Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
Bab 130. Ngidam Rania


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Lalu kasih like dan komentar. Semoga hari kalian penuh kebahagiaan.


***


Bab 130


     Waktu terus bergulir dan Rania sudah menyelesaikan koas dan wisudanya. Dia kini sudah kembali pulang ke rumahnya bersama Rain. Kehamilannya juga masuk tujuh bulan. Setelah diperiksa ternyata dia akan punya akan kembar tiga. Makanya perut Rania begitu sangat besar meski usia kandungannya baru tujuh bulan, sehingga disangka berusia sembilan bulan.


"Ya Habibi, istri kamu ingin makan gado-gado yang banyak lontong dan bumbunya," kata Rania yang sedang duduk di pangkuan Rain sambil memeluk lehernya.


"Ini masih pagi, Ya Humaira," balas Rain sambil mencolek hidung mancung istrinya.


"Hari ini pokoknya makan gado-gado. Tidak boleh lebih dari jam delapan pagi. Nia lapar," ujar Rania memasang wajah cemberut.


"Astaghfirullah, Nia Sayangku … Cintaku! Piring sarapan baru saja di simpan lima belas menit yang lalu, kini bilang sudah lapar lagi," ucap Rain terkejut. Bahkan dirinya juga baru selesai mandi dan belum ganti baju karena tiba-tiba Rania ingin duduk dipangkuannya.


"Ya sudah kalau kakak tidak mau, Nia minta sama Kak Mega atau Ayah saja," tukas Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan bersedih gitu, Istriku tercinta. Tapi, kalau jam delapan belum ada warung nasi yang buat gado-gado. Harus agak siang," kata Rain terjeda, "untuk makan siang saja, ya? Gado-gadonya."


"Tidak mau. Maunya buatan Kak Rain," ucap Rania sambil memeluk leher kembali dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya.


      Rania dengan jahilnya memberikan kecupan-kecupan ringan di leher dan rahang Rain. Hal itu malah memancing gairah suaminya. Namun, dengan kejamnya Rania langsung bangkit dan hendak pergi meninggalkan Rain.


"Mau ke mana, Sayang?" tanya Rain dan langsung meraih tubuh istrinya.


"Mau ke rumah Ayah. Pasti ayah dan bunda akan buatkan gado-gado," jawab Rania memanasi sang suami.


"Kamu tidak boleh pergi," ucap Rain yang sejak tadi memeluk sambil mencium pucuk kepala dan pipi gembul dan kenyal milik Rania.


"Kalau begitu buatkan gado-gado untuk Nia yang banyak dan enak," kata Rania menantang.


"Baiklah akan aku buatkan, tapi setelah yang satu ini!" bisik Rain dan Rania tidak bisa menolaknya.


***


    Rain memperlihatkan kemampuannya mengulek sambal kacang. Setelah selesai merebus semua sayuran untuk membuat gado-gado. Sedangkan untuk lontong, dia membeli karena tidak akan punya cukup waktu. Rania memasang wajah cemberut karena ini sudah lebih dari dua jam dari waktu yang dia inginkan.

__ADS_1


"Senyum dong, Sayang. Biar rasa gado-gadonya enak," goda Rain sambil tersenyum tampan.


"Ini sudah telat dari jadwal," balas Rania.


"Iya, aku minta maaf lagi untuk yang ke tujuh puluh tujuh kalinya," ujar Rain sambil mengaduk sayuran, lontong, dan bumbu kacang di dalam cowet.


    Lalu, Rain menyuguhkan gado-gado itu di dalam piring berukuran besar. Senyum lebar Rain tercipta saat melihat mata Rania yang berbinar saat melihat gado-gado itu di depannya.


"Mau di suapi?" tanya Rain merayu Rania agar tidak cemberut lagi.


"Mau," jawab Rania dengan nada manjanya.


    Pasangan suami itu pun makan bersama. Lagi-lagi Rain tidak pergi ke kantor untuk memenuhi ngidam istrinya yang malah sering belakangan ini terjadi.


***


"Kak Rain, Sayang. Bangun, dong!" Rania menggoyangkan tubuh suaminya.


      Rain malah menarik Rania ke dalam pelukannya. Lalu, dia belai kepalanya agar tidur lagi. Dia merasa kalau istrinya akan meminta sesuatu makanan yang sulit dia dapat.


"Ya Habibi, Cintaku … Sayangku! Bangun," bisik Rania sambil memberikan kecupan kecil di pipi Rain.


"Ingin makan sate kambing, tapi jumlahnya harus dua puluh satu," ucap Rania.


