
Keesokan harinya Yusuf dan keluarga Zulaikha pergi ke kampung halamannya. Dalam perjalanan itu mereka bersenda gurau. Apalagi kalau bukan si Gadis Nakal yang bikin ramai suasana. Ada saja yang jadi bahan pembicaraan. Tulisan di badan mobil Truk saja jadi bahan obrolan.
Tidak terasa perjalanan mereka tempuh dengan menggunakan mobil, menghabiskan waktu 3 jam 5 menit 13 detik. Meleset dari perkiraan Yusuf yang bilang sekitar 3 jam kalau pakai mobil.
"Om, kamu salah prediksi harus kabulkan satu permintaan aku!" seru Zulaikha begitu turun dari mobil.
"Ya Allah, ini meleset cuma lima menit. Masa aku harus mendapat hukuman," ucap Yusuf sambil mengeluarkan barang atau oleh-oleh untuk keluarganya.
"Em ... em ... em! Salah tetap salah. Pokonya Om harus kabulkan satu permintaan aku," ujar si Gadis Nakal itu bersikukuh.
'Aku rasa Zulaikha menginginkan sesuatu. Makanya dia bersikukuh,' kata Yusuf dalam hatinya.
"Om ...!" rengek Zulaikha dengan tatapan mata memohon.
"Iya, aku salah. Kamu boleh minta sesuatu sama aku. Kalau aku bisa menjalaninya akan aku lakukan. Kalau nggak ya nggak akan aku jalani," balas Yusuf.
"Aku rasa Om bisa melakukannya," ucap Zulaikha diikuti oleh oleh senyumannya.
'Tuh 'kan, pastinya ada yang dia mau.' Yusuf menahan tawanya.
__ADS_1
***
Kedatangan Zulaikha dan kedua orang tuanya di sambut dengan baik oleh keluarga besar Yusuf. Hajar sangat senang melihat secara langsung calon menantunya kini pakai hijab.
"Tuh lihat, Yah! Calonnya Yusuf cantik 'kan? Dia ada bulenya meski sedikit karena banyak makan nasi," ucap Hajar pada suaminya.
Ayahnya Yusuf memberikan isyarat pada putranya untuk mendekat. Begitu juga kepada Clive. Sebelah tangan yang masih berfungsi menyatukan tangan Yusuf dan Clive.
Yusuf pun menangis. Dia paham maksud Ayahnya. Dia hanya mengangguk-angguk.
"Iya, Ayah. Aku dan Zulaikha akan menikah, tapi dengan wali hakim. Kita berbeda keyakinan dengannya," ucap Yusuf sambil mengusap air matanya. Kemudian dia juga mengusap air mata di matanya yang mulai meredup pancaran cahayanya.
Hajar menangis terharu, kini putra dan cucunya sudah memiliki sandaran hati di rumah mereka nanti. Seorang Istri atau Ibu itu ibarat nyawa dalam rumah. Jika, sosok itu tidak ada. Maka rumah akan terasa kosong, hampa, dan dingin. Sebaliknya jika ada sosok istri atau ibu, maka suasana rumah akan terasa hidup, hangat, dan ramai.
"Nak Zulaikha, jadilah kekuatan bagi Yusuf. Yaitu Istri, teman, partner, dan pendukung setiap waktu baginya.
"Iya, Bu. Mohon doa 'kan aku agar bisa secepatnya jadi menantu yang diharapkan oleh Ibu dan Ayah. Juga menjadi muslimah sesuai harapan semuanya," kata Zulaikha malu-malu.
"Kedatangan kami juga selain bersilaturahmi, juga untuk membicarakan hari pernikahan mereka. Kebetulan Zulaikha hari kelulusannya itu bulan depan. Bagaimana kalau hari pernikahan mereka itu satu hari setelah hari ke lulusannya," jelas Clive.
__ADS_1
Jujur Yusuf baru tahu hal ini. Dia tidak menyangka kalau hari pernikahan dia dan kekasihnya itu lebih cepat dari perkiraan.
Yusuf mendekat ke arah Ayahnya, lalu diterimanya sebuah Al Qur'an yang bersampul kulit. Al Qur'an yang telah berusia jauh lebih tua darinya. Al Qur'an yang diwariskan secara turun-temurun di keluarganya.
Kalau di keluarga Yusuf seorang pemimpin kepala keluarga itu harus berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-sunah. Agar menjadi seorang muslim yang kaffah dan harus bisa membimbing semua anggota keluarganya. Kini Ayahnya ingin mewariskan harta peninggalan leluhurnya pada putra dia satu-satunya.
"Ayah, doakan lah aku selalu agar bisa menjadi imam terbaik bagi keluargaku!" pinta Yusuf pada Ayahnya. Hanya anggukkan yang diberikan oleh laki-laki tua yang hanya bisa berbaring.
Kedua orang tua Zulaikha menahan tangis haru mereka saat melihat Yusuf dan Ayahnya. Yusuf dengan telaten menyuapi sedikit demi sedikit makanan yang sudah dibuatkan oleh Ibunya. Mereka juga merasa kalau putrinya tidak salah pilih calon pasangan hidupnya. Meski sudah menjadi duda bahkan punya anak satu, nggak mengurangi nilai lebih dari sosok laki-laki berwajah tampan itu.
"Mi ... Pi .... Ayo, bilang!" Zulaikha memberi kode pada kedua orang tuanya.
***
Waduh si Zul kasih kode nih! Kira-kira mau apa, ya? Tunggu kelanjutannya ya! Yuk kasih dukungan buat aku agar semakin semangat buat crazy up. Tipe Author The power of kepepet akhir bulan. UP gila-gilaan 😆😆😆.
Tugas kelas Numpuk 😭😭😭😭
Sambil menunggu Abang Yusuf dan Zulaikha up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku. Ramaikan lapak mereka. Cus meluncur 🥰
__ADS_1