cepat sembuh, ya. Jangan terlalu banyak bekerja, tubuh juga butuh istirahat. Kalau Kakak memaksakan diri itu artinya, Kak Amira sudah dzolim terhadap diri sendiri," kata Rania selalu teringat ucapan bundanya jika melihat sang ayah terlalu bekerja keras sampai kurang waktu istirahatnya.
Mendengar ucapan Rania, Amira tersenyum lembut. Dia memegang tangan Rania yang lembut kulitnya.
"Terima kasih sudah datang menjenguk. Juga untuk nasehatnya. Kadang aku lupa diri jika melihat begitu banyak orang yang sedang sakit dan membutuhkan bantuan aku," ucap Amira.
"Itu karena Kakak punya hati nurani yang baik. Tidak tega melihat orang yang kesakitan. Setidaknya, Kakak juga libatkanlah orang lain untuk membantu Kakak. Jika Kak Amira tidak bisa menangani pasien di dua rumah sakit. Lebih baik ambil satu rumah sakit saja. Lihat Pak Kiai, Ummu, dan Aminah juga ikut sedih melihat Kakak yang terbaring lemah seperti ini," jelas Rania.
"Ya, akan aku usahakan," balas Amira masih tersenyum kepada Rania.
'Selain memiliki rupa yang cantik, hati kamu juga sangat mulia, Rania. Pantas saja Rain lebih memilih kamu dibandingkan aku.' Amira menatap bola mata bening milik Rania dan bulu mata yang lentik.
Rain merasa bangga kepada Rania. Istrinya itu tidak pernah menilai buruk orang lain. Justru dia selalu melihat dan menilai orang lain itu baik pada dasarnya. Hanya saja orang itu sedang khilaf jika orang itu berkelakuan jahat. Ini sisi Rania yang dinilai sebagai dua mata sisi. Kadang menguntungkan dirinya atau kadang merugikan dirinya.
Pikiran Rania yang polos dan hatinya yang jauh dari iri hati pada orang lain. Membuat Rain memberikan nilai lebih pada istrinya itu.
'Nia, kenapa kamu selalu baik kepada semua orang?' batin Rain bertanya.
"Kalian akan sampai kapan di sini?" tanya Aminah melirik ke arah Rania.
Aminah melakukan itu karena Amira harus banyak istirahat agar cepat sembuh. Namun, kakak sepupunya itu malah asik bicara dengan tamu tak diundang.
Rania mengalihkan perhatiannya kepada Rain. Suaminya pun mengangguk. Keduanya pun berpamitan dan mendoakan kembali untuk kesehatan Amira.
Baru juga beberapa langkah Rain dan Rania ke luar dari ruang inap Amira. Rain mendorong tubuh Rania ke kamar sebelahnya.
***
__ADS_1
Apa yang akan dilakukan oleh Rain kepada Rania? Duh, Raihan ngebet banget ingin sayang-sayangan sama Alin tanpa ada yang mengganggu. Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!