
*Teman-teman baca sampai tuntas, ya. Setelah itu baru kasih like dan komentar. Aku doakan buat teman-teman juga diberikan kemudahan dalam segala urusan.
**
Bab 79**.
Acara ulang tahun Sulaiman berjalan dengan lancar. Seharusnya acara digelar malam hari karena ada terlalu banyak orang dan pastinya mereka selalu berbuat kehebohan.
Mereka bernyanyi bersama dan memainkan game. Awalnya Asiah merasa senang berada di sana bersama teman-temannya. Namun, hatinya mulai gundah karena Rayyan tidak membaca pesannya apalagi membalas pesan itu.
Asiah melihat handphone miliknya untuk mengecek apa ada pesan masuk dari suaminya. Tidak terasa air matanya menetes, dia merasa sedih karena merasa kehilangan belahan jiwanya. Dia pun keluar dari villa itu untuk menenangkan hatinya.
"Asiah," panggil Hana sambil tersenyum dan ikut duduk di kursi bersama Asiah.
"Kenapa keluar?" tanya Hana.
"Sedang ingin menyendiri saja," jawab Asiah.
"Kamu habis menangis? Kenapa? Apa ada yang jahat sama kamu? Bilang sama aku kalau ada yang berani berbuat jahat kepada kamu?" berondong Hana sambil membalikan tubuh Asiah agar berhadapan dengannya.
"Tidak. Aku hanya sedang merasa rindu kepada seseorang saja," jawab Asiah sambil tersenyum tipis.
"Siapa? Kekasih kamu?" tanya Hana penasaran.
"Iya, belum juga satu hari tidak bertemu dengan dia, aku sudah sangat rindu," jawab Asiah sambil menundukkan kepala. Rasa rindu yang terasa menekan dalam dirinya membuat dia ingin menangis lagi. Dia rindu mendengar suara suaminya. Pelukannya dan cumbuan dari sang pujaan hati.
"Telepon saja dia," suruh Hana.
"Nomornya tidak aktif. Aku hubungi lewat telepon rumah juga tidak ada yang mengangkat.
"Apa dia sedang berada di suatu tempat yang kesulitan untuk mendapatkan sinyal?" tanya Hana lagi.
Asiah terdiam. Dia tahu tidak mungkin handphone Rayyan tidak ada sinyal. Mau di dalam hutan belantara, gunung, atau di tengah lautan pun, sinyal pasti ada karena mereka bisa menggunakan satelit milik keluarga Andersson yang canggih. Asiah merasa kalau Rayyan sedang sangat marah kepadanya sampai-sampai mengabaikan dirinya.
__ADS_1
Kata-kata Rayyan yang tidak akan peduli lagi padanya terus terngiang di telinga Asiah. Air mata Asiah kembali jatuh dan dia pun tergugu sambil memegang dadanya yang terasa sakit.
"Asiah, jangan menangis," kata Hana dengan pelan sambil memeluk tubuh Asiah.
"Aku rindu padanya. Aku ingin pulang!" kata Asiah di sela tangisnya.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke kebun strawberry yang ada di lereng bukit ini. Tadi terlihat banyak sekali buahnya di sana," ajak Hana mencoba menghibur Asiah.
Kedua perempuan itu pun menuruni bukit. Untungnya jalanan di sana sudah bagus. Banyak perkebunan sayur dan buah-buahan di sana. Perhatian Asiah kini mulai beralih pada tumbuhan yang ada di sana. Dia juga merasa sangat senang bisa berada di kebun strawberry itu. Dia bisa memakan langsung buah yang langsung dipetik dari pohonnya. Bisa juga memesan minuman berupa jus atau olahan lainnya dari strawberry.
Saat Asiah memakan es krim strawberry, dirinya teringat kembali kepada Rayyan. Saat pertama kali mereka bertemu. Pertama kalinya dia memakan es krim strawberry pemberian dari Rayyan. Makan es krim bersama-sama dalam satu wadah dan saling menyuapi. Bayang-bayang dirinya saat bersama suaminya itu berputar dalam kepalanya seperti sebuah potongan video. Lagi-lagi Asiah tergugu karena merindukan saat-saat seperti dulu lagi. Saat di mana dia seiya sekata dengan pemilik hatinya.
"Aku ingin pulang," gumam Asiah sambil menangkupkan kepalanya di atas kedua tangan yang dilipat di atas meja. Suara tangisan yang tertahan pun bisa didengar oleh Hana.
