Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 45. Saling Berguling di Atas Kasur


__ADS_3

     Rain menaiki pohon mangga yang dahannya menjulur ke arah balkon kamar Rania. Dia pun melompat ke lantai balkon kamar istrinya itu.


"Untung pintu ke luar tidak di kunci," gumam Rain saat dia memutar kenop pintu.


     Dilihatnya Rania sedang tertidur di atas kasur. Rain pun berdiri di samping ranjang. Dipandanginya wajah Rania yang tanpa hijab. Dia mengulurkan tangannya dan merapikan rambut yang menutupi sebagian wajah cantik istrinya.


     Saat tangan Rain merapikan rambut, tanpa dia duga Rania memegang tangannya lalu menarik dan membantingnya ke atas kasur. Rain yang dalam posisi tidak siap menerima serangan sangat terkejut.


    Kini keduanya saling menatap dengan jarak wajah yang dekat. Tubuh Rain ditindih oleh Rania.


"Kak Rain?" Rania baru sadar kalau orang yang menyentuh wajahnya itu adalah suaminya sendiri.


"Gerakan reflek yang hebat, Nia." Rain kini membalikan posisi mereka.


"Tapi kamu jangan sampai lepas kewaspadaan," bisik Rain dengan lembut.


    Rania yang merasakan debaran jantungnya bergemuruh. Balik lagi dia menggulingkan tubuh suaminya dan dia duduk di atas perutnya.


"Bagaimana caranya Kak Rain bisa masuk ke sini?" tanya Rania sambil menekan dada suaminya dengan kuat agar tidak bisa bangun.


"Lewat balkon," jawab Rain jujur.


    Rania melihat ke arah pintu kamar yang mengarah ke luar. Ternyata pintu itu terbuka. Dia mencebikan bibirnya karena kesal dengan keteledorannya tadi.

__ADS_1


    Rain tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengambil kendali pergulatan mereka. Dia menarik tubuh Rania dan memeluknya erat, lalu membalikan posisi mereka lagi. Sehingga Rania tidak berdaya berada di bawah tubuh Rain.


"Aku ingin meminta maaf. Aku tahu kamu masih marah sama aku 'kan? Aku tidak akan mengulangi hal itu lagi," bisik Rain. 


     Suara Rain yang lembut membuai Rania. Sehingga gadis itu memejamkan matanya dan menahan napasnya.


"Nia, apa kamu mau memaafkan aku?" Rain membelai rambut istrinya dengan lembut.


"Kak Rain jahat!" Rania membalas memeluk tubuh suaminya. Air matanya luruh juga. Bagaimana pun juga dia masih sayang pada laki-laki yang selalu memanjakannya ini.


"Hm, maaf ya. Bagaimana kalau sekarang kita jalan-jalan cari makanan yang enak? Untuk mengembalikan mood gadis cantik ini," ajak Rain. Lalu dia pun berdiri dengan Rania masih dalam pelukannya.


"Aku mandi dulu," kata Rania dengan nada manja.


    Selama Rania mandi, Rain membaringkan tubuhnya di tempat Rania tidur tadi. Wangi tubuh Rania sangat kuat tercium di sana. Kali ini tanpa sadar Rain jatuh tertidur.


***


     Raihan dan Alin saling diam-diaman. Tidak ada yang bicara seorang pun. Mereka sama-sama keras kepala, padahal keduanya sudah merasa bosan. Ingin mengajak bicara takut kalah taruhan. Kalau tidak ada yang memulai bicara, suasana terasa hambar dan membosankan. Mereka berdua hanya bisa saling lirik saja. Saat ketahuan sedang memperhatikan mereka cepat-cepat memalingkan wajahnya.


'Mengalah aja apa susahnya, sih! Dasar Kak Ian menyebalkan!' teriak Alin dalam otaknya.


'Dasar bocah! Kalau kamu ingin ngajak ngomong, kenapa tidak ngajak bicara duluan,' gerutu Raihan dalam hatinya.

__ADS_1


     Mobil yang dikendarai oleh Raihan pun tiba di rumahnya. Begitu sampai dia cepat-cepat turun pura-pura tidak mempedulikan istrinya yang mengeluarkan barang belanjaan tadi.


"Mang Asep, tolong bawakan barang belanjaan Alin di dalam mobil!" pinta Raihan dengan berbisik.


"Oh, iya. Siap, Den Ian! Tumben biasanya Den Ian bawa sendiri barang bawaan Non Alin," ucap Mang Asep.


    Raihan menatap kesal pada Mang Asep dan berkata, "Jangan bilang aku yang menyuruh membawakan barang-barang itu. Nanti Alin akan marah."


"I-iya, Den Ian. Baik!" Mang Asep baru mengerti kalau tuan dan nyonya rumah ini sedang musuhan.


"Ada-ada saja, tingkah mereka berdua itu," gumam Mang Asep sambil berjalan ke luar rumah.


    Terlihat Alin sudah mengeluarkan semua barang belanjaannya tadi. Lalu dibanting dengan kuat pintu mobil itu karena kesal sama suaminya. Jadinya, dia melampiaskan pada mobil milik Raihan.


"Astaghfirullahal'adzim, Non Alin. Bikin Mang Asep terkejut saja! Sini biar barangnya dibawakan sama Mang Asep.


"Terima kasih, Mang Asep. Emang Mang Asep lebih pengertian pada aku," ucap Alin sambil melirik ke atas. Tepatnya pada balkon kamar suaminya.


     Raihan yang berdiri di balkon kamarnya langsung melotot karena suara keras yang dibunyikan oleh pintu mobil yang di banting.


"Awas, kamu bocah ingusan!" geram Raihan.


***

__ADS_1


Siapakah yang akan menang dalam pertaruhan Raihan dan Alin? Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.


__ADS_2