Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
BAB 42. Kapan Kita Berciuman?


__ADS_3

    Senyum manis terus tercipta dari bibir Raihan. Akhirnya, status Alin kini benar-benar sudah bebas. Sebaliknya Miranda dan Soraya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Raihan bahkan meminta pengacaranya untuk melaporkan dengan pasal berlapis. Itu agar kedua wanita itu jera.


     Beban ditubuhnya pun terasa ringan sekarang. Langkah kakinya juga terayun dengan lebar dan saking ringannya, terasa melayang. Raihan dan Rayyan berjalan beriringan menuju parkiran.


"Senang banget," kata Rayyan menggoda kembarannya.


"Iya lah. Kamu nggak tahu betapa tidak tenangnya hati dan pikiranku beberapa waktu lalu. Bayangan Alin di penjara dengan tangan di borgol, itu membuat aku stress," ujar Raihan.


"Sepertinya kamu sudah suka sama Alin," ucap Rayyan dengan senyum jahilnya.


"Kayaknya belum. Aku biasa saja sama dia. Nggak ada deg-degan seer. Mungkin aku melihat dia masih sebatas seorang adik," jelas Raihan.


"Hati-hati, loh! Nanti kamu yang bucin duluan," seru Rayyan sambil tertawa.


"Enggak lah, pastinya dia duluan yang suka sama aku," bantah Raihan.


"Eh, Rain ke mana?" tanya Rayyan saat mereka sudah sampai di tempat parkir mobil.


"Aku kira tadi dia mengikuti kita dari belakang," jawab Raihan sambil menengok ke arah belakang.


***


Beberapa saat sebelumnya ….


     Rain berjalan di belakang si Kembar sambil membalas chat dari Rania yang menanyakan bisa menjemputnya atau tidak.


Tunggu aku ke sana sekarang


"Rain?" tanya seseorang. 


    Rain pun menolehkan kepalanya. Dilihatnya ada 2 orang wanita berjilbab dan salah satunya bercadar. Rain bisa mengenalinya kalau yang bersama Aminah itu adalah Amira.


"Assalamu'alaikum, Rain," salam Amira sambil menangkup tangan di dadanya. Diikuti juga oleh Aminah.


"Wa'alaikumsalam, Amira … Aminah." Rain juga menangkup tangannya di dada.


"Ternyata tebakan Teh Amira benar. Beda, ya, kalau sama orang yang kita sukai, jarak sangat jauh pun pasti bisa mengenali," kata Aminah dengan senyum menggoda pada Amira yang menundukkan kepalanya.

__ADS_1


    Amira merasa sangat malu karena candaan Aminah. Jadinya, dia mencubit lengan saudaranya itu.


"Awww, sakit Teh! Bilang juga nggak apa-apa, iya kan Rain?" Aminah meminta dukungan dari pemuda yang ada di depannya itu.


***


    Raihan mengendarai motor sedangkan Rayyan menggunakan mobil. Keduanya sama-sama akan menjemput istri mereka di rumah orang tuanya.


"Assalamu'alaikum," salam Raihan dan Rayyan bersamaan masuk ke dalam rumahnya. 


    Ketiga gadis dan mantan gadis itu melihat ke arah pintu. Asiah menyambut kedatangan Rayyan dengan mencium tangannya sedangkan Rayyan mencium kening Asiah. Selanjutnya yang sering membuat Alin dan Rania penasaran dengan rasanya.


     Bibir Asiah dan Rayyan saling menyatu dan melu_mat. Sekarang mereka nggak sembunyi-sembunyi lagi saat berciuman.


     Alin hanya mencium tangan Raihan. Tidak ada acara cium kening apalagi cium bibir.


"Kak," panggil Alin.


"Apa?" tanya Raihan.


"Kenapa dengan mereka?" tanya Raihan sambil mengerutkan keningnya.


"Kita kapan akan berciuman begitu?" tanya Alin dengan wajah polosnya.


"Nanti kalau tubuh kamu jauh lebih tinggi," jawab Raihan sambil menyentil kening Alin.


"Awww, sakit." Alin menggosok keningnya.


"Kita pulang. Pamit dulu sama Ayah dan Bunda," ajak Raihan sambil menuntun tangan Alin.


    Rayyan dan Asiah juga mengikuti mereka mencari Fatih dan Mentari. Sementara itu, Rania berdiri di depan pintu sambil melihat ke arah gerbang. Dia berharap kalau suaminya itu bisa cepat datang.


***


"Nia, mau pulang bareng kita nggak?" ajak Rayyan.


"Nia, sedang menunggu Kak Rain. Kayaknya dia masih di jalan," tolak Rania.

__ADS_1


"Ya, sudah. Kakak pulang duluan, ya!" Rayyan memeluk dan mencium pucuk kepala adiknya.


     Setelah kepergian Semua orang, Rania mondar-mandir di teras rumah dan sesekali melihat handphone miliknya. Pesan yang dia kirimkan pada suaminya masih belum dibaca. Ditelepon pun tidak diangkat. Hal ini membuat Rania cemas.


"Sayang, kenapa masih di sini?" tanya Mentari saat Rania masuk ke rumah mau sholat Magrib.


"Sepertinya Kak Rain mendadak lembur, Bun," jawab Rania sambil menundukkan kepala takut ketahuan bohong sama ibunya.


"Yuk, shalat berjamaah sama bunda!" ajak Mentari.


***


    Rain melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tadi dia mengantarkan Amira dan Aminah ke 2 tempat panti asuhan untuk menyalurkan bantuan. Mereka sebenarnya tadi bersama-sama dengan tim relawan lainnya. Namun, karena barang yang di bawa sangat banyak jadinya Amira dan Aminah berinisiatif akan naik taksi online. Rain yang merasa khawatir akhirnya mengantarkan mereka terlebih dahulu.


     Ternyata sesampainya di sana ada masalah banyak anak yang keracunan masal setelah makan nasi kotak yang dibagikan oleh panitia. Rain pun membawa mereka ke rumah sakit. Setelah semua anak sudah mendapatkan perawatan, Rain baru ingat pada Rania.


     Pintu gerbang rumah Fatih terbuka dan Rain langsung melaju ke halaman depan pintu rumah mertuanya. Dia pun berlari masuk ke dalam untuk menjemput istrinya.


"Rain, ada apa?" tanya Mentari ketika melihat menantunya.


"Bun, Nia ada di mana?" tanya Rain dengan napas terputus-putus.


"Bukannya Nia sudah pulang ke apartemen," jawab Mentari karena Fatih sudah mengantarkannya ke sana.


"Oh, syukurlah. Kalau begitu Rain permisi dulu, Bun." Rain pun mencium tangan ibu mertuanya dengan takzim.


***


    Keadaan apartemen sangat gelap. Tidak ada satu lampu pun yang Rania nyalakan. Hanya di kamar gadis itu yang lampunya menyala. Hal ini dapat di lihat dari celah bawah pintu ada cahaya sedikit.


"Nia," panggil Rain dengan mengetuk pintu.


"Kalau kamu masih bangun, tolong buka pintu," kata Rain lagi. Namun, tidak ada sahutan dari dalam.


***


Apa Raihan belum suka sama Alin? Bagaimana kalau Alin nggak ada di sisinya lebih dari satu hari? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim Bunga, Kopi, dan Vote juga. Like dan Komentar juga untuk penyemangat aku 🤗 🤗

__ADS_1


__ADS_2