
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, kasih like dan komentar. Semoga hari kalian menyenangkan dan sehat selalu.
***
BAB 143
Zulaikha sedang memeluk tubuh Yusuf dari belakang sedangkan Yusuf sendiri sibuk memasak. Katanya istri tercinta ingin sarapan nasi goreng yang dibuat dengan penuh cinta.
"Coba, Sayang. Kurang apa?" tanya Yusuf sambil menyuapi satu sendok nasi goreng itu pada Zulaikha.
"Hm, enak!" jawab Zulaikha lalu memberikan ciuman di pipi suaminya.
"Tidak kepedasan?" Yusuf takut sakit gigi Zulaikha kambuh seperti lusa kemarin dan membuatnya repot karena dia marah-marah terus.
"Tidak, Ang. Sudah enak sekali rasanya. Nanti aku akan minum susu murni agar tidak panas perut aku," ucap Zulaikha.
Zulaikha menghabiskan nasi goreng itu seorang diri. Hal yang tidak diduga oleh Yusuf. Dia mengira kalau istrinya tidak akan menghabiskan nasi goreng itu karena itu porsi untuk tiga orang laki-laki dewasa.
"Sayang, lapar banget, ya?" tanya Yusuf sambil menatap ke arah Zulaikha yang baru selesai minum.
"Tadi, iya. Sekarang sudah tidak," jawab Zulaikha dan memejamkan matanya saat Yusuf mengusap bibirnya.
"Hari ini katanya ada janjian dengan Asiah?" tanya Yusuf.
"Iya, mau pergi menonton bioskop," jawab Zulaikha.
Yusuf terkejut mendengar ucapan istrinya karena terakhir kali mereka ke bioskop itu 3 tahun lalu. Saat itu terjadi suatu insiden dimana Zulaikha mendapatkan pelecehan dan Asiah marah. Lalu, dia menghajar laki-laki yang sudah menyentuh bokong ibu sambungnya, sampai masuk ke rumah sakit. Setelah mereka tidak pernah pergi ke bioskop lagi. Jika ingin menonton film layar lebar, Rayyan akan membeli hak siar dan memutarnya di mini bioskop yang ada di rumah Fatih atau rumah kakeknya.
"Tumben. Ingin menonton film apa?" tanya Yusuf.
"Langlayangan pegat (kalian tahu film yang dulu viral itu😎)," jawab Zulaikha.
"Kali ini hati-hati, ya!" pinta Yusuf.
"Itu karena aku cantik, Ang. Dan banyak yang menyangka kalau aku ini seorang mahasiswa," balas Zulaikha sambil tersenyum menggoda.
"Hem, sudah punya cucu banyak, ingin dibilang masih gadis," ucap Yusuf sambil mencubit pipi Zulaikha.
"Ih, itu kata orang-orang dan aku hanya mengulanginya saja," kata Zulaikha dan Yusuf malah mendelikkan matanya.
***
__ADS_1
Bukan hanya Zulaikha dan Asiah yang pergi menonton film di bioskop. Ada Rania, Chelsea, Alin, Mentari, dan Cantika. Kebetulan mereka sedang senggang, apalagi anak-anak mereka sedang bersama kakek-kakek dan ayah mereka.
"Hari ini waktunya emak-emak bersenang-senang!" teriak Alin dengan penuh semangat.
"Alin, kenapa bunda kamu tidak ikut?" tanya Mentari yang kebetulan besannya itu menginap di rumah Raihan yang kini tinggal di rumah yang dulu ditinggali Khalid. Tepat di samping rumahnya.
"Bunda itu lebih senang bermain dengan cucu-cucunya. Apalagi belakangan Alin jarang menginap di rumah bunda," jawab Alin.
"Bukannya setiap Sabtu dan Minggu kalian menginap di rumah bunda kamu?" tanya Mentari.
"Sudah dua bulan ini kami tidak pernah menginap di sana," jawab Alin.
"Kenapa? Kalian tidak boleh begitu. Kasihan ayah dan bunda kamu," ujar Cantika.
"Ini gara-gara Kak Ian, Bun. Katanya Alin harus punya anak lagi. Jadinya, kita sedang bekerja keras. Apalagi kalau hari libur kantor, pastinya Alin yang giliran kerja keras, sampai badan pegal-pegal," kata Alin frontal.
Cantika dan Mentari bingung harus bagaimana menanggapi obrolan Alin. Hanya dengan senyuman itu sudah cukup sebagai reaksi mereka.
Sebenarnya acara menonton bioskop ini adalah ngidamnya Chelsea. Dia ingin pergi ditemani oleh teman-temannya. Tadinya dia mau pergi bersama Bintang, tetapi ada telepon dari si kembar dou M yang menyuruhnya untuk datang ke Mekkah saat itu juga. Kebetulan yang lainnya juga ingin menonton film yang viral dulu novelnya itu. Mereka sangat penasaran sekali.
Film yang mereka tonton itu adalah penghianatan seorang suami terhadap istrinya. Laki-laki itu lebih memilih selingkuhannya dan menceraikan istrinya.
