Suamiku Seorang Raja

Suamiku Seorang Raja
Kabar Penculikan


__ADS_3

"Kenapa mereka belum juga kembali?" Para dayang mengeluh karena mereka tidak bisa melanjutkan kegiatan mendekorasi istana.


"Ini sudah satu jam lebih, tapi mereka belum ada yang datang membawa bunga. Bahkan tuan putri juga belum kembali," ujar salah seorang dari mereka.


"Kita kerjakan yang lain saja!" Seorang yang lain dari mereka berinisiatif.


Tak lama kemudian, ibu suri dan kepala dayang istana muncul dan memantau mereka.


"Apa dekorasinya belum selesai?" tanya sang ibu suri.


Para dayang melepaskan pekerjaannya dan membungkuk karena kedatangan mereka berdua.


"Ini baru setengahnya, tapi dekorasi ini sangat indah. Kalian memang berbakat," puji ibu suri lagi ketika melihat hasil karya para dayang di aula istana.


Para dayang tersipu mendapat pujian itu. "Ini adalah rancangan tuan putri, kami hanya menyusun sesuai keinginannya," jawab salah seorang dari mereka.


"Baiklah, sekarang kerjakan lagi pekerjaan ini, agar semuanya lebih cepat selesai." Sang kepala dayang berkata.


"Ngomong-ngomong, ke mana tuan putri? Bukannya tuan putri juga ikut mendekorasi?" tanya sang kepala dayang kemudian.


"Itu ... emm ...."


"Jadi tuan putri sedang mencari bunga."

__ADS_1


"Iya, benar. Tuan putri bersikeras ingin mencari bunga, padahal tadi kita yang akan mencarinya."


"Dia sudah pergi sejak tadi."


Para dayang menjawab pertanyaan kepala dayang secara bersahutan.


"Tolong ... tolong ...."


Suara teriakan yang parau muncul dari koridor.


BLAK


Pintu aula terbuka dengan keras.


"Hei ... ada apa?"


"Kau kenapa, Penny?" Seorang dayang menanyainya. "Mana keranjang bungamu? Mana pula tuan putri dan Yola?"


Dayang yang bernama Penny itu terengah-engah. Ia memegangi roknya yang kotor terkena noda tanah.


"Tuan putri ...."


"Kenapa tuan putri?"

__ADS_1


Di tengah kepanikan itu beberapa orang prajurit ikut masuk setelah dayang Penny.


"Lapor, Yang Mulia. Kami gagal menangkap penyusup. Banyak prajurit yang telah dilumpuhkan oleh mereka untuk diambil seragamnya, kami kekurangan pasukan."


Prajurit itu memberi laporan mengejutkan yang membuat ibu suri menjadi sesak napas.


"Ibu suri!" Kepala dayang langsung menangkap ibu suri yang hampir terjatuh sambil memegangi dadanya.


"Apa ... cu ... cuku di ... culik oleh pe ... nyusup itu?" tanya nya di tengah napas yang tersendat-sendat.


"Maafkan hamba , Yang Mulia." Prajurit itu menundukkan kepalanya karena merasa gagal menjalankan tugasnya.


"Ibu suri ...." Kepala dayang histeris karena ibu suri yang langsung tak sadarkan diri dalam dekapannya setelah mendengar berita tersebut.


Wanita tua itu sangat terguncang pastinya jika seandainya terjadi sesuatu pada putri Estelle. Pasalnya, raja Jeremy dan ratu Allura telah tiada, jika tak ada putri Estelle siapa lagi yang akan menemani masa tuanya.


Para dayang langsung menghentikan tugasnya dan bahu-membahu membawa ibu suri ke kamarnya. Sementara itu kepala dayang sibuk mencari informasi apa sebenarnya yang terjadi.


Kerajaan ini bagaikan ayam kehilangan induknya. Memang benar, ini adalah titik terendah kerajaan Noirland. Jika seseorang ingin meruntuhkan kuasa keluarga kerajaan, maka ini saatnya. Maka dari itu kepala dayang berpikir, jika penculikan sang putri ada hubungannya dengan usaha seseorang untuk menggulingkan keluarga kerajaan.


"Prajurit, coba kalian telusuri jejak para panyusup itu pergi!" titah kepala dayang.


"Baik!"

__ADS_1


"Untuk para prajurit yang telah dilumpuhkan, apa mereka sudah sadarkan diri?"


"Sebagian sudah, kau bisa memeriksa mereka ke asrama prajurit."


__ADS_2