Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 90. Pembalasan Rain Kepada Rania


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai dan kasih like dan komentar, ya. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan.


***


BAB 90


     Rain memajukan wajahnya mendekat ke arah Rania. Hal ini membuat jantung Rania berdetak dengan kencang. Jaraknya semakin dekat, Rania semakin gugup. Bayang-bayang saat dia berciuman dengan Rain, kembali terbayang dalam ingatannya. Rania pun memejamkan matanya karena terlalu gugup akan ciuman kembali dengan suaminya itu.


      Melihat Rania memejamkan matanya, membuat Rain menelan air liur karena kerongkongan terasa tercekat. Bibir ranum milik istrinya begitu menggoda. Namun, tiba-tiba terlintas sebuah ide di otak yang bisanya jenius itu.


       Rain menggesekkan hidungnya dengan hidung Rania. Setelah itu dia menjauh dan menaiki ranjang.


       Rania yang sudah mempersiapkan dirinya untuk menyambut ciuman dari suaminya, dia merasa kecewa setelah merasakan hidungnya beradu dengan hidung suaminya, tidak merasakan apa-apa lagi. Saat dia membuka matanya terlihat suaminya sedang duduk di atas tempat tidur.


      Malu dan kesal yang Rania saat ini rasakan. Wajahnya dia tekuk dan duduk di meja belajarnya. Kemudian, dia belajar dari pada harus berurusan dengan suaminya itu.


      Rain menahan senyumnya saat melihat Rania yang sedang cemberut begitu. Seandainya Rania juga ikut naik ke ranjangnya, sudah dipastikan Rain akan menciumnya benaran. Ada rasa menyesal juga yang dia rasakan. Kenapa tadi tidak menciumnya.


"Halo, assalamu'alaikum, Pak Baim," salam Rania sedang menelepon.


     Rain yang sedang memeriksa laporan email lewat handphone miliknya. Langsung mengalihkan pandangannya kepada Rania begitu menyebutkan nama guru magangnya.


"Saya baik-baik saja, Pak. Eh, Kak Baim. Maaf lupa," lanjut Rania dengan sudut mata melirik ke arah suaminya yang sedang melotot kepadanya.


"Terima kasih, Kak Baim. Donatnya enak sekali. Kalau boleh tahu itu beli di mana, ya? Aku suka sekali!" seru Rania dengan nada Riang.


"Wah, Kak Baim buat sendiri. Hebat! Pasti senang deh, jika punya pacar yang jago masak dan pintar membuat makanan," kata Rania sambil tersenyum malu-malu.


     Rain yang tidak tahan lagi mendengar obrolan Rania langsung turun dari ranjang. Saat hendak merebut handphone itu, Rania langsung memasukan ke dalam laci dan menutupnya.


"Ada apa, Kak Rain?" tanya Rania dengan wajahnya tanpa dosa.


"Kamu, berani-beraninya bertelepon dengan laki-laki lain di depan suami kamu," jawab Rain sambil mengungkung Rania yang sedang duduk dengan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri.


"Cuma telepon. Lagian aku nggak membicarakan yang aneh-aneh. Cuma mengucapkan terima kasih padanya," balas Rania sambil mendongakkan wajahnya karena posisi Rain berada di atasnya.


"Tapi kamu memujinya tadi. Dan aku tidak suka," desis Rain menatap Rania.

__ADS_1


     Gadis itu membalikan badannya dan balik menatap ke arah suaminya. Senyum cantik dan tatapan genit yang dia sering lihat di drakor saat adegan tokoh utama wanita menggoda kekasihnya dengan malu-malu, dia praktekkan sekarang.


"Jangan marah, Kakang Mas aku yang ganteng. Bagi aku kamu masih nomor satu," kata Rania sambil mengusap rahang Rain.


      Mendengar ucapan Rania barusan terasa ada ribuan bahkan jutaan kupu-kupu yang beterbangan di dalam perutnya. Jantungnya pun berpacu dengan kencang. Senyum tampannya pun langsung tercipta.


"Tapi, i-tu  bo'ong!" Rania langsung berlari keluar kamarnya.


      Rain merasa dilambungkan ke atas angkasa, lalu dalam sekejap dibanting ke dasar jurang. Dia pun berlari mengejar istrinya, ingin memberinya hukuman. 


"Bunda!" teriak Rania sambil masuk ke kamar kedua orang tuanya.


"Awas, ya kamu, Nia. Aku tidak akan segan-segan memberi kamu hukuman nanti," geram Rain dan kembali ke kamar istrinya.


