Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 13. Kado Ulang Tahun


__ADS_3

"Jangan suruh aku untuk melakukan hal yang seperti semalam lagi!" Alin berkata sambil bertolak pinggang dan pipi mengembung.


"Kamu jangan ikut-ikutan gaya Nia. Nggak pantes!" Chelsea menepuk kedua pipi Alin, sehingga menimbulkan bunyi. Ketiga gadis itu tertawa.


"Hei, bagus lagi kalau sampai Kak Ian tergoda oleh penampilan kamu," ucap Rania sambil cekikikan dan mendapat pelototan dari Alin.


"Apa kalian tahu betapa malunya aku pakai kostum badut. Sudah, ah! Aku buatkan kue ulang tahun saja," ucap Alin.


"Aku beri tahu, ya. Kalau Kakak aku itu tidak suka sama kue yang banyak krim dan pemanis," ujar Rania.


"Kalau begitu, apa yang kira-kira bisa buat kejutan untuk Kak Ian?" tanya Alin sambil mendudukkan bokongnya ke kursi kayu.


"Assalamu'alaikum, Rania. Tumben kesiangan?" tanya Alma saat Rania duduk di mejanya. 


"Wa'alaikumsalam, Alma. Tuh, Alin yang kesiangan. Aku dan Chelsea menunggu sambil di jemur di depan gerbang," jawab Rania dengan memanyunkan bibirnya karena kesal sedangkan Alma malah tertawa melihat ekspresi temannya ini.


      Alin, Rania, Chelsea, dan Alma mulai berteman sejak masuk ke sekolah menengah atas kelas sepuluh. Keempatnya langsung cocok satu sama lain. Alin adalah gadis yang galak dan mudah marah, tetapi polos dan mudah dibodohi. Rania merasa tertarik dengan sosok Alin yang garang dan bar-bar. Sementara itu, Alma adalah gadis murah senyum dan pandai mengaji, dia begitu suka pada sosok Rania—sahabatnya—yang selalu peduli kepada orang lain. 


      Rania dan Chelsea adalah dua gadis remaja yang dibesarkan oleh Bintang. Keduanya menjadi gadis yang cerdas, bebas, dan manja. Begitu sayang dan menurut pada sosok ibu asuhnya itu. Kelakuan keduanya tidak jauh dari Bintang.

__ADS_1


***


"Kamu sudah mau menyiapkan kado apa buat Kak Ian?" tanya Rania kemudian dia meminum jus jambu kesukaannya.


"Belum," jawab Alin singkat dan tanpa beban.


Ukhuk! Ukhuk!


      Rania langsung terbatuk-batuk begitu mendengar ucapan Alin. Dia langsung memalingkan wajahnya ke samping, tempat di mana Alin sedang menyuapkan mie ayam ke mulutnya.


"Kamu sudah tahu hari ini Kak Ian ulang tahun, tapi belum membeli kado apapun?" Rania menarik sebelah pipi Alin dengan kencang sehingga gadis itu kesakitan.


"Habis saat mau beli kadonya, Kak Ian ngekorin aku terus. Kalau beli diketahui sama dia, jadinya nggak suprise, dong!" balas Alin.


"Jadi, hari ini kita makan-makanan saja, ya!" Rania melirik ke arah Alin.


"Iya–iya, aku yang traktir," ucap Alin saat melihat lirikan mata adik iparnya.


"Nah, gitu dong! Kakak ipar aku yang baik," ucap Rania sambil mempelajari hidung Alin.

__ADS_1


***


     Ketiga gadis itu pun pergi mendatangi Mall Mega, untuk mencari kado spesial buat suaminya Alin. Mereka berkeliling mencari hadiah yang sesuai keinginan Alin.


"Sedang apa kalian di sini?" Suara yang tidak asing menyapa ketiga gadis yang sibuk melihat jam tangan di etalase.


"Kyaaaak! Kak Ian!" Ketiga gadis remaja itu berteriak karena terkejut sambil memegang dada.


"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Lagi-lagi Raihan bertanya dan menatap pada istrinya.


"Kak Ian sama Kak Rain sedang apa di sini?" Rania malah bertanya balik.


"Kamu mau tahu kita sedang apa di sini?" tanya Raihan balik.


"Ya, tentu saja. Kenapa kalian malah ada di Mall? Nggak kerja. Aku adukan kalian sama Ayah dan Mommy Bintang," kata Rania sambil balas menatap kedua pemuda tampan yang lebih tinggi dari dirinya.


"Kita di sini mau kencan …," balas Raihan dengan nada ketus.


"Apa?" Ketiga gadis itu berteriak.

__ADS_1


***


Benarkah Raihan dan Rain sedang kencan? Apa yang akan Alin lakukan? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.


__ADS_2