
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.
***
Bab 121
Dering telepon memekakkan telinga Rain yang sedang khusyuk mengerjakan tugasnya. Terlihat nama Chelsea di sana.
"Assalamu'alaikum, ada apa Chelsea?" tanya Rain.
^^^"Wa'alaikumsalam. Kak Rain, apa Nia pergi ke tempat Kakak?"^^^
"Tidak. Bukannya ada janji dengan kalian mau pergi ke bioskop dan membeli hadiah," balas Rain.
^^^"Iya, tadi Nia pergi keluar. Setelah aku cari dia tidak ada. Ditelepon pun sibuk terus."^^^
"Baiklah, aku akan cari keberadaan Nia," ucap Rain.
Rain pun melacak keberadaan Rania. Dia melihat titik keberadaan Nia berada di rumah sakit. Dia mengira kalau Nia sedang menemui Ghazali seperti biasanya.
"Adnan, aku pergi keluar," ucap Rain sambil membuka pintu kantor Adnan, lalu menutupnya lagi.
***
Rain pun mendatangi rumah sakit untuk menjemput istrinya. Saat dia berjalan di koridor rumah sakit ada yang memanggilnya.
"Kak Amira, sedang bertugas?" tanya Rain.
"Tidak, aku masuk kerja nanti malam. Sekarang sedang menjaga Abah," jawab Amira.
"Pak Kiai Samsul sakit apa?" tanya Rain.
"Terserempet mobil saat pulang dari pengajian," jawab Amira.
"Tapi, tidak apa-apa 'kan?" Rain mencemaskan keadaan gurunya itu.
"Untuk saat ini, abah belum sadar. Dia juga kata dokter tidak akan bisa berjalan untuk beberapa waktu karena tulang kakinya retak dan bengkak," balas Amira.
"Bolehkah saya menjenguk pak Kiai Samsul?" tanya Rain.
"Tentu saja Rain," jawab Amira.
***
Tangis haru kini sedang dirasakan oleh Rania. Betapa senangnya dia saat Miss Angela mengatakan dirinya sedang hamil 6 minggu.
__ADS_1
"Selamat, Nona. Semoga bayinya terlahir dengan sehat dan menjadi anak yang hebat," kata Miss Angela
"Terima kasih, Miss Angela. Aku pamit dulu," ujar Rania.
"Jangan lupa vitaminnya minum," kata Miss Angela mengingatkan lagi.
Senyum Rania terus mengembang menghiasi wajah cantiknya. Saat berjalan melewati taman, dia melihat Rain dan Amira masuk ke dalam lift. Maka Rania pun mengikutinya.
'Kak Rain mau apa ke sini? Apa dia sengaja ingin menemui Kak Rania?'
Lantai yang dituju oleh mereka berdua berada di lantai 5. Maka, Rania pun naik lift berikutnya menuju ke lantai itu. Untungnya tidak terlalu banyak orang-orang karena bukan jam besuk.
'Apa ada kenalannya yang sedang sakit?'
Rania pun mencari ke kamar mana Rain dan Amira masuk. Dia menengok lewat kaca yang ada di pintu. Sudah beberapa kamar yang di periksa oleh Rania lewat kaca. Namun, belum juga dia menemukan suaminya.
""Saya nikah dan kawinkan engkau Rain Andersson bin Alexander Andersson dengan putri saya Amira Nur Azzizah dengan mas kawin bacaan surah Ar Rahman dan perlengkapan alat sholat , dibayar tunai."
Tubuh Rania menegang saat mendengar perkataan ijab yang dilakukan oleh seseorang dan dia yakin kalau itu adalah Kiai Samsul. Perasaan marah kini menyelimuti Rania, dia pun langsung membuka pintu ruang rawat kelas VVIP dalam satu dorongan kuat. Dia bisa melihat Amira dan keluarganya dan juga beberapa orang di sana, termasuk suaminya.
"Kak Rain, aku benci kamu!" teriak Rania lalu pergi sambil mengangkat.
"Nia, tunggu! Kamu salah paham," ucap Rain mengejar Rania.
Rania berlari kencang dan masuk ke dalam lift yang hendak tertutup. Lalu, dengan cepat menekan lantai 1. Rain pun tidak bisa mengejarnya. Sehingga, dia berlari menuruni tangga dari lantai 5 ke lantai 1.
Rania menangis tergugu dan air matanya tidak henti-hentinya keluar. Dia pun berlari ke arah parkiran.
