Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Asiah di Culik (1)


__ADS_3

     Anak-anak kembali memasuki kelasnya masing-masing. Saat itu Ibrahim dan Adam hendak ke toilet dan di antar oleh guru mereka. Sementara di kelas Bu Hawa menemani anak-anak belajar. 


"Asiah, aku pingin pipis," kata Salwa.


"Ke toilet saja. Di sana masih ada Bu Nabila yang menemani Adam dan Baim," balas Asiah.


"Temenin, yuk!" pinta Salwa.


"Bu Hawa. Salwa ingin pipis!" teriak Asiah.


"Mau pipis, Sayang. Ada Bu Nabila di toilet sedang mengantar Baim dan Adam. Berani pergi ke sana sendiri?" tanya Bu Hawa.


"Mau minta di antar sama Asiah. Bolehkan, Bu?" tanya Salwa.


"Iya, Boleh. Hati-hati, ya! Jangan lari-lari di koridor."  Bu Hawa mengingatkan kedua murid perempuan itu.


***


     Saat Asiah dan Salwa berjalan menuju toilet. Para penculik melihat ke arah mereka. Seperti merasa diberi kesempatan, mereka diam-diam mengikuti Asiah untuk menyergapnya.


"Bos, lihat!" Si Jaket Merah menunjuk ke arah Baim, Adam dan Bu Nabila yang berjalan berlawanan arah.


"Ini kesempatan!" Si Bos menyuruh mereka lebih mendekat pada target sasaran.


      Bu Nabila membawa Salwa masuk ke dalam toilet. Sementara Asiah, Baim, dan Adam menunggu di depan toilet. Ketiganya berdiri memunggungi para penculik.


"Bagaimana ini, itu ada anak satu lagi," kata Si Jaket Merah.


"Bawa saja sekalian! Tidak ada waktu dan kesempatan lagi," titah Si Bos.


       Mereka berjalan mendekati tiga bocah itu dengan memegang kain yang sudah diberi obat bius. Jumlah personil dan target pas, tiga banding tiga. Setiap penculik membius satu anak dan langsung dimasukan ke dalam karung kain. Posisi mereka juga di sudut mati cctv. Mereka sudah mempelajari dulu struktur bangunan dan letak cctv di kawasan Yayasan Al-Huda. Dengan langkah kaki seribu mereka berlari dan langsung masuk ke dalam mobil boks di bagian belakang.


"Hei, kenapa bawa anaknya jadi tiga?" tanya Si Jaket Hitam.


"Sudah cepat pegangin. Kita harus cepat-cepat pergi dari sini. Sebelum guru mereka menyadari muridnya di culik!" perintah Si Bos pada anak buahnya. Lalu Si Bos masuk ke kursi penumpang bersama sopir dan dengan cepat melajukan mobilnya keluar area Yayasan Al-Huda.


     Mereka senang karena akan mendapatkan banyak uang. Si Bos pun menghubungi seseorang.


"Tuan, saya sudah mendapatkan anak gadis kecil itu," ucapnya dengan nada senang.

__ADS_1


[Bawa dia ke tempat perjanjian]


"Baiklah. Asal jangan lupa dengan uang sisa pembayarannya!" Si Bos mengingatkan kliennya.


[Tenang saja sisa tiga ratus juta akan aku bawa ke tempat perjanjian]


***


     Saat Bu Nabila dan Salwa keluar dari toilet tidak menemukan tiga murid lainnya di sana. Dia menyangka kalau anak-anak itu sudah kembali ke kelas.


     Salwa tidak menemukan Asiah di dalam kelas. Begitu juga dengan Adam dan Baim.


"Raya, Asiah kemana?" bisik Salwa.


"Bukannya tadi Asiah mengantar kami ke toilet?" tanya Rayyan dengan tatapan heran.


"Dia tidak menggu aku. Saat aku dan Bu Nabila keluar dari toilet. Asiah, Baim, dan Adam sudah tidak ada di sana," jawab Salwa dengan mata mulai berkaca-kaca.


     Rayyan pun melihat ke sekeliling ketiga temannya itu tidak ada di dalam kelas. Dia pun merasa mulai tidak enak.


"Ada apa?" tanya Raihan.


"Asiah nggak ada," jawab Rayyan panik.


"Ian, ada apa?" tanya Bu Hawa yang berada di pojok ruangan sedang di kelilingi murid yang sedang mewarnai.


"Itu, Asiah ...." Raihan minta Rayyan saja yang bicara.


"Asiah, Baim, dan Adam tidak ada di kelas, Bu," lanjut Rayyan.


     Bu Nabila terkejut lalu berkata, "Bukannya mereka sudah kembali ke kelas dari tadi?"


"Belum, Bu. Sejak mereka tadi keluar, saya belum melihatnya lagi," sanggah Bu Hawa.


"Apa?" Bu Nabila sangat terkejut.


"Kita cari keberadaan anak-anak itu! Minta bantuan keamanan untuk membantu mencari mereka," titah Bu Hawa.


     Bu Hawa menjaga anak-anak di kelas. Sementara Bu Nabila di bantu dua orang satpam mencari keberadaan tiga anak itu. Bahkan mereka memeriksa seluruh cctv di sana. Namun, tidak ditemukan jejak mereka.

__ADS_1


***


Rayyan dan Raihan langsung menghubungi Tim Keamanan Keluarga Hakim. Untuk meretas kamera cctv di Yayasan Al-Huda dan kamera cctv lainnya.


"Kita telepon Ayah!" keduanya punya pemikiran sama.


"Assalamualaikum, Ayah."


[Wa'alaikumsalam, Raya. Ada apa?]


Kemudian Rayyan pun menceritakan kejadian yang sudah terjadi pada ketiga temannya. Fatih pun mulai memahami kejadian yang terjadi kepada anak-anak itu. Dia pun meminta kepada kedua anaknya jangan keluar sekolahnya. Kalau terjadi sesuatu lagi diminta secepatnya menghubunginya lagi.


***


"Alif, tolong lanjutkan pimpin rapat ini! Aku ada urusan penting yang sangat mendesak," perintah Fatih kepada kaki tangannya.


"Kamu mau kemana, tergesa-gesa begitu?" tanya Alif.


"Calon masa depan anakku lagi dalam bahaya! Aku harus turun tangan langsung," jawab Fatih sambil beranjak dari kursi tempat biasanya memimpin rapat.


"Apa? Bocah-bocah bau kencur itu, sudah punya ...." Alif menepuk keningnya.


Fatih pun menghubungi Tim Keamanan Keluarga Hakim dan mencari informasi apa saja yang sudah di dapat. Dia tahu kalau ini semua pasti ada hubungannya dengan Zulaikha dan Qorun.


"Ghaza, kamu sedang di rumah sakit atau di rumah?" Fatih menghubungi Ghazali.


[Di rumah, nanti bagian dinas malam. Kenapa Kak?]


"Bantu Kakak selamatkan, Asiah! Dia dan beberapa temannya di culik."


[Apa?]


[Cepat kamu persiapkan diri kamu! Kakak harus secepatnya menyelesaikan masalah ini. Karena ada dua pertemuan penting nanti.]


[Ini pasti permintaan si Kembar. Bayarannya mahal loh!]


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.

__ADS_1


Baca juga karya Ayu sang Penakluk, yuk! Sudah mau tamat nih.



__ADS_2