Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 122. Kejadian Yang Sebenarnya


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari ini kalian bahagia selalu.


***


Bab 122


     Betapa marahnya Raihan dan Rayyan kepada Rain. Kedua saudara kembar itu pun begitu datang langsung main hajar sepupu mereka sekaligus adik ipar.


"Kau, sudah aku bilang sejak dulu. Jangan sampai melukai Nia!" teriak Rayyan setelah melayangkan tinju ke arah Rain.


"Bersiap-siaplah untuk berpisah dengan Nia," lanjut Raihan setelah puas menghajar laki-laki yang selalu bersama dengan mereka sejak kecil.


"Rain, kenapa ini bisa terjadi?" tanya Fatih dan Mentari yang baru saja datang dari luar pulau. Mereka langsung terbang, pulang ke Jakarta saat tahu putri mereka mengalami kecelakaan sampai harus keguguran.


"Semua salah Rain yang tidak bisa menjaga Nia dan bayi kami," lirih Rain. Air matanya sudah kering kerena menangis sejak tadi.


"Semua ini tidak akan terjadi tanpa suatu sebab. Katakan apa yang menyebabkan semua ini terjadi?" tanya Fatih.


     Otak Rain terasa kosong, dia sampai bingung harus bercerita dari mana terlebih dahulu. Dia hanya menjambak rambutnya.


"Bolehkah saya yang menceritakan awal perkara ini terjadi?" tiba-tiba saja Amira datang bersama Umma Habibah.


"Kak Amira?" Raihan dan Rayyan terkejut dengan kedatangan senior mereka saat sekolah.


     Rain pun hanya diam menatap sesaat. Lalu, dia memalingkan mukanya.


"Ini semua terjadi karena kesalahpahaman," lanjut Umma Habibah.


"Umma, biar Amira saja yang bercerita," kata Amira.


"Sebelumnya saya ingin mengucapkan minta maaf kepada semua keluarga Rania. Mungkin ini semua tidak akan terjadi jika saya tadi tidak bertemu dengan Rain," sambung Amira. 


     Raihan dan Rayyan menatap ke arah Rain yang masih memalingkan mukanya dari semua orang. Kedua saudara kembar itu rasanya ingin menghajar kembali laki-laki yang sudah babak belur itu.


Flashback on.


    Begitu Rain dan Amira masuk ke ruang rawat Kiai Samsul, orang-orang yang ada di sana dikejutkan dengan kedatangan Rain. Tentu saja, baik Kiai Samsul maupun Umma Habibah senang dengan kedatangan salah satu murid kebanggaan mereka.


"Abah sudah sadar!" pekik Amira senang dan langsung memeluk ayahnya.


"Alhamdulillah, abah baik-baik saja," kata Kiai Samsul tersenyum.

__ADS_1


"Rain, apa kabar?" tanya Kiai Samsul.


"Alhamdulillah, baik. Tadi Rain dengar kalau Pak Kiai mengalami musibah?" tanya Rain.


"Kemarin sore kecelakaan itu terjadi. Lalu, semalam dipindahkan ke sini karena perlengkapan di sini lebih baik dan lengkap," jawab Umma.


"Kak Amira tadi ada yang menelepon ke nomor ponsel, kakak," potong Aminah.


"Siapa?" tanya Amira.


"Tidak tahu, yang jelas itu laki-laki, dan dikasih nama dalam kontak Kakak itu dengan tulisan 'Bule gila'," jawab Aminah.


     Amira memutar bola matanya dan terdengar dia berdecak tidak suka. Meski wajahnya tertutup oleh cadar, tetapi terlihat jelas dari sorot matanya kalau dia tidak suka dengan orang yang sudah menghubunginya tadi.


"Kenapa?" tanya Kiai Samsul.


"Dia itu laki-laki penipu dan sangat menyebalkan, Abah," jawab Amira.


"Loh, tadi saat bicara dengan abah dia bicara dengan sangat sopan dan juga sepertinya ramah," sanggah Kiai Samsul.


"Apa? Dia itu laki-laki bule dan bicaranya bahasa Inggris. Dia tidak bahasa Indonesia," ujar Amira.


"Dia tadi bicara dengan abah pakai bahasa Indonesia," tambah Kiai Samsul.


