Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Masuk ke Sarang Musuh


__ADS_3

     Mobil berwarna merah melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke sebuah vila di kawasan pantai Santa Monica. Bintang sudah menghubungi pihak kepolisian di Long Angeles, bahwa dia dan saudara kembarnya mau menangkap pelaku penculikan. Dia melakukan itu agar tidak ribet nanti saat dilakukan investigasi oleh pihak berwenang. Makanya mereka tidak menggunakan pistol peluru timah. Melainkan peluru bola karet yang bisa mengeluarkan duri jarum yang berisi obat bius. 


"Bintang! Awas ya, kamu! Nanti aku laporkan sama Mama Cantika—"


"Michael tambah kecepatan!" titah Bintang kesal. Dia sedang rapat menyusun strategi penyerangan. Zulaikha malah berisik.


"Jangan, Michael! Aku akan diam!" Zulaikha semakin memeluk erat tubuh Yusuf.


"Jangan modus deh! Kamu itu hanya ingin berpelukan dengan Om Yusuf 'kan. Alasan saja kecepatan mobil jadi masalah," gerutu Bintang.


'Ih, Bintang tidak tahu apa? Kalau memeluk tubuh orang yang disukai itu sangat nyaman dan membuat perasaan tenang dan senang. Aku jadi tidak terlalu takut,' kata hati Zulaikha, menggerutu.


"Aku tahu apa yang ada di dalam otak kamu Zul. Kamu itu ambil kesempatan dalam kesempitan. Makanya sudah diam saja kalau tidak mau aku laporkan balik pada Asiah nanti." Bintang bicara lewat kaca spion tengah.


     Yusuf pun tahu sebenarnya kalau kekasihnya itu mengambil kesempatan dalam suatu kejadian. Namun, dia membiarkan keinginan kekasihnya itu. Sebab, dia juga merasa nyaman memeluk tubuh yang tadi sempat ketakutan itu.


***


     Perjalanan selama satu jam lebih dengan kecepatan 250km/jam (ngebut kecepatan the flash anggapnya) yang melewati hutan coniferous, savana, dan pegunungan. Saat mereka memasuki wilayah musuh. Mobil pun berhenti karena mobil yang dinaiki Angkasa dan Yunus belum sampai. 


"Langit, kamu di mana?" tanya Bintang menghubungi saudara kembarnya lewat earphone.


[Aku dan Akira sudah berhasil masuk ke markas musuh. Ternyata mereka orang-orang licik. Mengumpankan anak buah yang dianggap tidak berguna. Aku sudah berada di lantai dua bersama Akira.]


"Lantai satu sudah kamu sapu bersih?"


[Sudah. Hanya saja ruang bawah tanah, aku belum periksa.]


"Baiklah. Aku akan tunggu Kak Angkasa datang dahulu."


***


     Langit dan Akira menelusuri vila itu. Bukan tidak ada orang di sana hanya saja mereka kebanyakan anak buah yang hanya dijadikan umpan. Setelah di ancam akan di hukuman mati, mereka baru mereka bilang yang sebenarnya.


"Kalian tidak bohong kan?" tanya Langit saat seorang laki-laki dibawah ancaman oleh Akira.


"Benar kami tidak bohong. Mereka sudah berangkat dengan terburu-buru. Sampai meninggalkan barang-barang penting untuk transaksi besok," jawabnya lagi dengan wajah pucat dan mata ketakutan.


"Kalau kalian tidak percaya, periksalah beberapa ruangan di vila ini," kata orang yang berada dalam pengawasan Langit.

__ADS_1


"Baiklah. Hanya saja kalian juga tidak akan aku lepaskan," ucap Langit lalu mengikat tangan dan kaki mereka semua.


     Langit membuka setiap ruangan yang tersisa. Saat itu dia melihat banyak sekali senjata dan obat-obatan terlarang di dalam koper. Langit langsung menghubungkan kamera dan mengirim siaran langsung kepada pihak kepolisian dan kejaksaan.


"Mister Jack, cepatlah datang ke sini! Disini banyak sekali barang-barang kesukaan kamu. Ini akan menjadi barang bukti yang tidak akan bisa dibantah lagi oleh mereka." Langit berbicara lewat ponsel dengan kepala polisi wilayah Los Angeles.


