Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Bayi Kevin Menangis


__ADS_3

Ketika Raja sedang sibuk mencari dayang Emma yang tengah mencuri kalungnya, Eliana sedang merasa rapuh seorang diri dalam kamarnya.


Gadis itu menggigiti kukunya sendiri. Dia gelisah karena sang Raja telah mencurigainya, dia juga gelisah karena permintaan sang ibu tiri yang disampaikan melalui suratnya.


"Bagaimana ini?" Eliana yang sedang bingung duduk di atas ranjang sambil memeluk lututnya yang terlipat.


Ia pun mendengar bayi Kevin yang menangis. Selama tiga hari terakhir, sang bayi sering menangis dengan kencang dan durasi yang cukup lama.


"Cup cup, sayang ...," ujar Eliana berusaha menenangkan bayi Kevin seperti biasanya.


Menolak disusui, bayi Kevin terus menangis dan malah bertambah kencang.


"Jadi, apa maumu, sayang?" Eliana sudah merasa sangat bingung.


Ia rubah posisi gendongannya, ia hibur sedemikian rupa, bayi Kevin masih tidak mau diam.


Gadis ini bingung harus meminta bantuan siapa? Tidak ada dayang yang membantunya lagi semenjak dayang Emma ditangkap kemarin. Lagipula dayang itu juga tidak pernah membantu apapun pada Eliana ketika dia ada.


Karena masalah yang bertumpuk-tumpuk pada pikirannya, serta bayi Kevin yang terus menangis, membuat Eliana semakin stres saat ini.


Tanpa tau ia harus melakukan apa, keluar dari kamar pun tak bisa, mencari pertolongan pun tak mungkin. Eliana akhirnya memutuskan untuk memeluk bayi Kevin sambil duduk di tepi ranjangnya dan ikut menangi tersedu-sedu.


"Kevin, Mama nggak ngerti harus apa? Kamu apa, Sayang?" tanya Eliana sambil menahan isak tangisnya.


Tanpa menjawab pertanyaan ibu susunya, bayi Kevin hanya meronta-ronta dan terus gencarkan tangisannya.

__ADS_1


"Ya Lord! Aku tak mengerti lagi, ada apa dengan bayi Kevin?"


Wajah keduanya sudah sama-sama sembab. Bayi Kevin benar-benar terlihat memerah karena terus menangis, begitu pun dengan Eliana.


Hingga satu setengah jam berlalu, bayi Kevin akhirnya mau untuk disusui dan tertidur bersama di atas ranjang Eliana.


Lelap bersama sang bayi, beberapa waktu kemudian Eliana pun bangun. Ia benar-benar pusing karena telah menangis cukup lama.


Hidungnya masih tersumbat oleh cairan karena ia banyak mengeluarkan air mata. Matanya pun sembab dan rambutnya berantakan juga sedikit basah yang sepertinya terkena keringat.


Ngik ngik ngiiik


Eliana terkejut mendapati napas bayi Kevin berbunyi seperti itu. "Apa dia sesak napas?" tanya Eliana.


Gadis itu pun meraba tubuh bayinya. "Panas, Ya ampun, Kevin kamu demam." Eliana langsung panik, karena di kamarnya sama sekali tak ada persediaan obat-obat darurat untuk situasi seperti ini.


Perlahan-lahan ia putar knop, dan berusaha membuka pintu.


"Aiiish, dikunci," keluh Eliana.


Tok tok tok


Eliana mengetuk pintu dengan hati-hati, ia takut ketukan pintunya membangun bayi Kevin.


"Kenapa harus dikunci, sih!" gerutu ibu susu dari bayi Kevin tersebut.

__ADS_1


Tok Tok Tok


Eliana mengetuk pintu lagi.


"Apa penjaga ada di luar sana?" Eliana mulai ragu, apakah ada orang di depan kamarnya?


"Penjaga! Penjaga! Tolong buka pintunya! Penjaga! Kalian ada di dalam, 'kan?" teriaknya lagi.


Tidak ada jawaban dari luar.


"Bayi Kevin demam, aku bingung harus apa. Kumohon buka pintunya," pinta Eliana dengan suara memelas.


Masih tidak ada jawaban.


"Tolong, panggilkan seorang dokter ke mari! Di sini tidak ada persediaan obat!"


Cklek cklek


Knop pintu pun bergerak.


Krieeet


Pintu akhirnya dibuka.


"Penjaga, tolong panggilkan dokter untuk bayi Kevin ke mari!" pinta Eliana sambil memegang lengan salah satu penjaga yang membuka pintunya.

__ADS_1


"Eliana!" Suara tegas itu menginterupsi pada apa yang dilakukan Eliana. Gadis itu melepaskan tangannya yang sedang memegang pada lengan seorang penjaga.


Dengan perasaan takut, ia pun mendongak melihat pada orang yang memanggilnya itu. "Ya-Yang Mulia."


__ADS_2