    Rain melihat jam di dinding menunjukkan pukul 00.45 dan ini waktu yang sulit untuk mencari makanan. Rania itu kalau meminta sesuatu di waktu-waktu yang sudah tidak ada penjual makanan. Kemarin ingin makan daging bebek bakar saat jam 01.00 dan Rain muter-muter sampai ke kota sebelah dan baru dapat penjual itu jam 02. 17 pulang jam 03.00.


"Tidak ada yang jualan jam segini, Sayang," kata Rain.


"Ya sudah, bobo saja lagi," ucap Rania. Lalu, dia mengambil handphone miliknya dan memesan sendiri satenya.


"Tunggu, Sayang. Kamu tidak menyuruh aku untuk mencari ke luar?" tanya Rain.


"Apa aku pernah menyuruh Kakak untuk pergi ke luar untuk mencari makanan yang aku inginkan? Itukan keinginan kakak sendiri pergi ke luar," jawab Rania.


     Rain mengaga dan membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya. Lalu, kenapa tidak sejak awal dia bilang tidak perlu keluar rumah, tinggal pesan saja.


     Akibat kekesalan Rania pada Rain, dia tidak memberikan jatah untuknya selama seminggu. Sehingga, Rain hanya bisa memeluk saja di malam-malam yang dingin.

__ADS_1


***


     Asiah sedang menyusui bayinya yang berjenis kelamin perempuan. Rayyan dan Asiah menamai putri keduanya ini dengan nama Zahra, seperti nama ibu dan adik perempuannya yang sudah meninggal. Hal ini juga untuk menyenangkan hati Abah dan Ummi sebelum meninggal dulu. Jika dia punya anak perempuan lagi akan memberi nama Zahra. Wajah Zahra ini sangat mirip sekali dengan Asiah. Sambil menyusui dia melantunkan sholawat atas Nabi.


     Sementara itu, Rayyan menidurkan kedua anak kembarnya di kamar sebelah. Setelah itu dia pun ikut duduk di sofa bersama istrinya.


"Apa mereka sudah tertidur, A?" tanya Asiah.


"Sudah. Cara yang kamu ajarkan sangat jitu," jawab Rayyan lalu memberikan kecupan di pucuk kepala Asiah.


"Zahra sudah tidur," bisik Rayyan.


"Belum begitu terlelap, nanti dia akan bangun kembali jika di tidurkan di boks bayi," lirih Asiah.


"Terima kasih, ya, Sayang. Kamu sudah menjadi istri yang baik untuk aku. Menjadi ibu yang baik untuk anak-anak aku," ucap Rayyan yang sebelah tangannya merangkul Asiah dan sebelah tangannya membelai pipi putrinya.


"Justru aku yang ingin mengucapkan terima kasih kepada Aa yang selalu menjadi seorang imam yang baik bagi keluarga ini," balas Asiah dan mencium pipi Rayyan.


"Aku selalu merasa dari hari ke hari hidup aku selalu bertambah bahagia, dengan adanya dirimu dan anak-anak," tukas Rayyan sambil menatap wajah Asiah dengan penuh cinta.


"Ya, aku juga merasa begitu. Setiap hari mengurus suami dan anak-anak itu membuat aku merasa berharga dan merasa menjadi orang yang berarti bagi orang-orang yang aku cintai," balas Asiah dengan mata yang memancarkan cahaya rasa cinta dan sayang.


"Terima kasih sudah menjadikan aku wanita satu-satunya dalam hidup kamu, A." Asiah sampai tidak tahu apa kata yang pantas dia ucapkan untuk suaminya lagi. Betapa dia bahagia sudah terlahir ke dunia ini. Punya ayah, bunda, ibu sambung, suami, mertua, ipar-ipar yang segitu menyayangi dirinya.


"Tetap di sisiku selama hidupmu, Sayang," pinta Rayyan.


"Tentu saja. Semoga sampai ajak menjemput kita selalu bersama." Asiah menciumi tangan Rayyan.


***


"Aang, aku juga mau punya bayi lagi!" bisik Zulaikha kepada Yusuf.


"Sayang, kita sudah punya tiga orang cucu," balas Yusuf sambil mengusap pipi mulus istrinya.


"Masa aku kalah sama Asiah. Dia saja punya anak tiga. Ini karena Aang nggak jago bikin anak," gerutu Zulaikha sambil mengerucutkan bibirnya.


"Apa kamu bilang?" Yusuf menatap tajam kepada Zulaikha.

__ADS_1


***


Bagaimana reaksi anak-anak Zulaikha jika dia meminta hamil lagi? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2