Mereka yang menonton sampai nangis-nangis dan mata mereka bengkak. Begitu juga para wanita itu, mereka menangis tiada hentinya. Kadang umpatan untuk tokoh suami dan si pelakor terucap dari mulut mereka (Ya, nggak beda jauh sama emak-emak yang marah-marah kalau nonton sinetron😆).
"Hussss, kamu tidak boleh mendoakan keburukan untuk orang lain," kata Mentari.
"Semoga saja si tokoh utama wanita itu jauh lebih bahagia hidupnya," kata Rania.
"Iya, terserah pasangan saklek itu mau gimana kehidupannya. Semoga si tokoh utama hidup lebih bahagia dibandingkan dengan mereka," kata Chelsea.
"Mau-maunya dia menggoda laki-laki yang sudah punya istri. Itu tandanya dia wanita tidak benar," lanjut Alin.
"Pelakor itu memang bikin para istri meresahkan," ucap Asiah.
"Tidak! Bagaimana kalau ada pelakor yang berniat merebut suami aku. Kak Ian 'kan tampan, banyak uangnya, hebat lagi di atas ranjang. Aku harus waspada pada para wanita yang ada di sekitarnya," ujar Alin dan membuat para wanita yang bergelar istri itu jadi ikut-ikutan was-was.
***
Efek gara-gara menonton film itu adalah para istri itu langsung menyidak handphone milik suami mereka. Memeriksa nomor kontak dan pesan yang diterima atau yang dikirim. Tentu saja hal ini membuat aneh para suami itu karena mereka tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan.
Bahkan keesokan harinya para istri itu ikut ke kantor dan anak-anak mereka pun dibawa serta. Lagi-lagi para suami merasa heran, tetapi membiarkan karena mereka malah merasa senang didampingi.
__ADS_1
Malam harinya pun mereka berpenampilan dengan lebih menggoda dan agresif. Meski merasa ada yang aneh, para suami itu merasa senang dengan istrinya yang seperti ini. Malam mereka menjadi panas dan menyenangkan.
Hal yang paling mencolok adalah saat ada rekan kerja sama itu adalah seorang wanita maka dengan tegas para istri itu menolak proposal kerja sama mereka. Lalu, menyuruh kembali ajukan dengan seorang laki-laki yang mengurus kerja sama itu.
"Sayang, ada apa? Kenapa belakangan ini kamu aneh sekali?" tanya Yusuf pada istrinya.
"Pokoknya sekarang Aang tidak boleh dekat-dekat dengan yang namanya wanita. Kecuali sama keluarga sendiri. Aku tidak suka!" jawab Zulaikha.
"Kenapa?" tanya Yusuf karena selama ini dia tidak pernah dekat secara khusus pada rekan-rekan kerja atau rekan bisnisnya.
"Bisa saja nanti mereka menggoda Aang. Lalu, Aang jatuh ke dalam pesona si pelakor itu. Aku tidak rela. Tidak ridho!" pekik Zulaikha.
"Pelakor?" Yusuf tidak mengerti.
Zulaikha menceritakan cerita film yang di putar di bioskop yang beberapa hari yang lalu sudah ditontonnya. Dia juga bilang kalau itu diambil dari kisah nyata si pengarang novel yang viral.
Yusuf hanya diam mendengarkan setiap apa yang dikatakan oleh istrinya. Dia pun tersenyum kecil karena istrinya itu begitu menggebu-gebu menceritakan jalan cerita film ini.
"Sayang, nama mungkin aku akan selingkuh. Karena kamu sudah mencuri hati aku sepenuhnya," kata Yusuf dan membuat Zulaikha tersipu merona karena mendengar gombalan suaminya.
"Janji, Aang tidak akan jatuh pada pesona wanita lain!" Zulaikha menatap lekat Yusuf.
"Insha Allah, hanya maut yang akan memisahkan kita. Tidak ada niatan melihat pada wanita lain," lanjut Yusuf.
***
Bagi Rayyan, Rain, Raihan, dan Mega kelakuan istri mereka sekarang malah terlihat menggemaskan. Bahkan mereka dengan senang hati agar istrinya itu merangkap jadi asisten. Sebab, para klien wanita menjadi tidak berani menatap wajah mereka.
"Aku malah senang, ya. Gara-gara film itu Rania jadi semakin posesif dan agresif sama aku," kata Rain.
"Sama, apalagi Asiah. Dia aku tinggal ke toilet saja ikut. Dia bukan hanya sama wanita saja, jika ada laki-laki melihat atau menatap aku lebih dari sepuluh detik dia akan memberikan peringatan," ucap Rayyan.
"Kenapa?" tanya Raihan.
"Dia takut kalau laki-laki itu dari golongan pelangi," jawab Rayyan.
"Kalau Chelsea justru suka mengingatkan aku. Saat pergi ke kantor. Begitu sampai ke kantor, pokoknya satu jam sekali dia terus memeriksa aku lewat video call," ucap Mega.
"Apa mereka meragukan cinta kita?" tanya Raihan dan yang lainnya saling menatap.
***
__ADS_1
Jangan lupa kasih bunga, kopi, atau vote. Dukung aku terus.