"Kalau begitu kita balik dulu ke villa dan menanyakan bagaimana cara kita bisa pulang duluan kepada teman-teman yang lainnya. Tadi kita datang ke sini pakai mobil rame-rame. Pastinya harus bareng juga kalau mau pulang. Apalagi kita rencana di sini mau sampai besok sore. Ini baru tengah hari," kata Hana yang merasa kasihan kepada Asiah.
"Aku akan pesan kendaraan saja," ucap Asiah.
"Pastinya akan mahal karena sulit kendaraan umum di sini," balas Hana lagi.
***
Sementara itu, di rumah Kiai Samsul tempat Rain berkumpul bersama dengan saudara-saudaranya, terlibat dalam pembicaraan penting. Rain meminta maaf berulang kali kepada keluarga Kiai Samsul atas tidak jadi dirinya mengkhitbah anak perempuan mereka.
"Apa Kak Amira mau memaafkan aku yang sudah menyakiti hatimu?" tanya Rain yang memfokuskan perhatiannya kepada gadis bercadar itu.
"Aku tidak mau memaafkan dirimu, jika tidak mempersunting aku," lirih Amira pelan sehingga orang-orang tidak bisa mendengar ucapannya. Namun, perkataan itu bisa di dengar oleh Rain yang memiliki pendengaran yang sangat tajam.
"Maafkan aku tidak bisa melakukan hal itu. Aku tidak mau menyakiti banyak hati kedepannya," balas Rain dan membuat orang-orang di sana mengerutkan kening.
"Aku akan selalu bersabar menantikan dirimu," gumam Amira yang pasti tidak bisa didengar oleh telinga yang lainnya.
"Carilah laki-laki soleh yang mampu menjadi imam bagi dirimu. Aku yakin kamu akan mendapatkan laki-laki baik karena kamu adalah seorang perempuan baik-baik juga," kata Rain dengan lembut.
__ADS_1
Semua orang terdiam seakan mendengar Rain yang sedang bermonolog. Padahal dia sedang berbicara dengan Amira. Gadis bersuara lembut dibalik cadarnya.
"Aku hanya ingin menjadi pendamping dirimu yang selalu setia berada di sisimu, baik saat kamu senang, sedih, sehat, ataupun sakit," gumam Amira dengan tatapan mata sendu.
"Aku hanya memerlukan satu orang pendamping dalam hidupku. Dan aku sudah memilihnya," balas Rain dengan tatapan nanar.
"Aku sangat mencintaimu, Rain," gumam Amira lebih rendah lagi suaranya.
"Meski merasakan hal yang sama, aku tidak bisa membalas hal itu. Maaf," ucap Rain.
"Kenapa?" tanya Amira.
"Karena ada seseorang yang ingin jaga hati dan perasaannya," balas Rain dengan bergumam.
Alin, Kiai Samsul, dan Ummu Habibah yang tidak tahu akan kelebihan Rain yang bisa mendengar dengan tajam merasa aneh dengan Rain saat ini. Seakan Rain sedang meracau sendirian dengan tidak jelas apa yang sedang dia katakan. Hanya terdengar menggumam saja.
"Kak Ian, Kak Rain itu sedang bicara dengan Kak Amira atau sedang bicara sendiri?" tanya Alin dengan berbisik.
"Dia sedang berbicara dengan Kak Amira," balas Raihan berbisik di dekat telinga Alin.
"Tapi Kak Amira diam saja sejak tadi?" tanya Alin tidak mengerti.
"Dia itu berbicara, tetapi terhalang cadar jadi tidak kelihatan gerak bibirnya," jelas Raihan.
"Suaranya saja nggak kedengaran," gumam Alin dan Raihan langsung membekap mulut istrinya karena gemas.
Adalagi seseorang yang bisa mendengarkan perkataan yang dibicarakan oleh Amira tadi kepada Rain. Rania, dia bisa mendengar suara rendah jika fokus dan memusatkan pendengarnya. Dia akan memejamkan matanya agar pendengarnya bisa lebih fokus. Dia menyesal melakuakan itu karena rasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh perempuan berparas cantik dibalik cadarnya itu kepada suaminya.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu bicarakan Rain?" tanya Kiai Samsul penasaran.
"Saya sedang berbicara kepada Kak Amira dan meminta maaf kepadanya," jawab Rain.
***
__ADS_1
Rayyan sedang apa ya? Asiah mulai merasa tersiksa karena nggak ada perhatian dari suaminya 🤭. Apa Rain tahu kalau Rania juga bisa mendengarkan isi pembicaraan dia dengan Amira? Bagaimana hubungan ke depan untuk keduanya? Tunggu kelanjutannya ya! 🤗.