[Aku sudah mempersiapkan diri sejak tadi. Kita butuh waktu untuk sampai ke sana!]


"Cepatlah! Aku tidak mau menunggu," balas Langit.


     Selain itu ditemukan hal mengejutkan lainnya. Ternyata Oliver juga sudah bergabung ke dalam kelompok mafia. Di suatu ruangan yang seperti ruang kerja terdapat dokumen transaksi yang di sembunyikan di dalam brankas. Banyak sekali perjanjian dagang atas nama kelompok mafia Angel Group.


***


     Mobil Angkasa baru saja sampai. Ternyata ada satu mobil lagi yang sampai di sana hampir bersamaan dengan mereka. Ternyata itu adalah mobil milik Clive. Dia langsung mengejar mobil Zulaikha ketika mendapat kabar kalau musuh sedang membuntuti mobil putrinya.


"Zulaikha!" teriak Clive senang saat melihat putrinya.


"Papi!" Zulaikha pun turun dari mobil dan memeluk tubuh Clive.


"Bintang, ayo kita periksa ruang bawah tanah!" Ajak Angkasa.


"Aku mau ikut Papi saja!" 


"Terserah kamu sajalah!" Bintang pun pergi menyusul Angkasa dan Peter.


***


"Ayo, Zulaikha kita pergi dari sini!" ajak Clive.


"Zulaikha, apa kita akan meninggalkan mereka?" tanya Yusuf turun dari mobil dan mendekati Zulaikha.


"Biarkan saja mereka. Om, nggak usah khawatirkan mereka," jawab si anak perawan itu.


     Yusuf pun ikut Zulaikha menaiki mobil Clive. Ketiga orang itu sudah masuk ke dalam mobil.


"Hei, tunggu! Kenapa kalian tidak menuruti kata-kata Bintang?" tanya Yunus.


"Biarkan saja urusan di sini mereka yang urus. Kita sebaiknya pulang. Kalian orang asing di negara ini. Jangan sampai polisi menangkap kalian karena sudah terlibat dalam kejadian ini," ujar Clive.

__ADS_1


"Benar Yunus, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita nanti. Di sini terlalu bahaya," kata Yusuf.


     Meski dengan enggan, Yunus pun ikut mereka masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping pengemudi. Mobil pun meninggalkan vila itu dengan kecepatan penuh. 


Duar! Duar! Duar!


Duar! Duar! Duar!


     Kedua mobil milik Bintang dan Angkasa meledak dengan ledakan yang sangat dahsyat. Api besar dan asap gelap mebumbung tinggi.


"Apa itu?" tanya Zulaikha membalikan badannya. Betapa terkejutnya dia saat melihat mobil yang tadi dia tumpangi meledak. Tubuh Zulaikha langsung bergetar hebat.


"Om," bisik Zulaikha sambil menundukkan kepala tangan menutup telinga karena ledakan itu terus terdengar dari lokasi tadi.


"Jangan takut Zulaikha. Ada aku di sini," kata Yusuf sambil merangkul gadis nakalnya.


***


     Ledakan yang sangat besar sampai membuat kaca bagian depan di vila hampir pecah semua. Semua orang sangat terkejut mendengar itu.


"Ledakan apa itu?" tanya Bintang.


[Mobil milik kalian berdua meledak!]


"Apa?" Bintang dan Angkasa yang sudah berada di ruang bawah tanah terkejut. Mobil kesayangan mereka sudah hancur.


[Lalu, bagaimana dengan Zulaikha dan yang lainnya?"]


"Dia tadi bilang mau ikut dengan Papinya," jawab Bintang.


[Apa maksud kamu, Kak Bintang! Uncle Clive sedang membantu polisi mengurus kasus penguntitan tadi. Dia masih berada di villanya bersama Aunty Maharani.]


"Apa?" Bintang dan Angkasa sangat terkejut dan saling menatap.


"Lalu yang bersama Zulaikha tadi itu siapa?" Bintang mendadak merasa tubuhnya lemas dan wajahnya pucat.


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2