
Sarah duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Zulaikha. Ditatapnya laki-laki yang selalu hadir di dalam mimpi-mimpinya itu. Ada perasaan perih melihat kepala itu kini berbalut perban.
"Apa ini sakit?" Sarah hendak menyentuh kepala Yusuf. Namun, laki-laki itu menghindar sehingga tidak sampai tersentuh.
"Ya, lumayan. Sakitnya masih bisa aku tahan," jawab Yusuf.
Tangan Sarah masih mengambang di udara. Dia agak kecewa dengan penolakan Yusuf barusan.
"Polisi sudah tahu identitas pelaku dan sekarang sedang melakukan pengejaran," jelas Sarah sambil memainkan selimut pasien yang dipakai oleh Yusuf.
"Wah, cepat sekali kerja polisi. Hebat!" balas laki-laki itu dengan seulas senyum yang membuat Sarah tidak bisa memalingkan wajahnya.
"Ya, itu juga dengan bantuan pengacara perusahaan," lanjut Sarah masih dengan menatap Yusuf dengan intens.
"Terima kasih ya, Bu Sarah. Anda memang atasan yang cekatan dan sangat perhatian kepada para pegawainya," ucap Yusuf dan mengalihkan pandangannya kepada atasannya itu.
"Iya, tentu saja. Apalagi ini menyangkut kamu. Aku akan melakukan apapun yang terbaik untuk kamu," ujar Sarah dengan tatapan penuh harap akan balasan perasaan Yusuf padanya.
"Jangan terlalu baik kepada saya, Bu Sarah. Aku takut nantinya akan membuat Anda kecewa dan berakhir dengan rasa benci. Saya tidak mau kalau sampai itu terjadi," tukas Yusuf.
"Aku melakukan semua ini karena aku benar-benar tulus mencintaimu!" Sarah jujur akan perasaannya.
"Maaf, aku tidak bisa membalas perasaan Anda. Aku memandang Anda sebagai atasan yang loyal kepada para pegawai," kata Yusuf menolak secara halus akan perasaan atasannya itu.
"Dari dulu aku sangat mencintaimu. Tidak 'kah aku diberikan kesempatan sekali saja untuk menjalin hubungan dengan kamu!" pinta Sarah.
__ADS_1
"Maafkan aku. Perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Tidak ada sedikit pun terbesit dalam hati atau pikiranku untuk menjalin hubungan asmara dengan Anda," papar Yusuf.
Sarah merasa hatinya terluka akan ucapan Yusuf barusan. Netranya sudah tidak bisa lagi menahan bendungan air mata. Dalam satu kedipan meluncur sudah air mata itu.
Yusuf mau tidak mau harus mengatakan itu. Dia bukan orang yang senang akan perhatian dari para wanita yang menyukainya. Apalagi memanfaatkan mereka.
"Carilah laki-laki yang tulus mencintai kamu. Maka kamu akan merasa bahagia. Karena dicintai dan disayangi olehnya," lajut Yusuf.
"Tapi aku cintanya sama kamu! Tidak ada yang lain," tukas Sarah masih dengan air mata yang berlinang.
"Aku tidak memiliki perasaan itu untukmu, yang ada nantinya kamu akan merasa tersakiti oleh aku. Karena hatiku sudah melabuhkan pilihannya," seloroh Yusuf.
Sarah merasa ada ribuan jarum yang menancap di hatinya, begitu sakit. Dia menekan dadanya untuk mengurangi rasa sakit di sana. Dia menangis tergugu.
"Apakah wanita itu ... Bilqis?" tanya Sarah, tetapi Yusuf diam saja.
"Dia adalah wanita terbaik yang akan menjadi istriku dan ibu bagi anak-anak nanti," jawab Yusuf tidak menyebutkan namanya.
***
Zulaikha mengurus Asiah terlebih dahulu. Gadis kecil itu tadi menangis saat tahu Ayahnya sedang berada di rumah sakit. Namun, tangisannya berhenti saat Zulaikha bilang akan membawanya ke rumah sakit untuk menjenguknya.
"Mama Zulaikha, apa Ayah akan cepat sembuh kalau memakan bubur ini?" tanya Asiah saat melihat Zulaikha baru selesai membuatkan bubur untuk Yusuf. Tentu saja setelah dia nonton YT terlebih dahulu.
"Tentu saja, Sayang. Karena Mama Zulaikha membuatnya dengan penuh cinta!" seru si anak perawan itu dengan bangga.
__ADS_1
Zulaikha sudah siap dengan berdandan rapi dan cantik. Dia menuntun Asiah dan menenteng paper bag berisi bubur buatannya. Sementara Yunus sudah menunggu di parkiran sambil mengerjakan tugas lainnya.
"Om Yunus, sudah lama menunggu. Pastinya merasa bosan, ya?" Asiah menyapa Yunus yang sedang memangku laptop dan jari-jari tangan menari di atasnya.
"Hai, gadis cantik. Om Yunus tidak akan bosan menunggu kalau yang ditunggunya adalah para gadis cantik," sapa Yunus sambil melirik pada Zulaikha yang terlihat sangat berbeda saat ini. Nona mudanya itu terlihat sangat cantik mempesona.
"Ayo, kita berangkat!" ajak Zulaikha.
"Kamu sengaja berdandan begitu cantik hanya untuk menemui si Duda," bisik Yunus.
Zulaikha yang kesal akan sindiran Yunus langsung menendang tulang kering pemuda itu. Sehingga dia mengaduh kesakitan. Zulaikha pun tersenyum puas.
***
Seseorang memandangi layar yang menampilkan Zulaikha yang sedang berada di parkiran apartemennya. Terdengar suara siulan dari mulutnya.
"Oh, Nona manis kini kamu tumbuh sebagai wanita yang begitu cantik. Aku jadi menginginkan dirimu!" serunya di iringi kekehan.
"Zulaikha, akan aku buat hidupmu seperti di neraka!" desisnya.
***
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Tunggu kelanjutannya ya! Jangan lupa untuk selalu klik like, komentar, favorit, hadiah, dan Vote-nya juga ya. Dukung aku terus. Terima kasih.
__ADS_1