
Bilqis yang sempat terguncang akan kejadian yang menimpanya dan memutuskan pergi ke tempat yang sangat jauh dan tidak ada seorang pun yang tahu siapa dirinya. Dia menaiki sebuah bus yang hendak berangkat dan tidak tahu ke kota mana tujuannya. Dalam pikirannya adalah pergi dari Jakarta secepatnya.
Saat dia duduk di dalam bus, naiklah seorang kakek tua yang sudah renta dengan istrinya yang sama-sama sudah sepuh. Semua kursi sudah penuh, tetapi sang sopir tetap mengijinkan penumpang untuk naik. Melihat dua orang yang sudah tua berdiri membuat Bilqis merasa iba. Maka dia pun memberikan kursinya untuk si Kakek. Ternyata seorang gadis di sampingnya juga memberikan kursinya untuk si Nenek. Kini Bilqis dan gadis itu berdiri dan saling mengenalkan diri. Keduanya pun terlibat pembicaraan selama dalam perjalanan itu.
"Zainab, kamu nanti turun di terminal mana?" tanya Bilqis sambil melirik ke arah teman barunya.
"Terminal berikutnya. Kalau kamu?" tanya Zainab kepada Bilqis.
"Aku tidak tahu mau kemana? Aku juga tidak punya saudara lagi yang bisa aku kunjungi," jawab Bilqis dengan lirih.
"Kamu ikut saja dengan aku ke kampung halamanku. Kamu pintar dan lulusan kuliah pernah jadi guru juga. Di kampung aku itu masih kekurangan tenaga guru. Aku juga niatnya mau mengabdikan diri untuk warga desa. Kita itu disekolahkan oleh guru mengaji, dan beliau meminta setelah kita selesai mengenyam pendidikan, maka harus mengabdikan diri untuk ikut membantu memajukan desa. Kebetulan aku juga sudah menyelesaikan S1, jadi akan memulai janji kami kepada beliau," tutur Zainab.
"Bolehkah aku ikut dengan kamu?" tanya Bilqis dengan penuh harap.
"Tentu saja boleh. Aku akan merasa sangat senang kalau kamu juga bisa ikut denganku. Kamu nanti tinggal saja di rumahku. Walau rumah kami hanya gubuk dari kayu, tetapi rumah itu terasa sangat nyaman dan aman," jawab Zainab dengan penuh semangat.
Akhirnya, Bilqis pun ikut tinggal di rumah panggung milik keluarga Zainab yang masih terbuat dari bilik kayu dan bilik. Kedatangan Bilqis pun disambut dengan baik oleh keluarga Zainab. Keduanya tinggal di kamar yang sama.
__ADS_1
Bilqis dan Zainab mengabdikan diri di sekolah SMP Sukamaju. Kehadiran kedua perempuan itu mendapat perhatian dari para petinggi dan sesepuh desa. Banyak yang ingin menjadikan mereka menantu atau cucu menantu. Bilqis juga masih merasa was-was saat itu karena takut kalau dia beneran sudah tidur dengan Zakaria, dan bisa saja dia hamil. Namun, saat bulan berikutnya dia mendapati datang bulan betapa senangnya dia.
Bilqis sudah 2 bulan lebih tinggal di desa itu. Dia juga ikut menjadi guru di sebuah sekolah agama saat sore hari. Sehingga membuatnya cepat dikenal oleh seluruh warga kampung itu. Zainab juga mengenalkan dia pada pasangan suami istri yang menderita rumah Tahfiz dan kini mulai mendirikan pondok pesantren. Bilqis tidak tahu kalau pemilik pondok yang sering dipanggil Abah dan Ummi oleh penduduk desa adalah mertua dari seorang Al Fatih Green Hakim.
Hari di mana dirinya tidak menyangka akan bertemu kembali dengan laki-laki yang dicintainya. Kini malah terjadi saat seorang anak kecil berwajah campuran berteriak memanggil dirinya.
"Mommy Bilqis!" Terdengar suara yang sangat familiar baginya.
Dia menyangka kalau suara tadi itu hanya khayalan dia karena merindukan sosok bocah kecil yang centil dan suka merajuk. Namun, saat sosok laki-laki dan dua gadis kecil itu berdiri di depannya. Dia baru yakin kalau itu bukan halusinasi dirinya, tapi itu nyata.
"Bilqis," panggil William dengan tatapan berbinar yang menahan rindu padanya.
Dalam satu detik berikutnya, tubuh Bilqis sudah berada dalam pelukan William. Betapa terkejutnya dia saat ini. Jantung dia pun bertalu-talu, aliran darah dalam tubuhnya pun terasa bergejolak. Dia pun sebenarnya ingin membalas pelukan itu. Namun, lagi-lagi terbayang dirinya sudah tidak memiliki mahkota kesucian sebagai seorang gadis. Membuat dirinya mendorong duda bule itu.
"Mister lepaskan!" kata Bilqis sambil mendorong tubuh tinggi dan atletis meski sudah menjadi laki-laki paruh baya.
Kekuatan Bilqis tidak mampu membuatnya terlepas dari pelukan hangat sang pujaan hati. Bilqis pun menangis dalam pelukan itu.
__ADS_1
Kedua sejoli itu pun menjadi tontonan semua orang yang ada di sana. Orang yang tidak tahu sama William mengira bule itu adalah ayahnya Chelsea. Namun, mereka penasaran kenapa Bilqis yang dikenal masih seorang gadis sekarang di peluk oleh laki-laki, dan ada yang memanggilnya dia Mommy.
"Kamu kenapa tidak datang ke tempat perjanjian itu? Aku menunggu kamu sampai pergantian hari. Aku mencari ke apartemen juga tidak ada. Selama ini aku terus mencari keberadaan kamu. Aku takut terjadi sesuatu kepada kamu. Kamu membuat aku kembali merasakan ketakutan ditinggalkan kembali," ucap William sambil mengencangkan pelukan itu.
"Maafkan aku, Mister." Bilqis menangis tergugu. Dia juga sama rindu akan sosok pria yang selalu dinanti kedatangannya.
"Maaf, sudah membuat Anda kesusahan untuk mencari aku yang bukan merupakan orang penting. Maaf, aku lupa akan janji itu. Mister juga carilah perempuan baik-baik," ucap Bilqis yang masih dalam pelukannya. Bilqis mengingat-ingat dan menyimpannya dalam memori. Wangi tubuh William, pelukan hangatnya, detak jantungnya, Bilqis rekam dengan baik.
"Tidak mau! Aku maunya kamu yang menjadi istriku, pendamping hidupku, dan ibu bagi anak-anak aku nanti," balas William dengan tegas dan malah membuat Bilqis menangis tersedu sedan.
"Mommy Bilqis, kenapa menangis?" tanya Rania.
"Mommy ...? Bilqis kamu sudah punya anak?" Zainab yang sejak tadi bengong, menganga, karena terkejut tiba-tiba ada bule memeluk temannya.
"I-itu ...." Bilqis bingung mau menjawab apa . Apalagi William tidak mau melepaskan pelukannya.
***
__ADS_1
👏👏 Yey, Bilqis akhirnya bisa ditemukan. Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Akankah Bilqis jujur dengan apa yang sudah terjadi padanya? Jangan lupa untuk selalu kasih dukungan buat aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat untuk up bab berikutnya 🤗🤗