
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Terus kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan.
***
BAB 96
Rayyan pun pulang ke rumah orang tuanya setelah shalat Maghrib. Sebelumnya dia juga mendapat telepon dari ayahnya, menanyakan kabar dia saat ini.
Setiba Rayyan di rumah keluarga Fatih, dia melihat kedua mertuanya pun sudah berada di sana. Namun, Asiah tidak ada ada di sana.
"Assalamu'alaikum," salam Rayyan dan mencium tangan kedua orang tua dan mertuanya.
"Wa'alaikumsalam," balas mereka semua.
Mentari memeluk erat tubuh putranya. Dia kembali terisak karena ikut merasakan kesedihan yang tengah di rasakan oleh putra keduanya itu.
"Raya, sudah tidak apa-apa, kok, Bun." Rayyan mengusap punggung ibunya.
"Kamu itu selalu membuat Bunda terus kepikiran," ujar Mentari.
"Maafkan Raya, Bun. Masih belum dewasa, ya?" Rayyan memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi pada ibunya.
"Sampai kapan pun, kamu putra kesayangan Bunda yang suka jahil dan bikin was-was," ucap Mentari sambil mengusap rambut Rayyan.
Rayyan hanya bisa tersenyum dan menatap sendu pada Mentari. Terlihat jelas mata dari wanita yang sudah melahirkannya itu agak bengkak dan memerah. Pastinya, beliau sudah menangis dalam waktu yang lama.
"Aa!" teriak Asiah begitu melangkah keluar dari lift.
Perempuan itu berlari dan langsung menubrukan badannya pada Rayyan. Kedua tangannya memeluk tubuh Rayyan dengan erat.
"Aa, aku kangen!" Asiah terisak di dada Rayyan.
Asiah menangis tergugu, dan Rayyan membiarkan Asiah menangis sesuka hatinya. Sebenarnya, Asiah ingin mencium suaminya juga. Hanya saja Rayyan tidak menundukkan kepalanya, dia kesusahan.
"Aa, a-ku minta maaf. A-ku mengaku sa-lah," ucap Asiah terisak-isak.
"Aku juga minta maaf," balas Rayyan dengan nada datar.
"Tidak! Tidak! Aa, tidak salah. Apa yang Aa lakukan itu demi kebaikan aku. Aku yang bodoh. Seharusnya aku tidak boleh melakukan hal itu. Aku kapok! Nggak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku," sanggah Asiah sambil menengadahkan kepalanya menatap Rayyan yang tidak menatapnya sama sekali.
Hati Asiah terasa sangat sakit, saat suaminya enggan menatapnya. Dia tahu kalau Rayyan sedang marah padanya saat ini.
"Aa~, maafkan aku," lirih Asiah sambil melepaskan pelukannya. Dia baru sadar kalau Rayyan tidak membalas pelukannya.
__ADS_1
"Aa boleh memarahi aku. Mau memukul aku juga tidak apa-apa. Aku salah, aku—"
"Berhentilah bicara Asiah. Aku tidak akan memarahi kamu. Memukul kamu? Apa aku pernah melakukan itu?" Terdengar nada Rayyan tidak suka.
"Tidak. Aa tidak pernah melakukan hal itu. Tapi aku izinkan jika Ada untuk melakukan hal itu," jawab Asiah.
Kedua orang tua mereka terdiam melihat Rayyan dan Asiah. Terlihat jelas kalau Asiah sangat menyesali perbuatannya. Sementara itu, Rayyan terlihat dingin seperti tidak peduli padanya.
"Kalian berdua duduklah!" titah Fatih.
Rayyan dan Asiah duduk bersisian di depan Yusuf dan Zulaikha. Asiah menundukkan kepala dan memainkan ujung jilbabnya.
"Kita bicarakan masalah kalian. Siapa yang akan bicara duluan?" tanya Fatih menatap pasangan muda itu.
Asiah angkat tangan. Dia ingin memulai terlebih dahulu karena merasa dialah sumber masalahnya.
"Bicaralah Asiah," ucap Fatih kepada menantunya.
"Asiah sudah pergi seenaknya tanpa izin dari suami. Padahal, Aa sudah melarang untuk pergi ke villa. Asiah menyesal, Asiah tidak akan pernah mengulanginya lagi. Asiah akan menurut sama ucapan As," kata Asiah.
"Raya," panggil Mentari.
"Sebelumnya Raya minta maaf kepada Ayah Yusuf dan Mama Zulaikha. Tidak bisa menjadi imam yang baik bagi Asiah. Bahkan tidak bisa membahagiakan dirinya. Raya akui punya sifat buruk dan itu membuat Asiah merasa tidak senang. Raya selalu bilang mencintai Asiah, tetapi tidak bisa membahagiakan dirinya. Raya sering bilang menyayangi Asiaj, tetapi tidak bisa memberikan kenyamanan kepadanya. Raya sering bilang Asiah satu-satunya perempuan yang spesial, tetapi sering membuatnya menangis. Raya jadi berpikir, kalau Raya tidak pantas untuk Asiah. Raya ingin Asiah Bahagia. Raya ingin melihat Asiah selalu tersenyum. Tapi, nyatanya tidak ada satu pun yang bisa Raya lakukan dari itu semua," jelas Rayyan dengan suaranya bergetar.
