Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 58. Jantung Berdebar


__ADS_3

     Di waktu yang sama, saat Raihan dan Alin liburan di Lembang. Saudara kembar dan istrinya juga berada di tanah Sunda.


     Rayyan dan Asiah memulai bulan madu ke wilayah Bandung. Mereka di sana sekitar 3-5 hari. Asiah yang penyuka jajanan kuliner, pastinya tidak akan melewatkan kesempatan ini. Asiah bagaikan berada di surganya makanan kesukaan dia.


"A, jangan marah, ya. Kalau berat badan aku naik," kata Asiah saat selesai memakan colenak. Makanan yang jarang dia temukan di Jakarta. Tape singkong yang dibakar dan dikasih gula. Lalu pakai toping sesuai keinginan kita.


"Ya tentu saja, Sayang. Makan semua yang kamu sukai, tetapi jangan berlebihan. Itu tidak baik bagi tubuh kamu," balas Rayyan sambil tersenyum tampan.


"Terima kasih, Aa. Makin cinta, deh!" Asiah membalas senyuman itu dengan kedipan matanya yang genit.


"Raya ... Asiah? Kalian sedang liburan?"


     Rayyan dan Asiah melihat ke arah orang yang menyapa mereka. Terlihat orang yang sudah dikenal sedang tersenyum.


"Sulaiman? Kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya Rayyan.


"Sedang mengunjungi rumah nenek dari pihak ayah. Sudah lama tidak bertemu dan mumpung sedang masuk liburan kuliah, aku sengaja berkunjung," jawabnya.


"Oh, aku baru tahu," kata Asiah.


"Boleh aku gabung bersama kalian?" Sulaiman melihat ada kursi yang masih kosong di samping Rayyan.


"Ya, boleh," ucap Asiah.


    Ketiga orang itu jadinya berlibur bersama dan mengunjungi banyak tempat wisata yang banyak di gemari oleh warga. Mereka sangat menikmati liburan di Bandung. Senyum, tawa, canda, dan kebahagiaan terus menyelimuti mereka selama di sana. 


***


     Kini dua sejoli yang baru Berbaikan itu sudah memasuki kamar. Jika tadi Alin malu sama orang-orang di lantai bawah, kini saat berduaan dengan suaminya sudah tidak malu lagi. Bahkan dia memeluk erat tubuh Raihan.


"Loh, Kak. Katanya mau tidur! Ini kok, malah duduk di balkon?" tanya Alin saat Raihan membawanya ke balkon kamar dan duduk manis di sana.


"Bukannya kamu suka melihat bintang? Meski tidak terlihat sebanyak saat di Lembang, di sini kita juga bisa melihat bintang," ucap Raihan sambil membelai pipi mulus milik Alin.


     Alin pun menengadahkan kepalanya melihat langit malam. Ada beberapa bintang yang terlihat terang di sana. 


"Terima kasih, Cintaku!" ucap Alin.


     Mendengar ucapan istrinya barusan, Raihan merasakan banyak kupu-kupu beterbangan dalam perutnya. Senyum lebar karena terlalu bahagia tercipta di wajah tampannya. Dia sudah menyadari kalau Alin adalah gadis yang benar-benar dia cintai. Cinta pertama dia adalah bocah ingusan yang suka bertindak seenaknya dan sering membuatnya kesal. Namun, memiliki kepribadian unik dan baik. Punya hobi makan cemilan dan bergelantungan di pohon karena mencari kucing kesayangannya.


"Alin, apa kamu juga merasakan debaran jantung aku yang seperti ini?" Raihan meletakan telapak tangan Alin di dada tepatnya di bagian kiri. 

__ADS_1


"Jantung, Kak Ian berdetak sangat keras dan kencang," kata Alin.


"Apa milik kamu juga sama seperti ini, saat ini?" tanya Raihan.


     Alin pun dengan tenangnya meletakan tangan Raihan yang lebar di dada kirinya. Bukannya merasakan detak jantung milik Alin. Raihan malah merasakan sesuatu yang empuk dan membuat jantungnya terasa mau copot dan keluar lewat mulutnya.


"Apa yang kamu lakukan?" Raihan dengan cepat menarik tangannya dari dada Alin.


"Loh, bukannya Kakak barusan tanya jantung aku berdetak kencang. Aku letakan saja tangan Kakak agar bisa merasakannya sendiri juga," kata Alin dengan mengkerutkan alisnya sampai mau menyatu.


"Tapi, kamu sudah membuat aku pusing, Sayang!" Raihan otaknya mulai mengarah ke yang tidak-tidak.


