Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 46. Berbaikan


__ADS_3

     Hari ini adalah hari Alin akan berkemah di kegiatan Pramuka di sekolahnya. Semua persiapan sudah dia persiapkan dengan baik. Barang-barang yang akan dia bawa pun sudah di simpan ke dalam mobil. 


     Alin meminum susu yang sudah menjadi kewajibannya saat sarapan. Matanya melirik pada Raihan, dia ingin bicara sesuatu, tetapi kalau dia meminta tolong, pasti akan kalah taruhan. Dia tidak tahu hukuman apa yang akan dia terima.


'Bodoh, ah! Daripada aku nggak bisa pulang nanti,' batin Alin.


     Raihan sedang makan sarapan dengan tenang. Sesekali dia melirik ke arah Alin. Dia gemes pada istrinya itu yang tidak bisa diam saat duduk di kursi meja makan.


"Kak Ian."


"Alin."


     Raihan dan Alin bicara bersamaan. Hal ini dimanfaatkan oleh Raihan.


"Ada apa, Alin?" tanya Raihan dengan tenang.


"Besok saat aku pulang, apa Kakak bisa jemput aku?" tanya Alin.


'Gotcha! Akhirnya dia yang menyerah duluan. Hampir saja aku kalah,' batin Raihan. 


"Bisa. Jam berapa kira-kira kamu akan pulang nanti?" tanya Raihan.


"Tidak tahu," jawab Alin.


"Oke. Kamu tinggal hubungi aku saja saat sudah waktunya pulang," kata Raihan.

__ADS_1


"Lalu …?" Alin bergumam tidak jelas.


"Apa? Hukuman dari taruhan kemarin?" tanya Raihan sambil menatap Alin dengan menahan senyumnya. 


     Alin pun mengangguk. Dia pasrah saja dengan hukuman yang akan dia terima.


"Nanti saja sekarang belum terpikirkan," kata Raihan.


"Sudah sarapannya?" tanya Raihan. Alin menggeleng.


"Sini, aku suapi! Kamu harus makan banyak. Jangan sampai kelaparan nanti," kata Raihan sambil memasukan makanan ke mulut Alin.


    Ini yang Alin nggak suka. Setiap makanan yang disuapi oleh suaminya selalu terasa enak dan nikmat. Padahal itu makanan yang sama tadi.


***


     Saat perjalanan pergi ke sekolah, seperti biasa Alin banyak yang bicara ada saja bahan obrolan Alin. Sementara itu, Raihan hanya mendengarkan dan sesekali menanggapi.


"Sudah sampai? Cepat amat," kata Alin sambil membuka sabuk pengamannya.


"Kamu hati-hati saat berada di bumi perkemahan. Lalu kalau ada apa-apa, kasih tahu aku," ucap Raihan. 


"Iya," balas Alin sambil mencium tangan Raihan. Sebaliknya Raihan pun mencium kening Alin dan ini selalu membuat Alin merona.


     Raihan membantu menurunkan barang perbekalan milik istrinya dari mobil. Alin pun mengambil semua itu dengan sekali bawa, meski terasa sangat berat.

__ADS_1


"Alin!" panggil seseorang dengan suaranya yang bariton.


"Akbar," balas Alin sambil tersenyum.


"Siapa dia?" tanya Raihan dengan tatapan penuh selidik.


"Ketua kelas," jawab Alin dengan gugup dan takut karena Raihan menatap tajam pada temannya itu.


"Kamu jangan dekat-dekat sama dia!" kata Raihan memberi peringatan.


"Kitakan satu tim, Kak. Jadi pastinya akan dekat," jawab Alin dengan polosnya.


"Kamu ini dibilangin sama suami malah melawan," ujar Raihan sambil mencubit pipinya.


"Alin, mana barang bawaan kamu? Sini biar aku bawakan!" Akbar mengulurkan tangannya hendak membantu Alin.


"Tidak perlu, karena barang milik Alin akan aku bawa sampai ke dalam," tolak Raihan.


    Alin menatap curiga pada suaminya. Dia merasa kalau Raihan sedang cemburu. Maka senyum di wajahnya kini tercipta.


'Apa Kak Raihan sedang cemburu?' tanya Alin dalam hatinya.


***


Apa Raihan cemburu? Alin kalau makan kayak Mak-nya mau disuapi dan habis banyak. Bagaimana saat dia kemah nanti? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga 🤗🤗. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗🤗.

__ADS_1


__ADS_2