"Jangan seperti itu, mungkin saja dia jodoh kamu," kata Umma Habibah menggoda putri semata wayangnya dan itu membuat Amira cemberut.


"Benar kata Umma, jodoh itu ghoib. Bisa saja dia memang jodoh kamu," lanjut Kiai Samsul sambil tertawa.


"Nggak mau! Amira tidak mau punya suami menyebalkan seperti itu!" pekik Amira.


"Sepertinya Abah harus belajar lagi mengucapakan ijab qobul, nih!" seru Umma Habibah sambil tertawa terkekeh.


"Maksudnya?" tanya Amira tidak mengerti.


"Dulu kan Abah sering latihan untuk ijab qobul, jika kamu menikah sama Rain," jawab Umma Habibah sambil menahan tawanya.


"Abah sampai sudah hafal di luar kepala. Saya nikah dan kawinkan engkau Rain Andersson bin Alexander Andersson dengan putri saya Amira Nur Azzizah dengan mas kawin bacaan surah Ar Rahman dan perlengkapan alat sholat , dibayar tunai."


     Saat itu pintu tiba-tiba saja dibuka dengan sangat keras dan terlihat Rania di sana dan berteriak memaki Rain. Lalu, Rain pun mengejar istrinya.


"Ya Allah, bagaimana ini?" Umma Habibah memegang dadanya.

__ADS_1


"Amira, kejar mereka dan jelaskan kejadian yang sebenarnya!" perintah Kiai Samsul.


      Amira pun mengejar Rania dan Rain, tetapi dia terkendala dengan lift yang lama saat ingin turun. Begitu Amira sampai di lantai satu, terjadi kehebohan karena putri pemilik rumah untuk, tertabrak mobil ambulans.


Flashback off.


"Sekali lagi, maafkan kami," kata Amira dengan lirih.


"Ini sudah menjadi takdir untuk Rania," balas Fatih.


     Alin dan Chelsea yang sejak tadi diam mematung sambil berpelukan dan menangis. Kini tidak bisa lagi menahan isak tangisnya.


     Sedangkan Mentari mencoba menenangkan kedua putra kembarnya sejak tadi. Dia bisa merasakan kalau si Kembar sangat marah saat ini.


"Bagaimana keadaan Nia?" tanya Bintang yang baru saja datang dari luar kota karena menjenguk Aqilah yang sedang mondok di pesantren.


"Dia masih di dalam. Ghazali juga ikut memantau," ucap Fatih.


"Rain—. Astaghfirullahal'adzim, Rain kenapa muka kamu hancur seperti ini?" tanya Bintang sambil memegang wajah adik bungsunya.


     Rain tidak menjawab atau memberikan isyarat apapun kepada kakaknya. Pikiran dia sedang kacau saat ini. Hanya ingin melihat dan memeluk tubuh istrinya seperti biasanya.


"Sebaiknya kalian jangan suka main hajar tanpa berbicara dahulu," ucap Bintang sambil menatap kedua pemuda yang serupa wajahnya.


"Ini sudah menjadi perjanjian tidak tertulis antara kita," ucap Rayyan tanpa merasa bersalah karena sudah menghajar adik ipar mereka.


"Itu benar!" lanjut Raihan.


***


     Lampu ruang operasi pun mati dan tidak lama keluar dokter yang sudah menangani Rania. Rain pun berlari kepada dokter dan juga kakak iparnya yang ikut dalam operasi barusan.


"Kak Ghaza, bagaimana keadaan Nia?" tanya Rain dengan suaranya yang parau dan serak parah.


"Iya, dia akan baik-baik saja. Tenang saja, asal dia makan makanan yang bergizi dan meminum obat secara teratur, insha Allah dia akan cepat sembuh," jawab Ghazali.


"Terima kasih, Kak." Air mata Rain kembali keluar. Kali ini air mata harapan. Dia berharap kalau semua akan baik-baik saja.


Amira menatap Rain dengan penuh iba dan dia berharap kalau kesalahpahaman ini bisa diatasi. Sehingga, semua bisa baik-baik lagi, seperti sebelumnya.


***

__ADS_1


Apa yang akan terjadi saat Rania sadar nanti? Apakah dia akan memaafkan Rain? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2