
Zulaikha baru menyadari kalau bekalnya ketinggalan. Maka dia pun berencana ke kantin menyusul teman-teman yang lain.
"Zulaikha, ayo kita makan di taman belakang!" ajak Yunus dan berjalan mendahuluinya sambil menenteng sebuah tas bekal.
"Punya aku ketinggalan. Aku mau ke kantin," balas Zulaikha.
"Ini aku sudah bawa juga bekal milik kamu," lanjut Yunus sambil mengangkat jinjingannya.
Zulaikha pun mengekori ke mana Yunus berjalan. Ternyata di taman belakang ada beberapa siswa yang beristirahat dan makan siang di sana. Yunus pun memilih duduk di bawah pohon. Bayang-bayangannya melindungi mereka dari sengat panas matahari.
Bekal yang dibuat oleh Yunus hanya nasi, nugget, mie goreng, telur gulung dan sosis. Begitu juga dengan milik Zulaikha.
"Maaf hanya ini yang aku buat. Karena cuma bahan-bahan makan ini yang tersedia di apartemen kamu," kata Yunus.
"Tidak apa-apa. Terima kasih," balas Zulaikha dan langsung memakannya.
"Sebaiknya setelah pulang sekolah kita belanja bahan-bahan masakan. Karena makanan yang kamu punya itu instan semua," ujar Yunus setelah menelan makanannya.
"Iya," balas Zulaikha.
Yunus tidak jadi memasukan makanannya ke dalam mulut. Dia perhatikan Zulaikha kurang semangat hari ini.
"Apa kamu sedang ada masalah?" tanya Yunus.
"Tidak," jawab Zulaikha.
"Bohong! Karena kamu beda dari biasanya. Tidak bersemangat. Katakan jika ada sesuatu, jangan di pendam." Yunus masih memperhatikan raut muka Zulaikha yang masih saja datar.
"Aku ingin tidur. Aku pergi ke UKS, ya." Zulaikha pun pergi meninggalkan Yunus. Makanannya pun tidak dia habiskan. Hanya sebagian yang dia makan.
"Apa terjadi sesuatu tadi pagi, ya?" gumam Yunus.
__ADS_1
***
"Pak, ada yang mau aku bicarakan," kata Bilqis sambil menundukkan kepala karena merasa malu.
"Apa itu? Katakan saja," balas Yusuf.
"Semalam ... saya sudah bilang ke Bapak, kalau sudah menemukan calon suami. Lalu Bapak menyuruh mengenalkan padanya. A–Apa Pak Yusuf mau datang ke rumah untuk menemui Bapak?" tanya Bilqis gugup.
Yusuf melakukan rem mendadak karena terkejut mendengar perkataan dari Bilqis. Untungnya di belakang mobil mereka tidak ada kendaraan yang lain.
"Astaghfirullahal'adzim, maaf. Aku agak terkejut barusan," kata Yusuf.
Terlihat Bilqis juga sama sedang beristighfar sambil memegang dada karena terkejut. "Tidak apa-apa, Pak."
Yusuf pun menepikan mobilnya di bahu kiri jalan. Dia ingin bicara dengan tenang.
"Kapan?" tanya Yusuf.
Yusuf berpikir sejenak, lalu berkata, "Jika besok malam, bagaimana?"
"Iya. Tidak apa-apa, Pak." Bilqis mengangguk dan tersenyum senang.
Yusuf belum bilang sama kedua orang tuanya, juga kepada Ayah mertuanya. Dia akan meminta restu dan doa dari mereka terlebih dahulu.
***
Sore hari Asiah menunggu kedatangan Zulaikha. Sampai-sampai pintu apartemennya di buka lebar. Agar saat Zulaikha pulang dia bisa tahu. Namun, meski dia menunggu sampai malam. Orang itu belum kelihatan juga.
"Ayah .... Mama Zulaikha, sampai sekarang belum pulang juga!" teriak Asiah masih setia memandangi pintu yang tertutup di depannya.
"Masa? Mungkin tadi Kak Zulaikha sudah pulang lebih dahulu dari kita," jawab Yusuf sambil masak di dapur.
__ADS_1
"Coba, Ayah masuk ke dalam apartemen Mama Zulaikha. Lihat, apa sudah pulang!" pinta Asiah.
Yusuf pun menuruti keinginan putrinya. Dia masuk ke apartemen si gadis nakal, tetapi tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan dia kalau sudah pulang.
Yusuf pun kembali ke apartemennya dan menelepon Zulaikha. Namun, sudah beberapa kali dihubungi masih saja tidak diangkat olehnya.
"Apa dia masih marah?" gumam Yusuf.
Bayang-bayang Zulaikha dengan murid laki-laki itu kembali berputar dalam ingatannya. Kemudian, dia melemparkan handphone miliknya ke kasur dengan perasaan kesal.
"Paling dia lagi sibuk pacaran!" gerutu Yusuf dan kembali melanjutkan masaknya.
"Ayah, bagaimana? Apa Mama Zulaikha pulang ke rumahnya yang besar itu?" tanya Asiah.
"Ayah tidak tahu, Sayang. Mungkin dia sedang di rumah itu," balas Yusuf masih sibuk memasak.
"Ini gara-gara, Ayah! Mama Zulaikha jadi marah." Asiah berlari ke kamar dan menangis histeris. Yusuf pun mematikan kompornya.
"Sayang, dengarkan Ayah!" pinta Yusuf sambil membuka pintu kamarnya ternyata di kunci.
"Buka dulu pintunya, Ayah akan telepon lagi. Tadi nggak di angakat panggilan dari Ayah. Kita coba lagi sekarang!" Yusuf mencoba merayu putrinya.
"Asiah ngambek sama Ayah!"
Pintu terbuka sedikit dan Asiah hanya menyerahkan handphone milik Yusuf. Setelah itu menutup dan menguncinya lagi. Yusuf hanya menarik napas dan beristighfar.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.
Sambil menunggu Zulaikha up bab berikutnya, baca juga karya teman aku. Ceritanya nggak kalah seru loh.
__ADS_1