***


     Fatih yang sedang bermesraan dengan Mentari dikejutkan dengan teriakan putri mereka. Apalagi dia langsung main selonong masuk ke kamar. Biasanya baru masuk setelah diberikan izin.


"Sayang, ada apa?" tanya Mentari terkejut.


"Hehe, ingin tidur bersama Ayah dan Bunda. Sudah lama tidak tidur bersama," jawab Rania dengan senyum malu-malu.


"Biarkan Kak Rain tidur sendiri saja. Nia kan kangen sama Ayah dan Bunda," jawab Rania sambil menaiki kasur orang tuanya dan tidur ditengah-tengah mereka.


      Fatih menatap istrinya dan tatapan matanya seakan berkata, 'Sayang, malam ini hujan, dingin loh.'


'Sulit kalau mengusir Nia. Sabar, ya,' kata Mentari lewat tatapan matanya.


'Enggak bisa peluk kamu dong, Sayang.' Dengan tatapan memelas.


'Sabar, ya Mas.' Mentari tersenyum geli.


"Nia, pasti kamu sudah membuat Rain kesal, ya?" tanya Fatih yang tahu tabiat putrinya jika dia merasa bersalah dan meminta perlindungan padanya.


"Nggak. Nia cuma bilang terima kasih saja pada guru magang. Kak Rain marah, eh tidak suka," jawab Rania.


"Sayang, kamu itu harus bisa menjaga perasaan pasangan kamu jika sudah menikah. Harusnya kamu bisa membuat perasaan pasangan kamu senang. Bukan membuat perasaannya buruk atau jelek. Ayah juga akan marah jika mendengar Bunda berbicara lama dengan laki-laki lain. Apalagi kalau sampai memujinya. Pasti akan Ayah hukum Bunda kalau sampai itu terjadi," jelas Fatih.

__ADS_1


    Rania semakin takut untuk bertemu dengan Rain. Dia merasa kalau suaminya juga pastinya akan memberikan dia hukuman. Rania pun malah memeluk erat tubuh Mentari.


'Lihat!' Mentari memberi isyarat kepada suaminya.


     Fatih menepuk keningnya. Sepertinya dia salah memberikan pengertian kepada putrinya. Dia harus meratapi nasibnya malam ini dengan tidur bertiga. Tidak bisa sayang-sayangan dengan istrinya di malam yang dingin ini.


***


     Malam itu hujan turun dengan lebat. Membuat orang-orang memilih bergumul dibalik selimut tebal. Apalagi sambil memeluk orang yang disayangi. Rayyan juga melakukan hal yang sama. Dia mendatangi kamar istrinya, dan seperti biasa, dia akan tidur di sana sambil memeluk tubuh Asiah. 


"Ya Allah, jangan bangunkan Asiah sampai aku keluar dari kamar ini," kata Rayyan berdoa.


     Suhu yang dingin membuat Asiah mencari kehangatan. Dia memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Rayyan. 


"Ya Allah, jadikan istriku ini sebaik-baiknya seorang muslimah." Doa Rayyan lagi, lalu mencium pucuk kepalanya.


"Semoga kamu mimpi indah, Sayang." Rayyan mengusap kepala Asiah dengan perasaan sayang dan mengeratkan pelukannya.


"Aku mencintaimu," bisik Rayyan.


***


      Bunyi alarm membuat tidur Rania terganggu. Dia yang baru separuh rohnya terkumpul merasa sedang memeluk sesuatu yang hangat dan wangi. Rania mengendus-enduskan hidungnya. 


'Ini, apa ya? Wangi dan lembut juga hangat,' kata Rania dalam hatinya.


'Ini juga apa? Kok, guling jadi terasa enak dipeluk, ya. Aku minta ah, sama Bunda. Gulingnya buat aku, enak banget memeluknya.' Rania menelusupkan wajahnya dan mengeratkan pelukan tangan dan kakinya.


'Eh, kok seperti ada yang memeluk aku balik,' batin Rania masih bergumam.


      Perlahan matanya dia buka, betapa terkejutnya dia saat menyadari dirinya kini sedang memeluk tubuh Rain. Mata dia sampai terbelalak.


"Assalamu'alaikum, Nia," safa Rain dengan suaranya yang serak khas bangun tidur terdengar seksi ditelinga Rania.


"Kyaaaak!" Bukannya membalas salam dari suaminya. Rania malah berteriak.


***

__ADS_1


Bagaimana sampai Rania bisa berada di kamar dan tidur dengan Rain? Apakah Asiah akan tahu kalau Rayyan itu tidur bersamanya? Tunggu kelanjutannya ya!


__ADS_2