"Aku benci kamu, Kak! Jangan mendekati aku!" teriak Rania dan kembali berlari.
Tiiiiin!
Bunyi klakson dari sebuah ambulans memekakkan telinga orang-orang yang berada di sana. Bersamaan dengan itu tubuh Rania terpental kemudian berguling-guling.
"Nia!" teriak Rain dan berlari ke arah tubuh yang tergelatak tidak sadarkan diri.
"Tidak, Nia. Aku mohon buka matamu!" pekik Rain sambil meraih tubuhnya.
Rain langsung membawa tubuh Rania dan berlari ke ruang IGD yang berada di dekat sana. Rain pun berteriak minta agar dokter segera menangani istrinya. Apalagi, banyak darah yang keluar dari tubuh Rania.
"Ada apa ini?" tanya dokter yang langsung datang saat melihat Rain menggendong Rania yang gamisnya bernoda darah banyak.
"Dia tertabrak ambulans di depan barusan," jawab Rain.
"Pasien spertinya mengalami keguguran," ucap perawat yang terlebih dahulu menangani Rania.
"Apa maksudnya suster? Istri aku sedang hamil?" Rain merasa ada sesuatu yang besar dan kuat menghantam tubuhnya.
__ADS_1
"Panggil dokter kandungan!" titah dokter itu.
Tidak lama datang miss Angela, dengan wajah panik. Dia untungnya baru saja menyelesaikan memeriksa pasiennya.
"Ya Tuhan, Nona Rania! Dia baru saja dari ruangan aku tadi!" pekik miss Angel.
"Jadi, pasien benar sedang hamil?" tanya dokter.
"Iya, dia sedang positif hamil sekitar enam Minggu," jawab miss Angela.
"Tolong selamatkan istri dan bayi kami!" pinta Rain.
"Anda tenang saja. Kami akan lakukan yang terbaik untuk keduanya," ucap dokter.
"Rain! Aku dengar Nia mengalami kecelakaan?" Amira yang menyusul tadi masuk ke ruang IGD.
"Iya. Aku tidak menyangka kalau saat ini Nia sedang hamil. Aku takut terjadi apa-apa kepada istri dan anak kami," lirih Rain.
"Berdoalah semoga mereka baik-baik saja," ucap Amira. Sebenarnya, dia juga sangat terkejut mendengar kalau Rania sedang hamil saat ini.
Rain berasa tidak menentu perasaannya sejak melihat wanita yang dicintainya tertabrak di depan matanya. Dia juga menyalahkan dirinya.
"Rain, aku dengar Nia mengalami kecelakaan?" Ghazali yang baru saja sampai dikejutkan dengan laporan dari seorang perawat yang memberitahu kalau putri asuh sekaligus keponakannya itu masuk IGD.
"Kak Ghaza, tolong Nia dan bayi kami!" pinta Rain dengan suara lirihnya. Mata Rain sudah merah karena dia menangis terus dalam waktu lama.
"Apa? Nia hamil?" Ghazali terkejut mendengar perkataan adik iparnya itu.
"Aku juga baru tahu," balas Rain.
"Rain, Nia itu masih kecil. Kenapa kamu buat dia hamil?" Ghazali marah kepada menantu kakaknya. Dia mencengkram kuat kerah leher adik bungsu istrinya itu.
"Karena aku sangat mencintainya," balas Rain.
"Tapi, saat ini dia belum cukup usianya untuk hamil, Rain. Terlalu beresiko!" teriak Ghazali dan memancing orang-orang yang ada di sana.
"Nia, juga sudah menginginkan bayi." Rain tidak berusaha menarik tangan kakak iparnya di kerah bajunya.
"Tuan Rain, harus dilakukan operasi kurretase. Kami tidak bisa mempertahankan janinnya," kata miss Angela.
Rain merasa dunia runtuh dan menghantam dirinya. Kedua kaki dia tidak bisa menahan berat tubuhnya. Dia jatuh terduduk di lantai.
"Lakukan yang terbaik untuknya," titah Ghazali.
"Baik!" balas miss Angela.
Rain bagaikan mayat hidup saat mendengar kalau calon bayi mereka tidak bisa diselamatkan. Dia merasa separuh nyawanya juga ikut melayang.
__ADS_1
***
Bagaimana reaksi keluarga Rania mengetahui berita ini? Tunggu kelanjutannya, ya!