Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Diskusi Bertiga


__ADS_3

Bukan siapa-siapa lagi, sudah pasti sang ibu yang menjadi tujuan sang putri. Wanita cantik yang paling bijaksana untuk hidup putri Estelle yang kini ia hampiri.


 


 


Rasa terkejut dan sulit menerima menggelora dalam hatinya. Kenapa pangeran Arshlan berniat menjadikannya sebagai seorang ratu, di saat sang pangeran itu sendiri sering menyebutnya sebagai seorang yang manja dan cengeng? Bukankah kualifikasi seorang ratu harus jauh-jauh dari sifat demikian.


 


 


"Ibunda ...," panggil putri Estelle. Tampak sang ibunda sedang bersama para dayang membereskan pakaian mereka. Karena sebentar lagi mereka memutuskan untuk kembali ke Noirland. Kondisi kesehatan ratu Allura pun kembali lebih baik.


Sebenarnya, putri Estelle sendiri sudah memiliki pilihan sendiri mengenai tawaran pangeran Arshlan. Dalam hatinya, ia ingin berkata tidak. Baik untuk menjadi ratu Yorksland, apalagi menjadi selir Danishian.


Segala hal yang didasarkan keinginan, tidak sulit untuk memilihnya bukan? Kita tinggal menolak bila kita tak ingin. Lalu kita boleh terima jika kita memang ingin.


Ya, tapi itu juga bila putri Estelle bisa menolak. Sayangnya, sang putri tak bisa menolak. Maka dari itu, ia butuh pendapat ibunya untuk menjadi dasar dari semua pilihannya.


“Kenapa, sayang?” Sang bunda menoleh mendengar suara putri Estelle memanggil namanya.


Putri cantik itu berjalan dengan mendekat pada ibunya. Duduk di samping ratu lalu menyandarkan kepala pada bahu wanita yang telah melahirkannya.

__ADS_1


“Ada apa?” Sang ratu memeluk kepala anaknya dari samping.


“Ada yang ingin aku bicarakan,” ucap putri Estelle menegakkan kembali bahunya.


Para dayang yang sedang menyusun baju-baju sang ratu pun menoleh pada mereka berdua. Ratu Allura menggerakkan sedikit kepalanya, sebagai kode agar para dayang meninggalkan mereka berdua.


“Katakanlah!” ujar ratu Allura setelah dayang-dayang di kamarnya pergi.


Tok tok tok


Terjeda. Obrolan yang belum dimulai itu harus berhenti sejenak karena ada seseorang yang mengetuk pintu.


“Siapa?” teriak sang ratu dari dalam.


Spontan, putri Estelle langsung merubah posisi duduknya menjadi di belakang ibunya. Ia meremas gaun milik ratu Allura untuk menyalurkan rasa gugup dan takutnya. Ratu Allura menatap anaknya.


“Ada apa, sayang?” tanyanya heran.


Namun Ratu Allura malah bangkit dari posisinya dan langsung berdiri. Ia berjalan menuju ke arah pintu.


“Ibu …,” rengek putri Estelle seakan melarang ibundanya pergi.


“Kenapa?”

__ADS_1


Putri Estelle tak menjawab, hanya mengekor ke mana ibunda pergi.


Sang dayang pun langsung membuka pintu begitu melihat ratu Allura dan putri Estelle telah sampai di pintu. Terlihat pangeran Arshlan sedang tersenyum tepat di depan pintu kamarnya.


“Ananda arshlan? Ada yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya sang ratu begitu menatap pangeran Arshlan.


“Iya, Yang Mulia. Apa Yang Mulia berkenan untuk memberi saya waktu?” pinta sang pangeran secara halus.


Sang ratu mengangguk. “Ayo, kita bicara di dalam!” ajak ratu Allura.


Ratu Allura berbalik terlebih dahulu dan masuk kembali ke kamarnya. Sementara itu, putri Estelle masih menatap tajam pada pangeran Arshlan.


Sang pangeran tak menggubris tatapan sang tuan putri. Dia selonong masuk ke dalam kamar tersebut namun mendapat hadangan dari putri Estelle.


“Mau apa ke mari?” tanya sang putri sinis.


Pangeran Arshlan belum menjawab. Matanya melirik ke bawah dan memperhatikan sang putri yang mencegatnya.


“Ingin bertemu ibumu.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2