Duda Vs Anak Perawan

Duda Vs Anak Perawan
#Kediaman Andersson


__ADS_3

     Mobil William memasuki kediaman keluarga Andersson. Asiah begitu terperangah melihat rumah yang begitu megah dan besar. Banyak orang berjaga di sana meski terlihat santai. Bahkan mereka melambaikan tangan ke arah mobil William.


"Uncle, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Bintang begitu membuka jendela mobil.


"Miss Bintang, semua dalam keadaan baik!" Sambil mengacungkan jempol.


"Terima kasih!" balas Bintang.


***


     Terdengar suara tawa anak-anak di halaman samping. Bintang menuntun Asiah menuju ke sana. Terlihat ketiga bocah laki-laki sedang berenang menggunakan pelampung.


     Orang yang pertama kali melihat Asiah datang adalah Rain. Dia mengerutkan alisnya karena tidak mengenal gadis kecil yang bersama Kakak perempuannya.


"Siapa dia, Kak?" tanya Rain.


     Si Kembar pun mengalihkan perhatiannya pada arah pandang sepupu mereka. Betapa senangnya mereka saat melihat gadis berkerudung biru.


"Asiah!" pekik si Kembar bersama.


"Raya ... Ian!" Asiah berlari mendekati bibir kolam renang.


"Asiah? Jadi ini gadis yang dibilang si Kembar itu," gumam Rain.


"Rain, kenalkan ini Asiah," kata Rayyan sambil tersenyum berseri-seri.


"Kamu jangan peluk Asiah kalau nggak mau dimarahi sama Raya," bisik Raihan yang kebetulan dekat dengan Rain.


"Apa aku harus menjauhi dia atau bagaimana?" balas Rain dengan berbisik juga.


"Yang penting kamu jangan dekat-dekat sama dia," lanjut Raihan.


"Baiklah," ujar Rain kemudian dia memasang wajah datarnya.


     Bocah yang lebih muda usianya beberapa bulan dari si Kembar itu hanya mengangguk. Dia tidak orangnya suka bertengkar.


"Namaku Asiah," kata Asiah mengulurkan tangannya pada Rain.


"Iya, sudah tahu. Aku dengar tadi mereka panggil nama kamu. Kamu juga sudah tahu nama aku, jadi kita bisa saling panggil nama langsung," balas Rain.


"Raya ... dia nggak suka sama Asiah, ya? Apa kedatangan Asiah ke sini mengganggu kalian?" tanya Asiah dengan wajah sendu.


"Tidak. Aku senang ada kamu di sini," jawab Rayyan.


"Rain! Kamu jangan galak, ketus, atau sinis sama Asiah! Kalau kamu nggak baik sama Asiah, aku juga nggak akan baik sama kamu!" Rayyan berkata dengan setengah berteriak.


"Aku turuti apa kata Ian. Katanya—"


"Kok, aku?" Raihan melirik sama Rain.


"Iya, kata kamu tadi aku tidak boleh dekat-dekat sama Asiah. Apalagi peluk Asiah. Karena kamu pasti akan marah," lanjut Rain.


"Kamu hanya tidak boleh peluk apalagi cium Asiah. Kamu harus baik dan nurut sama Asiah, jelas?"

__ADS_1


"Iya. Lagian untuk apa peluk sama cium orang lain?" gerutu Rain.


"Bagus! Hanya aku yang boleh peluk sama cium Asiah, yang lain tidak boleh. Ingat itu!" Rayyan memberi peringatan pada kedua anak laki-laki yang memasang wajah kesal.


    Cantika dan William yang duduk tidak jauh dari sana hanya tersenyum. Melihat keposesifan anak kedua pasangan Fatih dan Mentari itu.


"Raya meski masih kecil, sifat posesifnya sudah kelihatan banget," kata Cantika.


"Ya, seperti suami kamu itu, posesifnya nggak ketulungan. Sifat itu turun sama Shine dan Sky. Untungnya sifat Rain banyak mirip sama kamu." William bicara dengan masih memperhatikan keempat bocah itu. Teringat akan putranya yang sudah meninggal.


"Rain itu lebih lembut dan polos. Kadang Alex selalu merasa khawatir akan masa depannya jika harus seperti kakak-kakaknya," lanjut Cantika.


"Aku dengar kalau dia memilih ingin sekolah di Indonesia?"


"Ya. Dia akan bersama si Kembar di tempatkan di sekolahan yang sama."


"Tahun ajaran depan si Kembar akan masuk SD meski usia mereka baru berusia lima tahun."


"Ya, meski mereka masih kecil tapi soal kelas tiga sudah bisa mengerjakan."


     Si Kembar dan Rain sudah diterima di sekolah dasar. Mereka sudah melakukan uji kemampuan di departemen pendidikan dengan mengerjakan banyak soal-soal untuk melihat kemampuan dan kelayakan sudah bisa masuk sekolah dasar meski usia mereka baru lima tahun.


