
"Untuk para prajurit yang telah dilumpuhkan, apa mereka sudah sadarkan diri?"
"Sebagian sudah, kau bisa memeriksa mereka ke asrama prajurit."
"Aku akan mencari tahu siapa yang telah berbuat demikian."
"Kepala dayang, jika bisa, tolong kau hubungi pangeran Arshlan. Karena penculikan sang putri bisa jadi ada hubungannya dengan sang pangeran."
"Baiklah akan aku lakukan, jika kau berpikir demikian."
Kepala dayang dan salah satu prajurit itu pun berpisah menuju ke tujuan masing-masing.
*
"Igor, apa pangeran Aro tahu mengenai tujuan kepergian kita ke Noirland?" tanya pangeran Arshlan pada salah seorang murid mahaguru Respati yang menjadi tangan kanannya.
Saat ini, sang pangeran sedang mempersiapkan keberangkatannya bersama ratu Maria menuju ke Noirland.
"Sepertinya dia tahu, bahkan para warga sekitar pun telah membicarakannya sebelum pangeran datang menjemput Yang Mulia Ratu. Sepertinya mereka sangat tidak sabar untuk melihat calon ratu di istana ini," jawab Igor.
"Tapi ini terlalu aneh," duga sang pangeran.
__ADS_1
"Maksud anda, Pangeran?"
"Bukankah pangeran Aro dan antek-anteknya terlalu tenang jika mereka sudah mendengar berita ini? Apa dia tidak merasa terancam?" gumam sang pangeran lagi.
Igor mengangguk-angguk membenarkan dugaan pangerannya. "Anda benar, Pangeran. Bahkan dua hari ini, hamba sama sekali tidak melihat anak buah pangeran Aro berkeliaran. Entah itu di sekitar istana ataupun di sekitar padepokan."
"Perasaanku tidak enak. Lebih kau segera cari tahu!" titah pangeran Arshlan pada Igor.
"Baik, Pangeran."
Igor pun pergi meninggalkan sang pangeran yang menuju ke tempat mahagurunya.
"Berdirilah! Baru saja aku ingin memanggilmu, Pangeran!" Mahaguru Respati berbalik dan menatap pada muridnya.
"Apakah ada yang Mahaguru ingin sampaikan padaku?" tanya pangeran Arshlan dengan nada merendah.
"Peta tambang emas Raisilian yang sempat diperebutkan satu tahun yang lalu oleh Noirland, apa kau ingat?" Mahaguru mengusap janggut panjangnya sambil bertanya.
"Iya, aku mengingatnya, Mahaguru. Ada apa dengan peta itu? Bukankah peta itu telah hilang? Bahkan raja Gerald hanya berhasil menemukan laboratorium tempat menyimpan hasil rakitan kendaraan tambang saja. Tidak ada peta di sana," jawab sang pangeran kebingungan.
"Kau benar! Karena peta itu, ternyata ada di Noirland."
__ADS_1
"Apa?"
Rasa tak percaya merayapi pangeran Arshlan. Dari mana gurunya tau semua ini? Kalaupun ada di Noirland, mengapa sang putri dan juga dirinya tidak menyadari. Bahkan selama hidupnya, ratu Allura tak pernah mengatakan sesuatupun tentang peta itu.
"Dari mana mahaguru tau itu semua?"
"Ada seorang murid yang diminta menerjemahkan tulisan kuno oleh salah satu anak buah pangeran Aro. Dia mengatakan jika isi dari tulisan itu, adalah letak dari tambang emas Raisilian berada."
"Seorang murid dari padepokan ini diminta menerjemahkan? Apa mereka tidak takut kita mencuri informasinya?"
"Pangeran Aro pasti sudah bisa membacanya. Aku yakin, anak buah yang meminta dibacakan ini adalah pembelot yang juga ingin mengetahui isi tulisan itu, sehingga ia sengaja menyalin dan meminta dibacakan."
Pangeran Arshlan mengiyakan. "Lalu ... jika disimpan di Noirland, kenapa selama ini aku tidak tau. Apa keluarga kerajaan Noirland menyembunyikan dariku?" Pangeran bertanya-tanya sendiri. "Rasanya tidak mungkin," elaknya.
"Mereka menemukan peta itu di kamar selir Sofi. Peta itu tidak bergambar, melainkan berisi kata-kata yang menjadi petunjuk arah dan ditulis dengan bahasa kuno. Pantas saja jika banyak yang tidak menyadari jika itu adalah sebuah peta."
"Tunggu ... jadi mereka menyusup ke istana Noirland untuk mengambil peta itu?" Sang pangeran terkesiap seakan baru menyadari sesuatu.
"Sepertinya begitu," jawab mahaguru.
"Gawat! Bisa jadi putri Estelle dan Ibu suri sedang dalam bahaya."
__ADS_1