Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 56. Pisah Atau Bertahan


__ADS_3

     Betapa terkejutnya Alin saat melihat suaminya masuk ke ruang keluarga. Bahkan kering singkong yang sedang dipegangnya jatuh. Dia tidak menyangka kalau Raihan akan bisa menemukan dirinya dengan cepat.


"Eh, Ian. Sini, duduk!" Elina menepuk kursi di sampingnya dan itu berarti di samping Alin juga.


"Ke-napa?" gumam Alin terbata saat melihat Raihan berjalan mendekat kepadanya.


"Oma ambilkan minuman dulu, ya?" Elina pun pergi meninggalkan mereka berdua.


     Raihan duduk di sofa panjang yang di duduki oleh Alin. Keduanya saling menatap dalam diam. 


"Kenapa pergi diam-diam?" tanya Raihan dengan tatapan masih mengarah pada istrinya.


"Untuk apa Kakak datang ke sini?" Alin malah balik bertanya bukannya menjawab pertanyaan suaminya.


"Tidak baik seorang istri pergi dengan diam-diam tanpa meminta izin pada suaminya," kata Raihan.


"Cari saja istri yang sesuai dengan keinginan kamu, Kak." Alin beranjak pergi, tapi tangannya dicekal oleh Raihan dengan erat.


"Kita selesaikan masalah ini. Kalau perlu libatkan kedua orang tua kita," ujar Raihan dengan tatapan dinginnya.


     Baru kali ini Alin melihat tatapan mata Raihan yang seperti itu. Rasa takut yang dirasakan oleh Alin sangat jauh ketika dia takut melihat tatapan tajam suaminya saat dirinya melakukan sesuatu yang tidak di sukai olehnya. Namun, kali ini tatapan itu berbeda, seakan orang yang di depannya itu adalah orang lain.


     Raihan pun menarik tangan Alin dan pamitan kepada Opa dan Oma. Alin yang ketakutan tidak bisa berkutik. Bahkan sampai mobil Raihan pergi menuju ke Jakarta dengan kecepatan tinggi pun Alin hanya diam mematung.


     Hanya ada kesunyian yang ada di dalam mobil. Tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suaranya. Perjalanan pun terasa singkat dan kini mereka sudah sampai ke rumah Fatih. 


***


      Raihan pun membicarakan masalah yang terjadi pada mereka setelah kedua orang tua mereka berkumpul semua. Para orang tua hanya diam mendengarkan sedangkan Alin menundukkan kepalanya.


"Semua ini berawal dari paksaan kalian menikahkan kami, tanpa tahu perasaan kita berdua. Dan kami berdualah yang menjadi korban. Padahal saat itu tidak terjadi apapun pada kita berdua," ucap Raihan dengan tenang. Berbeda terbalik dengan hati dan pikirannya yang sedang kacau saat ini.

__ADS_1


"Ya, ini salah Bunda. Waktu itu memaksa kalian untuk menikah. Seandainya saja aku lakukan visum dan jika tidak terbukti, kalian tidak perlu melakukan pernikahan ini," ujar Mentari dengan menahan isak tangisnya.


"Kamu tidak salah, Sayang. Kita hanya mengambil keputusan yang terbaik saat itu," balas Fatih sambil memeluk tubuh istrinya.


"Benar. Apa yang dilakukan oleh Nyonya Mentari itu sudah tepat. Hanya saja mungkin pengajaran kita dalam memberikan pemahaman bagaimana berumah tangga sesuai tuntunan agama, belum maksimal," ucap Abimanyu.


"Ya, saya setuju dengan yang diucapkan oleh suami saya barusan. Selain itu, psikologis mereka juga harusnya diberikan pemahaman agar siap dalam menghadapi segala problematika rumah tangga," lanjut Aruna.


"Jadi, bagaimana dengan kalian berdua? Apa dengan menjalin hubungan pernikahan ini merasa bahagia atau tidak?" tanya Fatih.


"Ian, bagaimana menurut kamu?" tanya Mentari dengan pelan.


      Mendapat serangan mendadak pertanyaan kepadanya membuat Raihan terkejut. Dia membuka memori selama tinggal bersama Alin. Banyak yang menjadi kenangan mereka saat bersama-sama.


"Hidup Ian dari dulu sampai sekarang pun masih banyak bahagianya dibanding sedihnya, Bun," jawab Raihan.


"Lalu Alin bagaimana dengan kamu?" tanya Mentari pada menantunya.