"Lalu, apa anak kecil itu akan ikut masuk ke sekolah dasar juga bareng si Kembar?" tanya Cantika.


"Tidak tahu. Hanya saja kasihan kalau otaknya dipaksa harus mengikuti cara berpikir mereka bertiga," jawab William sambil melihat ke arah Cantika.


"Aaaaakh!"


Byuuur!


    Tawa dia terdengar renyah saat melihat wajah-wajah cemberut yang menggemaskan dari keempat bocah kecil itu. Asiah masih berada dalam pelukan. 


"Kak Bintang, apa-apa, sih!" teriak Ian.


"Iya, main lompat saja!" Rain ikut sewot.


"Awas!" Terdengar suara dua orang bersamaan.


Byuuur!


Byuuur!


    Suasana di kolam renang semakin ramai dengan kedatangan anak kembar Shine dan Sky. Kedua anak yang beranjak remaja itu ikutan berenang begitu baru  di rumah.


"Kenapa kalian nggak ganti baju dulu?" tanya Bintang.


"Tanggung sekalian mandi," jawab Sky sambil tersenyum.


"Hey, apa gadis kecil ini calon istrinya Raya?" Lanjut Sky.


"Iya!" jawab ketiga anak kecil itu sedangkan Asiah hanya mengangguk.


"Kalau begitu tinggal Ian dan Rain yang belum punya jodoh nih!" Kali ini Shine yang bicara dengan niat menjahili keduanya.

__ADS_1


"Tenang stok wanita di dunia ini masih banyak. Jika dibandingkan dengan laki-laki," ucap Sky.


"Nanti Ian juga mau cari perempuan kayak Bunda," balas Raihan.


"Iya. Aku juga mau kayak Mama," kata Rain.


"Kalian ini ngapain ngomong tentang jodoh sama bocah bau kencur begini," kata Bintang sewot.


"Bukannya Kakak juga waktu kecil sudah punya pacar sampai sekarang. Dan sebentar lagi mau tunangan," balas Shine.


"Asiah, kita juga tunangan, yuk!" ajak Rayyan.


"Ayuk!" balas Asiah dengan semangat.


    Cantika memijat kepalanya dengan menggunakan kedua tangannya. Dia pusing dengan kelakuan anak zaman sekarang.


"Kalian itu masih kecil. Jangan pikirkan soal jodoh!" ujar Cantika frustrasi.


"Tidak apa-apa, kok. Carilah pasangan kalian sedari muda," kata William dengan senyuman nakalnya.


"Yey, Daddy mendukung kita!" teriak bocah-bocah kecil itu.


"Opa Willi, lihat tuh, jadinya mereka merasa dibenarkan dan didukung," ucap Bintang.


***


    Sementara itu, di vila keluarga Clive. Empat orang sedang melakukan video call dengan kedua orang tua Yusuf yang ada di kampung. Tadinya Clive ingin pernikahan putrinya itu diadakan di Amerika saja. Namun, terlihat jelas mimik sedih kedua orang tua Yusuf langsung sendu.


"Mister, saya harap semua keluarga kami di desa juga ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Yusuf dan Zulaikha." Hajar mengutarakan isi hatinya. Ayahnya Yusuf juga mengangguk-anggukan kepala.


"Apa kita boyong semua kaum kerabat kamu ke sini, Yusuf?" tanya Clive sambil melirik ke arah calon mantunya.


"Akan memakan banyak waktu, Pi. Mereka tidak punya paspor. Pasti harus mengurus itu dulu kalau mau datang ke Amerika," jawab Yusuf.


"Kalau Zulaikha memilih menikah di Indonesia, Pi. Maaf, ya Mami. Bukannya Zulaikha tanpa tidak mau mengikuti keinginan kalian berdua. Hanya saja kita tidak boleh menyusahkan orang lain," lanjut Zulaikha.


"Zulaikha, sekarang kamu sudah semakin dewasa," ucap Maharani dan membuat Zulaikha tersipu malu.


"Yusuf ... Zulaikha, nama Asiah?"


Deg!


    Jantung Zulaikha terasa berhenti berdetak saat calon mertua menanyakan anak sambungnya itu. Dia pun memberi kode pada Yusuf untuk menjawab.


"Asiah lagi menginap di rumah saudaranya si Kembar, Bu," jawab Yusuf.


"Kok, kalian biarkan bocah itu menginap di tempat orang lain." Hajar menatap tajam pada Yusuf.


Yusuf dan Zulaikha hanya bisa menelan ludah. Pastinya akan kena omelan lebih lagi kalau tahu alasan kenapa Asiah pergi menginap di sana.


***


Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga. Dukung aku terus. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2