Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 26. Alin Marah


__ADS_3

"Alin, kamu itu perempuan jangan suka berbuat kekerasan!" bentak Raihan sambil menarik tangan istrinya.


"Kakak lebih suka kalau aku teraniaya, ditindas oleh mereka, dan berakhir terluka. Maaf saja, aku tidak mau hal itu terjadi padaku. Aku punya perasaan, harga diri, dan tidak suka diperintah," balas Alin dengan bernada tinggi.


"Kamu telah melakukan tindak kekerasan kepada orang lain. Bagaimana jika mereka nanti menuntut kamu? Kamu bisa-bisa di penjara dan mencoreng nama baik keluarga," ujar Raihan masih dengan emosi.


"Aku tidak takut! Karena mereka yang duluan menyerang aku. Aku hanya melakukan pembelaan diri untuk mempertahankan diriku dari tindak kekerasan mereka berdua," bantah Alin dengan nyolot.


"Bagaimana kalau nanti kamu di penjara karena perbuatan kamu ini?" tanya Raihan.


"Apa Kakak akan diam saja saat aku di penjara?" Alin malah balik bertanya.


"Makanya kamu itu berpikir dulu sebelum bertindak," desis Raihan.


"Memangnya orang yang sedang terdesak dan marah bisa berpikir?" Alin masih saja terus menimpali omongan Raihan.


"Dasar bocah, di nasehati terus saja menimpali," geram Raihan.


"Sudah tahu aku ini bocah, seharusnya Kakak lebih mengerti aku," gerutu Alin.


"Kalau kamu tidak mau mendengarkan omongan yang lebih tua, mana akan ada yang mau mengerti kamu. Kamu maunya dimengerti oleh lain sedangkan kamu sendiri tidak mau mengerti orang lain. Gara-gara perbuatan kamu ini bisa saja menyeret orang lain dalam kerugian," sungut Raihan dengan tatapan mata yang tajam dan tidak disukai oleh Alin.


"Oke! Kalau terjadi sesuatu padaku nanti, Kakak tidak perlu ikut campur. Aku juga nggak akan bawa-bawa Kakak dalam masalahku. Aku tidak butuh bantuan kamu!" bentak Alin lalu pergi meninggalkan Raihan dengan perasaan dongkol.

__ADS_1


     Ketika di parkiran tanpa sadar Alin menunggu di depan mobil Raihan. Namun, ketika melihat suaminya, dia teringat kalau sedang marahan. Maka, dia pun cepat-cepat pergi dari sana. Dia berjalan kaki menuju pintu gerbang.


      Raihan membunyikan klakson mobil agar Alin ikut masuk ke dalam mobil. Namun, gadis itu tidak menghiraukannya dan terus saja berjalan.


"Yakin kamu tidak mau naik? Tidak ada kendaraan umum di sekitar sini," kata Raihan sambil memelankan laju mobilnya.


     Alin masih saja berjalan tidak mempedulikan ucapan suaminya. Saat ini emosi menguasai hatinya. Dia marah, sakit hati, kesal, dan tidak mau bicara dengan siapapun.


"Baiklah kalau kamu tidak mau ikut naik. Aku tidak akan memaksa," ucap Raihan lalu melajukan mobilnya pergi meninggalkan Alin.


"Dasar Raihan laki-laki berengsek!" teriak Alin sekuat tenaga lalu dia menangis meraung-raung sambil jongkok.


      Setelah sekitar 10 menit Alin menangis ada seseorang yang mendekatinya. Namun, Alin tidak mempedulikannya. Dia masih meluapkan perasaannya dengan menangis.


"Sampai kapan kamu akan terus menangis. Mata dan muka kamu sudah bengkak, tuh," ucap Raihan.


"Itu hak kamu. Aku nggak akan melarang," ucap Raihan.


"Antarkan aku pulang!" pintanya.


'Dasar bocah! Sabar Ian … sabar!' batin Raihan.


     Sebenarnya Raihan memperhatikan Alin dari kejauhan. Dia juga kesal sama kelakuan istrinya tadi. Selalu melawan dan membantah. Namun, mana tega dia meninggalkannya seorang diri. Kelakuan Alin yang masih saja seperti anak kecil yang kadang mengesalkan, tetapi menggemaskan. Selalu membuat dirinya sering-sering beristigfar. Dalam perjalanan pulang pun mereka diam tidak bersuara.

__ADS_1


     Rumah yang biasanya di isi dengan celotehan dan tawa Alin dan suara kucingnya kini, berubah menjadi sepi mencekam seperti kuburan. Alin mau pun Raihan berdiam diri di kamarnya masing-masing. Pertengkaran mereka di wahana Aquarium Sea World tadi membuat keduanya marahan.


***


"Den Ian, Non Alin belum keluar kamar juga," kata Bi Mar ketika Raihan duduk di meja makan.


"Sejak pulang tadi, Bi Mar?" tanya Raihan dan menatap ke arah asisten rumah tangga itu.


"Iya, Den. Dipanggil-panggil juga dia tidak menyahut," jawab Bi Mar.


" Ya sudah, biar aku saja yang panggil dia. Bi Mar dan Mang Asep sudah makan?" tanya Raihan.


"Sudah, Den," jawab Bi Mar.


"Kalau mau istirahat, silakan saja, Bi. Mungkin aku akan selesai makannya agak malam," kata Raihan. Dia merasa akan memakan banyak waktu untuk meluluhkan hati istri kecilnya itu.


***


"Alin, buka pintunya!" Raihan mengetuk pintu kamar tidur Alin. Tidak ada jawaban maka dia pun mencoba membuka handel pintu. Untungnya pintu itu tidak dikunci.


"Alin ...! Alin, kamu di mana?" Raihan mencari setiap sudut kamar tidur istrinya. Bahkan balkon pun dia datangi.


"Alin! Kamu jangan sembunyi dan main petak umpet dengan aku. Cepat keluar!" teriak Raihan, tetapi hanya ada keheningan di sana.

__ADS_1


***


Kira-kira Alin pergi ke mana? Atau dia sedang bersembunyi? Tunggu kelanjutannya ya? Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.


__ADS_2