     Sementara itu, Alin sendiri biasa saja dan tidak mengerti. Dia malah menatap heran pada suaminya yang mukanya kini berwarna merah sampai telinga dan leher.


"Kakak, sakit?" Alin menyentuh kening, pipi, leher, dan telinga suaminya.


"Ya, aku sakit." Raihan memalingkan wajahnya.


"Kita panggil dokter, ya?" Alin hendak beranjak dari pangkuan suaminya.


"Tidak butuh dokter. Aku butuhnya kamu," kata Raihan sambil menarik kembali tubuh Alin ke pangkuannya dan dipeluknya erat.


"Tapi, Kak …."


***


     Handphone milik Rain bergetar menandakan ada pesan masuk. Dia pun membuka pesan itu. Ternyata pengirim pesan itu adalah nomor Kiai Samsul.


Nak Rain, ini Umma. Tadi Umma dengar dari Amira kalau kamu sudah mengirimkan uang untuk pembangunan masjid. Terima kasih, semoga Allah memberikan pahala yang begitu besar kepadamu. Kapan-kapan mainlah ke sini lagi, jika Nak Rain punya waktu senggang.


     Rain hanya membaca pesan itu dan tidak membalasnya karena ada Rania yang sedang memelototinya. Ditambah tangan dia bersedekap di dada bagian bawah.


"Aku, tidak izinkan kamu pergi," kata Rain dengan muka datarnya yang cenderung dingin.


"Kenapa, Kak? Aku dan Chelsea hanya mau mengunjungi makam orang tuanya," ucap Rania.


"Bisa saja ada musuh yang mengintai kalian," balas Rain.


"Musuh apanya? Kita itu bukan bagian dari kelompok mereka," ujar Rania.


"Kita mending pergi ke Rumah Tahfiz  Nurul Iman," ucap Rain.

__ADS_1


"Menemui Kak Amira? Itu keinginan Kakak!" balas Rania ketus.


"Daripada kamu pergi ke tempat berbahaya," pungkas suaminya.


"Sama saja, ke sana juga sama bahayanya," tutur Rania dengan memasang wajah cemberut.


"Apa maksudnya?" tanya Rain tidak mengerti.


"Ya, sama-sama bahaya lah bagiku," jawab Rania lalu dia berjalan menuju tempat tidurnya.


"Ingat, Kak. Aku tidak mau dipoligami!" Rania membalikan badannya lalu menaiki ranjang.


"Kita tidak tahu takdir apa yang akan menimpa kita," kata Rain sambil berdiri dari sofa yang barusan di duduki olehnya.


"Kita bisa mengubah takdir dengan doa dan ikhtiar," balas Rania menatap tajam pada suaminya.


***


     Pagi harinya semua berkumpul di ruang makan. Abimanyu dan Aruna pun menginap di sana. Pasangan Raihan dan Alin terlihat mesra. Raihan yang setiap hari membuatkan susu untuk istrinya. Juga saling menyuapi dengan Alin di piring yang sama. Senyum bahagia keduanya terus tercipta. 


     Rania membuatkan air madu untuk suaminya. Juga jus tomat dan jus jambu biji merah untuk semua orang. Kalau makan Rania biasa sendiri, tidak seperti Alin.


"Ian, Kiai Samsul ingin bertemu dengan kamu," kata Rain setelah selesai sarapan.


"Ada apa?" tanya Raihan.


"Tidak tahu. Dia hanya meminta kita ke sana akhir pekan nanti," jawab Rain.


     Rania menjadi kesal mendengar ucapan suaminya ini. Dia pun melirik ke arah orang tuanya.


"Ayah … Bunda, Chelsea mengajak Nia ke Jerman. Minggu depan adalah tanggal kematian orang tuanya. Daddy Ghaza dan Mommy Bintang, tidak bisa mengantar. Boleh nggak Nia pinjam pesawat pribadi keluarga Hakim?" Rania membalas ketidak sukaan dia pada Rain.


     Rain menatap tajam pada istrinya yang tidak menuruti perkataannya. Dia tidak suka jika Rania menjadi pembangkang.


"Rain, tidak memberikan izin pada Nia, Yah … Bun," kata Rain dengan cepat.


    Rania langsung memutarkan kepalanya ke arah Rain. Dia sungguh marah dan kesal padanya.


***


Akankah Raihan berkunjung ke Rumah Tahfiz Nurul Iman bersama Rain? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar untuk membuat aku semakin bersemangat 🤗🤗.

__ADS_1


Sambil menunggu Raihan dan Alin up bab berikutnya. Baca juga karya teman aku, yang pastinya nggak kalah seru. Yuk kepoin karyanya.



__ADS_2