Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 104. Rain Sakit?


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.


***


BAB 104


     Seorang gadis berseragam putih abu-abu, berlari begitu turun dari mobil. Wajah bule campuran itu kini pucat dan panik. Tadi dia menerima kabar kalau suaminya tiba-tiba pingsan dan tidak bisa menjemputnya. Sehingga supir perusahaan yang menjemput dirinya dari sekolah.


"Maaf," kata Rania saat bertabrakan dengan seseorang saat masuk ke gedung kantor suaminya.


"Jangan lari Nona! Ini tempat umum," kata karyawan laki-laki mengingatkan.


"Maaf … maaf. Saya sedang terburu-buru," ucap Rania lagi. Lalu, dia segera pergi menuju lift.


     Tingkah Rania ini mencuri perhatian orang-orang yang ada di sana. Mereka merasa aneh ada siswa SMA masuk ke gedung perkantoran. Ditambah masuk ke dalam lift khusus para eksekutif.


"Nona, Anda tidak boleh naik lift itu! Naik lift yang sebelahnya," kata seorang security mencegah Rania saat akan masuk lift.


"Maaf, Pak. Saya biasanya masuk ke lift ini jika main ke sini," ucap Rania dan itu membuat security dan beberapa karyawan yang sedang menunggu antrian di lift sebelah merasa kurang suka dengan tingkah anak OSIS itu.


"Kok, datang ke sini untuk main! Orang-orang kan datang untuk kerja," gerutu salah seorang karyawan perempuan.


"Iya, anak remaja sekarang sering suka bermain-main daripada belajar dan kerja," timpal teman lainnya.


     Rasa kesal membuat Rania diam dan ikut antri di lift khusus karyawan. Meski dia tidak suka dengan tatapan orang-orang itu.


     Sementara itu, Rain senang saat supir bilang kalau Rania sudah masuk ke kantornya. Dia pun cepat-cepat masuk ke ruang istirahatnya. Namun, sudah 10 menit ditunggu, istrinya belum juga datang. Jadinya, dia gusar.


"Kemana sih, Nia? Kok, belum muncul juga," tanya Rain seorang diri.


     Lalu, Rain pun meminta pihak keamanan mengirimkan rekaman cctv di sambungkan ke laptopnya. Dia pun melakukan pengecekan. 


"Kenapa Nia malah ikut antri di depan lift karyawan?" Rain bertanya-tanya.


     Kamera pun memperlihatkan Rania dan beberapa orang karyawan masuk ke dalam lift. Rain pun melihat bagian kamera cctv yang ada di dalam bagian lift. Terlihat ada orang yang mengajak Rania bicara. Sayangnya, Rain tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.


     Semua karyawan sudah turun, tinggal Rania sendiri yang ada di dalam lift itu. Senyum Rain tercipta saat melihat Rania keluar dari lift dan menuju kantornya. 


     Rain pun dengan cepat membereskan laptop dan handphonenya. Dia langsung berbaring dan pura-pura tidur.

__ADS_1


"Kak Rain," panggil Rania begitu masuk ke ruang kerja suaminya.


"Apa di dalam kamar, ya?" Rania pun masuk ke ruang istirahat dan terlihat kalau suaminya itu sedang berbaring.


"Kak," panggil Rania berjalan cepat ke arah Rain.


     Tangan Rania langsung menyentuh kening, pipi, dan leher Rain. Dia merasa semuanya normal. Tidak panas atau pun dingin.


"Kak Rain sakit apa, sampai pingsan?" gumam Rania sambil menyentuh tangan yang berlengan kokoh itu.


"Sakit mala rindu," bisik Rain tidak tega saat melihat wajah panik istrinya.


"Alhamdulillah, Kak Rain sudah sadar. Sudah diperiksa dokter belum?" tanya Rania masih dengan tatapan sendu.


"Hn, katanya sakit mala rindu," jawab Rain lagi.


"Sakit mala rindu? Pasti sakit sekali sampai tadi pingsan," ucap Rania sambil mengusap kepala Rain.


     Rania mengira mala rindu itu seperti penyakit malaria. Otaknya tidak konek saking mencemaskan suaminya.


"Ya, itu penyakit yang berbahaya," balas Rain menjahili istrinya.


"Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit! Biar Daddy Ghaza obati penyakitnya," ajak Rania.


"Benar-benar penyakit aneh, ini. Obatnya adalah istri. Terus istri itu harus diapakan?" tanya Rania.


"Ya, istri itu harus menyentuh tubuh, seperti memeluk dan mencium," jawab Rain.


"Jadi, aku harus menyentuh Kakak. Lalu, memeluk dan mencium. Begitu?" tanya Rania.


"Iya," jawab Rain.


"Wah, Kakak mau membohongi aku. Mana ada penyakit yang akan sembuh dengan menyentuh tubuhnya, memeluk, dan mencium. Walaupun aku anak IPS dan tidak mengerti dunia kesehatan. Tapi, mana ada orang sakit yang bisa sembuh dengan cara seperti itu," gerutu Rania.


"Kan sudah aku bilang. Ini penyakit mala rindu. Jadi, pengobatannya juga seperti itu," ucap Rain.


"Apa Kak Amira juga akan sembuh dengan cara seperti itu? Jika disentuh, dipeluk, dan dicium oleh Kak Rain," tanya Rania.


     Rain yang tadinya berbaring, kini bangun dan duduk saling berhadapan dengan Rania. Dia melakukan itu secara refleks karena saking terkejutnya.

__ADS_1


"Astaghfirullahal'adzim, Nia. Hilangkan pikiran jahat kamu itu. Apa kamu mau lakukan itu pada Kak Amira? Kamu tidak cemburu? Kamu tidak marah?" bentak Rain. Seumur-umur baru sekarang Rain sangat marah kepada Rania. Bahkan dia bicara dengan cara seperti itu.


"Kak Amira juga tidak sadarkan diri juga, 'kan? Dia seperti itu karena menahan rasa cinta dan rindunya kepada Kak Rain," balas Rania dengan nada tinggi juga.


"Aku tanya kepada kamu dan jawab dengan jujur," ucap Rain dengan kesal dan menatap tajam ke arah Rania.


"Apa kamu mencintai aku dengan sungguh-sungguh?" tanya Rain.


"Tidak tahu," jawab Rania.


"Apa kamu suka atau tidak jika aku dekat dengan kamu?" tanya Rain.


"Tentu saja suka. Kalau nggak suka pastinya nggak mau dekat-dekat," jawab Rania.


"Apa kamu sedih saat mendengar atau melihat aku sakit?" tanya Rain.


"Tentu saja. Kalau nggak mana mungkin berlari dan datang ke sini," jawab Rania dengan bibirnya yang mengerucut.


"Saat aku peluk, apa kamu menyukainya?" tanya Rain.


"Ya, suka," jawab Rania dengan pipi merona.


"Lalu, saat aku cium kamu seperti semalam, apa kamu juga menyukainya?" tanya Rain.


      Jujur Rania sangat suka saat dicium oleh Rain. Namun, dia malu untuk bicara. Jadinya, dia hanya mengangguk.


"Terus kamu mau melakukan hal yang sama seperti itu kepada wanita lain? Kamu tidak mau menjadi wanita satu-satunya yang diperlakukan seperti itu olehku?" tanya Rain.


     Rania berpikir dan ternyata dia juga ingin menjadi satu-satunya perempuan yang diperlakukan istimewa oleh Rain. Benar, sekarang dia baru menyadari itu.


'Nia, kamu itu bodoh! Mana ada istri yang menyuruh suaminya memeluk dan mencium wanita lain.' 


"Maafkan, Nia. Pikiran Nia kacau sejak semalam. Tidak bisa berpikir dengan benar. Nia tidak mau kalau Kak Rain sampai melakuakan hal itu pada perempuan lain. Nia minta maaf, dan juga sangat menyesal. Nia janji tidak akan mengulangi hal itu lagi," ujar Rania dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa yang sudah membuat pikiran kamu kacau?" tanya Rain sambil menyentuh pipi Rania yang berstruktur lembut dan kenyal.


***


Aduh Nia, kenapa bisa berpikir seperti itu? Apa yang menyebabkan Rania begitu? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


Sambil menunggu Rain dan Rania up bab berikutnya, baca juga karya Mama Reni. Ceritanya bagus. Yuk, kepoin novelnya.



__ADS_2