      Semua mata tertuju pada Alin, lalu pada Raihan. Raihan hanya diam dan menatap Alin dengan datar.


      Fatih dan Abimanyu saling tatap dan memberi kode. Keduanya pun berdiri meninggalkan ruangan itu. Mereka pergi sekitar 10 menit, lalu kembali lagi.


"Baiklah sudah aku bicarakan dengan Abimanyu barusan mengenai masa depan rumah tangga kalian. Ayah ingin dengar sampai sejauh mana hubungan yang sudah kalian lakukan?" tanya Fatih dan melihat ke arah Raihan.


"Berciuman," jawab Raihan dengan singkat dan jujur.


"Itu juga karena Kak Ian yang duluan memulainya," lanjut Alin.


      Lagi-lagi Raihan dibuat kesal sama Alin. Seakan-akan dia yang memaksanya untuk berciuman. Padahal istri kecilnya itu yang duluan ngajak dan penasaran bagaimana rasanya berciuman. Bahkan setiap hari Alin yang selalu meminta duluan.


"Jadi, baru tahap sampai berciuman. Baguslah kalau begitu. Mau lanjut atau pisah ada ditangan kalian. Kami tahu kalau kalian ini masih muda, ternyata belum mampu menjalani kehidupan dalam berumah tangga. Bunda kira kalau kalian akan seperti pasangan Langit dan Almahira. Meski mereka menikah di usia yang sama-sama masih muda dan sekolah. Mereka mampu membangun rumah tangga yang bahagia dan saling memberikan dukungan," kata Mentari.

__ADS_1


"Kami ingin meminta maaf pada kalian berdua karena dulu sudah menyuruh kalian menikah. Kita semua takut kalau kalian jatuh pada perbuatan zina. Kami sayang pada kalian dan ingin melindungi kalian, itu saja yang kami pikirkan saat itu. Kami kira dengan seiring berjalannya waktu dan kami berikan pemahaman akan arti dalam membangun suatu rumah tangga, kalian akan mampu membangun kehidupan masa depan kalian berdua. Ternyata kami salah," kata Abimanyu.


"Sepertinya aku yang salah di sini sejak awal," ucap Mentari dengan suaranya yang parau.


"Aku yang pertama kali meminta Ian untuk menikahi Alin. Lalu aku tidak bisa memberikan pemahaman ilmu dalam berumah tangga. Maafkan Bunda Ian … Alin. Bunda merasa sangat bersalah pada kalian," lanjut Mentari.


"Tidak Bunda! Ini bukan salah Bunda," kata Raihan sambil duduk bersimpuh di depan ibunya.


"Ian 'lah yang bersalah di sini. Ian tidak mampu menjadi seorang suami yang baik. Selalu membuat Alin merasa menderita. Jadi, jangan salahkan diri Bunda," ucap Raihan dengan berlinang air mata. Dia merasa sudah jadi anak durhaka karena telah membuat menangis wanita yang sudah mengandung, melahirkan, menyusui, dan membesarkannya.


      Alin sebenarnya ingin memeluk ibu mertuanya juga. Namun, dia malu karena sudah membuat semua orang repot akan masalahnya.


"Kalau kalian ingin berpisah kami tidak akan melarang. Daripada kalian merasa menderita," kata Abimanyu.


      Baik Raihan maupun Alin sama-sama terkejut dengan perkataan Abimanyu barusan. Keheningan terjadi di sana.


"Ian menyerahkan semua keputusan pada Alin. Mau melanjutkan pernikahan ini atau enggak, Ian akan terima," balas Raihan menyerah.


"Kenapa Kak Ian malah memberikan keputusan terakhir pada Alin?" Anak gadis dari pasangan Abimanyu dan Aruna itu kesal karena diserahi pilihan untuk hubungan pernikahannya mau lanjut atau diakhiri.


"Bukannya kamu yang merasa tidak bahagia karena sering aku kasih hukuman. Makanya aku serahkan keputusan terakhir padamu," kata Raihan dengan pelan.


***


Bagaimana nasib rumah tangga Raihan dan Alin yang masih seumur padi itu? Akan kah terjadi perceraian dulu di antara mereka? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat untuk up bab berikutnya 🤗🤗.


Sambil menunggu Raihan dan Alin up bab berikutnya. Aku punya karya yang rekomen buat kalian baca. Yuk meluncur ke karyanya.



     

__ADS_1


__ADS_2