"A—" Asih baru saja membuka mulutnya.
"Aa, salah! Aku bahagia jika bersama Aa. Aku juga selalu ingin terus bersama Aa. Tidak ada yang bisa membuat aku bahagia jika tidak bersama Aa. Sampai mati aku ingin terus bersama Aa."
"Asiah, apa kamu masih mencintai Raya?" tanya Yusuf.
"Tentu saja, Ayah. Cinta Asiah cuma untuk Raya tidak ada yang lain," jawab Asiah.
"Apa kamu masih ingin terus bersama Raya?" tanya Yusuf lagi.
"Tentu saja. Asiah ingin terus bersama Raya sampai maut memisahkan kita berdua," jawab Asiah.
"Apa kamu akan jadi istri yang penurut pada suami?" Yusuf menekan beberapa kata.
"Iya. Asiah mulai sekarang akan menuruti kata-kata suami. Asiah sadar itu juga demi kebaikan Asiah sendiri.
"Apa kamu merasa bahagia jika bersama Raya?" tanya Yusuf sambil menatap intens setiap gerakan yang Asiah lakukan. Bahkan gerakan bola matanya juga tidak luput dari penglihatannya.
"Tentu saja, Ayah. Asiah selalu bahagia jika bersama dengan Raya!" jawab Asiah dengan gereget kenapa ayahnya menanyakan sesuatu yang sudah jelas dan tidak perlu ditanyakan lagi.
__ADS_1
"Apa kamu merasa nyaman saat bersama dengan Raya? Dia kan anak keras kepala, suka mengatur dan tidak mau dibantah," ucap Yusuf dan itu membuat Asiah mengerucutkan bibirnya.
"Ayah ini bagaimana? Bukannya dulu sering bilang kalau kita itu harus bisa menerima segala kekurangan pasangan kita. Jika itu merupakan kekurangan Raya, ya Asiah terima saja. Bukannya Ayah juga bilang, kalau tidak keras kepala bukan Raya namanya. Karena kekeraskepalannya Raya, dia bisa menyelesaikan pendidikan dengan cepat dan punya perusahaan sendiri," jujur Asiah.
"Jadi?" tanya Fatih menengahi Ayah dan putrinya yang bisa saja membuat perdebatan semakin panjang.
"Ayah, Asiah ingin selalu bersama Raya. Jangan pisahkan kami. Jika Raya pergi ke luar negeri, maka Asiah harus diajak juga. Pokoknya Asiah tidak mau jauh dari Raya," jawab Asiah memohon pada ayah mertuanya.
Perasaan Rayyan sangat senang mendengar setiap perkataan Asiah. Tadi sore, Rayyan menghubungi ayah mertuanya dan membicarakan masalah dirinya dengan Asiah. Lalu, mereka pun membuat rencana yang seolah-olah Raya menyuruh pergi Asiah. Tentu saja Fatih juga tahu hal ini, meski belakangan. Mereka bertiga membuat rencana agar Asiah sadar akan kesalahannya dan jujur dengan perasaannya.
"Tapi, sepertinya Raya sudah nggak akan pergi ke luar negeri lagi. Karena ada tugas besar yang harus dia lakukan," ucap Fatih.
"Apa i-tu?" tanya Asiah dengan lirih. Kenapa suaminya selalu sering dibuat sibuk.
"Aku dan Yusuf sudah ingin punya cucu," jawab Fatih dengan senyum lebarnya.
Muka Asiah langsung memerah. Betapa malunya dia saat mendengar permintaan mertuanya itu.
"Asiah siap!" balas Asiah lalu melirik ke arah suaminya. Terlihat Rayyan memamerkan tersenyum tampan miliknya.
"Aa juga sudah siap untuk jadi Ayah?" tanya Asiah pada Rayyan.
"Tentu saja," bisik Rayyan.
"Aa, sudah memaafkan aku?" tanya Asiah.
"Memangnya aku bisa lama-lama marah sama kamu," jawab Rayyan.
"Aaaahk, aku semakin cinta sama Aa!" Asiah memeluk erat dan mencium bibir suaminya.
"Malu sama mereka," ucap Rayyan pelan.
"Mereka juga suka berciuman di depan aku seenaknya," balas Asiah menggerutu.
"Sudah, sana pindah ke kamar!" titah Mentari.
Rayyan dan Asiah pun tersenyum tersipu malu. Keduanya pun beranjak dari sana.
"Sebentar lagi masuk waktu sholat Isya! Sholat dulu biar tidak terburu-buru!" teriak Zulaikha dan membuat Yusuf menutup wajahnya dengan sebelah tangannya.
"Buat cucu yang banyak, ya! Kembar tiga juga nggak apa-apa. Nanti Bunda bantu mengurusnya." Kali ini Mentari yang bicara.
"Oke, Bunda!" balas Rayyan sebelum pintu lift tertutup.
__ADS_1
***
Orang tua mereka request minta cucu, tuh! Minta yang banyak lagi. Apa Asiah sanggup? Tunggu kelanjutannya ya!